Tag: Satwa Indonesia yang dilindungi

9 Fauna Indonesia Yang Dilindungi

Indonesia memiliki kekayaan yang terdiri dari kumpulan flora dan fauna terlengkap didunia. Berikut adalah beberapa jenis fauna yang menghuni dan tersebar di wilayah Indonesia.

Kasuari


Kasuari adalah salah satu genus burung di dalam suku Casuariidae. Burung kasuari terdiri dari tiga spesies yang memiliki ukuran sangat besar, namun burung ini tidak dapat terbang. Penyebaran spesies ini adalah daerah hutan tropis dan pegunungan di pulau Irian. Kasuari Gelambir Ganda merupakan satu-satunya jenis burung kasuari yang hanya terdapat di Australia.

Kasuari adalah burung pemangsa dihutan dalam, dan sangat pandai sekali untuk menghilang sebelum manusia bisa menemukan keberadaan mereka. Ukuran kasuari betina lebih besar dan mempunyai warna lebih cerah dibandingkan sang jantan. Burung ini bisa mencapai tinggi dari 1,5 hingga 1,8 meter, terkadang sang betina dapat mencapai tinggi hingga 2 meter dan memiliki berat hingga 58,5 kg.

 

Elang Jawa


Burung Elang Jawa atau dengan nama latin Nisaetus Bartelsi merupakan salah satu spesies elang yang memiliki ukuran tubuh sedang. Elang Jawa identik dengan lambang negara Republik Indonesia, yaitu Garuda. Dan sejak 1992, burung Elang Jawa ditetapkan sebagai maskot satwa langka Indonesia, serta hewan endemik di Pulau Jawa.

Keberadaan Elang jawa bisa dibilang sangat terbatas di Pulau Jawa, hanya ada dari ujung barat Taman Nasional Ujung Kulon hingga ujung timur di Semenanjung Blambangan Purwo. Penyebaran burung ini kini sangat terbatas di wilayah-wilayah dengan hutan primer dan di daerah perbukitan berhutan. Karena sebagian besar burung ini ditemukan dibelahan selatan Pulau Jawa, dan burung ini berspesialisasi pada wilayah berlereng.

 

Beruang Madu


Beruang madu atau Helarctos Malayanus adalah jenis beruang yang paling kecil dari delapan jenis beruang yang ada di dunia. Beruang madu merupakan fauna khas Bengkulu, dan beruang telah digunakan sebagai simbol dari Provinsi Bengkulu. Hewan ini juga menjadi maskot Kota Balikpapan, dan beruang madu di Balikpapan telah dilindungi disebuah hutan lindung yakni Hutan Lindung Sungai Wain.

Beruang adalah binatang omnivora yang bisa memakan apa saja yang ada dihutan. Mereka akan memakan aneka buah-buahan dan tanaman hutan hujan tropis, dan termasuk tunas tanaman jenis palem. Terkadang si beruang madu akan makan serangga, madu, burung, dan hewan kecil lainnya.

Beruang madu mempunyai peran yang sangat penting bagi penyebar tumbuhan buah berbiji. Pasalnya jika beruang makan buah, biji ditelan utuh sehingga tidak rusak. Dan setelah buang air besar, biji yang ada didalam kotoran tersebut akan keluar dengan bentuk yang sudah tumbuh.

 

Dugong


Dugong atau duyung adalah sejenis mamalia laut yang masih salah satu anggota Sirenia. Hewan mamalia ini mampu hidup dengan usia mencapai 22 sampai 25 tahun. Duyung bukan seokor ikan, karena hewan ini menyusui anaknya dan masih merupakan kerabat evplusi dari gajah. Dugong merupakan satu-satunya lembu laut yang dapat ditemukan dikawasan perairan sekitar 37 negara di wilayah Indo-Pasifik.

Habitat asli dugong meliputi daerah pesisir dangkal hingga dalam dengan suhu hangat minimum 15 sampai 17 derajad celcius. Duyung merupakan mamlia laut herbivora atau pemakan dedaunan. Dugong atau duyung sangat bergantung kepada rumput laut sebagai sumber pakannya, sehingga penyebaran hewan ini sangat terbatas pada kawasan pantai tempat hewan ini dilahirkan.

 

Gagak Banggai


Gagak Banggai adalah burung asli Indonesia yang berada di Sulawesi. Burung gagak banggai merupakan jenis burung dari keluarga burung gagak yang berada di Banggai. Pada tahun 2007, para ahli pernah menyatakan burung ini sudah punah karena keberadaannya yang sudah jarang ditemui.

Dalam beberapa waktu terakih di dalam sebuah ekspedisi ilmiah, pernah dijumpai burung gagak banggai untuk beberapa kali di Pulau Peleng. Kemudian untuk saat ini, IUCN telah mencatat burung Gagak Banggai sebagai satwa yang berstatus sangat terancam punah.

 

Rangkong Gading


Burung Enggang Gading atau Rangkong Gading adalah burung yang memiliki ukuran besar, dengan bentuk paruh yang berukuran besar. Burung ini termasuk burung purba yang masih hidup, dan memiliki nilai budaya yang sangat tinggi di Indonesia.

Di Indonesia, burung istimewa ini disebut sebagai petani hutan sejati. Hal ini disebabkan karena burung enggang merupakan burung pemakan buah yang tidak mencerna biji, dan menyebarkan biji tersebut melalui kotorannya. Burung-burung inilah yang menanam pohon secara alami di hutan lepas Indonesia.

