Tag: Tumbuhan inang

Sarang Semut Papua Nugini

Sarang Semut Papua

Sarang semut adalah tumbuhan asal Asia Tenggara yang menjadi salah satu flora endemik di Papua Nugini Indonesia. Tumbuhan ini memiliki lubang-lubang menyerupai sarang semut, dan tumbuh dicabang-cabang pohon besar didalam hutan.

Cara hidup tumbuhan unik ini dengan sama seperti benalu, yang mana sarang semut ini akan bergantung dan mengambil kebutuhan nutrisinya dari pohon yang ia tunbuhi tersebut. Sarang semut sangat banyak ditemukan di daerah Papua, dan ia tumbuh liar di hutan-hutan sekitar Pulau yang memiliki nama lain Mutiara Hitam ini.

Tumbuhan ini tidak berbuah, berbentuk seperti namanya yakni sarang semut, dan berbatang tunggal yang tidak memiliki cabang, serta berdaun hijau. Akar umbi sarang semut terjuntai pada cabang-cabang tanaman, dengan jumlah yang cukup banyak. Sementara bongkot tanaman ini berwarna coklat keabu-abuan, mengembang sesuai pertumbuhan, dan banyak ditumbuhi duri-duri kecil.

Meski tumbuhan ini tidak berbuah, namun sarang semut memiliki manfaat yang dapat digunakan sebagai obat herbal. Belakangan ini sarang semut dimanfaatkan oleh masyarakat Papua untuk diolah sebagai obat, dan penduduk Papua menyebut sarang semut sebagai tanaman jenis obat herbal.

Sarang semut dengan ukuran diameter sekitar 25 cm yang menempel pada tumbuhan inangnya, terdapat kandungan senyawa aktif yang dapat digunakan untuk menjaga kesehatan bagi tubuh manusia. Hal ini sudah diteliti oleh Lembaga Penelitian Indonesia (LIPI), bahwa sarang semut banyak mengandung antioksidan polifenol, flavonoid, tannin, dan beberapa mineral seperti kalsium, magnesium, zinc, fosfor, dan natrium.

Selain itu, sarang semut juga kaya akan vitamin E dan C yang terkandung dengan kadar cukup tinggi didalamnya. Sementara khasiat dari tanaman endemik Papua ini adalah, dapat mengobati berbagai macam penyakit antara lain seperti malaria, hepatitis, rematik, hingga penyakit yang sering dialami oleh wanita yakni keputihan.

Sarang semut merupakan salah satu obat herbal asli Indonesia yang dikonsumsi, dan tanaman ini tidak dapat dibudidayakan karena tanaman jenis ini hanya hidup dengan cara bergantung pada cabang pohon tinggi lainnya yang ada di dalam hutan.