Tag: Satwa hutan tropis

Burung Pipit

Burung pipit

Burung pipit adalah nama umum untuk sekelompok burung kecil pemakan biji-bijian yang banyak tersebar di daerah tropis. Di Indonesia, burung pipit termasuk jenis hewan yang kurang disukai oleh para petani karena suka memakan biji padi atau biji jagung sehingga merusak tanaman mereka.

Burung pipit memiliki ukuran yang cukup kecil, panjang tubuhnya hanya sekitar 10 sampai 12 cm. Pipit yang paling besar adalah jenis Gelatik Jawa yang panjangnya bisa mencapai 17 cm dengan berat 25 gram. Kendati memiliki ukuran kecil, tetapi umur burung pipit terbilang cukup panjang. Burung pipit bisa hidup mulai dari enam sampai delapan tahun lamanya.

Kebanyakan burung pipit tidak tahan dengan iklim dingin dan memerlukan habitat hangat seperti di wilayah tropika. Namun ada pula sebagian kecil jenis yang beradaptasi dengan lingkungan dingin di Australia selatan. Pipit bertelur 4-10 butir, putih, yang disimpan dalam sarangnya yang berupa bola-bola rumput.

Jenis-jenis pipit (termasuk bondol dan gelatik) senang berkelompok, dan sering terlihat bergerak dan mencari makanan dalam gerombolan yang cukup besar. Burung-burung ini memiliki perawakan dan kebiasaan yang serupa, namun warna-warni bulunya cukup bervariasi.

Burung pipit sangat cepat dalam melakukan repoduksi. Namun hingga sampai saat ini, burung pipit belum dimasukkan ke dalam daftar satwa yang dilindungi. Maka dari itu, tak jarang bebapa orang juga memburu burung yang biasanya memakan padi-padian di sawah ini untuk dimakan dagingnya.

Burung Enggang Gading Istimewa Kalimantan barat

Burung Enggang Gading

Burung Enggang Gading atau Rangkong Gading adalah burung yang memiliki ukuran besar, dengan bentuk paruh yang berukuran besar. Burung ini termasuk burung purba yang masih hidup, dan memiliki nilai budaya yang sangat tinggi di Indonesia.

Pulau Sumatera memiliki jumlah terbanyak dengan sembilan jenis burung rangkong, kemudian Kalimantan juga memiliki burung jenis ini dengan jumlah delapan jenis. Hutan Indonesia merupakan habitat nyaman bagi 13 jenis burung rangkong yang tersebar luas di hutan tropis, dan tiga diantaranya bersifat endemik.

Burung enggang dipercaya sebagai tinggang atau simbol alam atas (alam kedewataan), terutama bagi masyarakat Kalimantan barat. Di Indonesia, burung istimewa ini disebut sebagai petani hutan sejati. Hal ini disebabkan karena burung enggang merupakan burung pemakan buah yang tidak mencerna biji, dan menyebarkan biji tersebut melalui kotorannya. Burung-burung inilah yang menanam pohon secara alami di hutan lepas Indonesia.

Burung rangkong gading jantan memiliki leher yang tidak berbulu dengan warna merah, sementara keher yang terdapat pada betina berwarna biru pucat. Burung endemik Kalimantan ini sangat mudah sekali untuk dikenali, karena ukurannya yang sangat besar. Ciri khas burung rangkong gading, ian memiliki ekor berwarna putih dengan garis hitam melintang.

Pada sayap terdaat garis putih lebar, dan memiliki tanduk berwarna kuning kemerahan tepat di atas paruh. Sedangakan warna paruh berwarna sama kuning kemerahan, warna kaki coklat, dan iris berwarna merah. Burung rangkong tidak dapat berkicau karena bukan jenis burung kicau, dan ia hanya mengeluarkan suara menyerupai terompet yang di tiup berulang-ulang.

Seperti yang kita tahu, jenis makanan burung enggang gading adalah buah-buahan, biji-bijian, dan serangga. Burung ini sangat berguna untuk pelestarian tumbuhan khususnya Ficus sp yang hanya tumbuh di hutan tropis, karena ia akan menyebarkan benih biji yang ia makan melalui kotorannya saat terbang.

Awal penemuan burung berparuh besar ini terdapat di Semenanjung Malaya, Sumatera, dan Kalimantan. Burung langka ini termasuk dalam jenis fauna yang dilindungi undang-undan, dan Burung Enggang Rangkong juga menjadi maskot Provinsi Kalimantan Barat.

Burung enggang gading bersifat monogami, yang berarti burung ini hanya memiliki satu pasangan seumur hidupnya. Ia akan bersarang di pohon yang berlubang dengan ketinggian sekitar 50 m, namun ia hanya mencari pohon dengan lubang alami karena burung enggang tidak bisa membuat lubang sendiri.

Burung enggang rangkong diketahui memiliki masa berkembang biak terlama yakni 150 hari dalam masa penetasan, dan sang betina akan berada di dalam sarang untuk menemani anaknya. Lalu sang jantan akan menutup lubang tersebut dengan menggunakan kotoran dan tanah liat, kemudian ia hanya menyisakan lubang kecil untuk dapat mengeluarkan paruh saat sang jantan memberi makan.

Kini keberadaan burung endemik Kalimantan barat ini sudah sangat mengkhawatirkan dengan jumlah populasinya yang semakin menurun. Selain proses reproduksi yang sangat lama, burung ini juga sering diburu untuk diambil kepalanya dengan dasar perdagangan. Di hutan saat ini sudah jarang terdengar suara burung langka ini.