Pulau Sumatera memiliki jumlah terbanyak dengan sembilan jenis burung rangkong, kemudian Kalimantan juga memiliki burung jenis ini dengan jumlah delapan jenis. Hutan Indonesia merupakan habitat nyaman bagi 13 jenis burung rangkong yang tersebar luas di hutan tropis, dan tiga diantaranya bersifat endemik.

 

Kanguru Pohon Mantel Emas


Kanguru pohon mantel emas adalah satwa marsupial atau mamalia yang memiliki kantung diperutnya seperti kanguru pada umumnya, dan kanguru tersebut merupakan kanguru pohon. Kanguru jenis ini merupakan hewan endemik Indonesia yang terdapat di Papua Nugini.

Mamalia bertubuh coklat muda ini biasanya akan memakan buah dan biji-bijian. Bulu halus berwarna coklat merupakan ciri khas dari kanguru ini. Hewan ini juga memiliki ekor yang panjang, serta terdapat motif lingkaran yang menyerupai cincin dengan warna bulu yang lebih cerah.

Hiu Gergaji Sentani


Ikan Hiu Gergaji merupakan ikan laut yang beradaptasi dengan perairan air tawar, yang terkenal dengan sebutan ikan hiu gergaji Sentani. Ciri khas ikan hiu jenis ini adalah memiliki moncong panjang seperti pedang, dengan deretan gergaji kecil yang tumbuh di sisi samping moncongnya.

Ikan endemik Danau Sentani Papua ini memakan udan kecil, dan ikan-ikan kecil yang ada disekitar habitatnya. Ikan hiu gergaji merupakan hewan ovovivipar, atau hewan yang berkembang biak dengan cara bertelur dan beranak. Hiu yang memiliki nama latin Pristis Microdon ini terkenal hingga ke mancanegara dengan sebutan Largetooth Sawfish, yang berarti ikan hiu bergigi besar.

 

Jalak Bali


Burung Jalak Bali adalah jenis burung pengicau berukuran sedang dengan panjang tubuh sekitar 25 cm. Jalak Bali hanya ada di hutan bagian barat Pulau Bali, dan merupakan Hewan Endemik Indonesia yang menghuni Pulau Bali. Burung ini sempat dinobatkan sebagai lambang fauna Provinsi Bali pada tahun 1991 silam.

Tidak semua para pecinta burung di Bali bisa memiliki burung yang unik ini. Hal ini karena burung Jalak Bali adalah burung istimewa, dan jenis satwa endemik yang memiliki keunikan yang tak akan ditemukain di tempat lain selain di Pulau Bali.

Kancil Jawa Kini Masih Di Teliti Oleh IUCN

Kancil Jawa atau Pelanduk Jawa adalah jenis pelanduk yang hidup terbatas di Pulau Jawa dan di Pulau Bali. Hewan ini merupakan salah satu jenis ungulata terkecil di dunia, dan mamalia ini di sebut dalam bahasa Jawa dengan sebutan Kancil.

Kancil sangat mudah untuk dijinakkan sehingga memungkinkan untuk dibudidayakan. Selai itu, sisi lain yang menguntungkan dari hewan mungil ini hanya memakan rerumputan. Sehingga mudah untuk mencari sumber pakan dari si kancil ini. Hewan ini memiliki ukuran tubuh yang kecil, bahkan lebih kecil dari kelinci karena kancil hanya memiliki berat 1,5 hingga 2 kg saja. Panjang kepada dan badan sekitar 360 dan 365 mm, dengan panjang ekor 50 dan 45 mm.

Perilaku dari kancil Jawa ini sama seperti jenis pelanduk lainnya. Binatang ini hidup di tepi hutan lebat di daerah dataran rendah, hingga sampai dataran tinggi dengan ketinggian sekitar 600 m. Kancil sering menjalani kehidupannya secara individual, dan ia akan berkelompok pada saat musim kawin tiba.

Pada saat musim kawin, kancil akan mengandung anaknya selama 150 hingga 155 hari lamanya. Dan ia akan melahirkan 1 atau dua anak dalam sekali lahiran. Hewan ini termasuk golongan hewan nokturnal pemakan rerumputan, dedaunan, semak-semak, dan buah yang sudah jatuh ketanah.

IUCN menerangkan bahwa ia kekurangan data mengenai Kancil Jawa ini, karena kurangnya informasi, serta berkurangnya populasi hewan mungil ini di alam bebas, membuat Badan Perlindungan Satwa harus menetapkan bahwa kancil Jawa adalah hewan terancam punah. Meskipun hewan ini sangat gesit dan lincah saat berlari, namun tetap saja banyak beberapa hewan buas yang mengincarnya.

Selain itu, bukan hanya hewan buas yang mengancam kancil Jawa. Melainkan dari manusia juga memburu hewan ini untuk di perjual belikan, bahkan dikonsumsi karena memiliki daging yang lezat. Akibat dari perburuan liar, dan sedikitnya reproduksi dari hewan ini sendiri membuat populasi kancil Jawa semakin menurun. Berdasarkan peraturan Pemerintah no.7 tahun 1999, Kancil Jawa merupakan satwa yang dilindungi dan tercatat sebagai hewan yang terancam punah.