Tag: Jenis fauna Indonesia yang sudah kritis

Burung Enggang Gading Istimewa Kalimantan barat

Burung Enggang Gading

Burung Enggang Gading atau Rangkong Gading adalah burung yang memiliki ukuran besar, dengan bentuk paruh yang berukuran besar. Burung ini termasuk burung purba yang masih hidup, dan memiliki nilai budaya yang sangat tinggi di Indonesia.

Pulau Sumatera memiliki jumlah terbanyak dengan sembilan jenis burung rangkong, kemudian Kalimantan juga memiliki burung jenis ini dengan jumlah delapan jenis. Hutan Indonesia merupakan habitat nyaman bagi 13 jenis burung rangkong yang tersebar luas di hutan tropis, dan tiga diantaranya bersifat endemik.

Burung enggang dipercaya sebagai tinggang atau simbol alam atas (alam kedewataan), terutama bagi masyarakat Kalimantan barat. Di Indonesia, burung istimewa ini disebut sebagai petani hutan sejati. Hal ini disebabkan karena burung enggang merupakan burung pemakan buah yang tidak mencerna biji, dan menyebarkan biji tersebut melalui kotorannya. Burung-burung inilah yang menanam pohon secara alami di hutan lepas Indonesia.

Burung rangkong gading jantan memiliki leher yang tidak berbulu dengan warna merah, sementara keher yang terdapat pada betina berwarna biru pucat. Burung endemik Kalimantan ini sangat mudah sekali untuk dikenali, karena ukurannya yang sangat besar. Ciri khas burung rangkong gading, ian memiliki ekor berwarna putih dengan garis hitam melintang.

Pada sayap terdaat garis putih lebar, dan memiliki tanduk berwarna kuning kemerahan tepat di atas paruh. Sedangakan warna paruh berwarna sama kuning kemerahan, warna kaki coklat, dan iris berwarna merah. Burung rangkong tidak dapat berkicau karena bukan jenis burung kicau, dan ia hanya mengeluarkan suara menyerupai terompet yang di tiup berulang-ulang.

Seperti yang kita tahu, jenis makanan burung enggang gading adalah buah-buahan, biji-bijian, dan serangga. Burung ini sangat berguna untuk pelestarian tumbuhan khususnya Ficus sp yang hanya tumbuh di hutan tropis, karena ia akan menyebarkan benih biji yang ia makan melalui kotorannya saat terbang.

Awal penemuan burung berparuh besar ini terdapat di Semenanjung Malaya, Sumatera, dan Kalimantan. Burung langka ini termasuk dalam jenis fauna yang dilindungi undang-undan, dan Burung Enggang Rangkong juga menjadi maskot Provinsi Kalimantan Barat.

Burung enggang gading bersifat monogami, yang berarti burung ini hanya memiliki satu pasangan seumur hidupnya. Ia akan bersarang di pohon yang berlubang dengan ketinggian sekitar 50 m, namun ia hanya mencari pohon dengan lubang alami karena burung enggang tidak bisa membuat lubang sendiri.

Burung enggang rangkong diketahui memiliki masa berkembang biak terlama yakni 150 hari dalam masa penetasan, dan sang betina akan berada di dalam sarang untuk menemani anaknya. Lalu sang jantan akan menutup lubang tersebut dengan menggunakan kotoran dan tanah liat, kemudian ia hanya menyisakan lubang kecil untuk dapat mengeluarkan paruh saat sang jantan memberi makan.

Kini keberadaan burung endemik Kalimantan barat ini sudah sangat mengkhawatirkan dengan jumlah populasinya yang semakin menurun. Selain proses reproduksi yang sangat lama, burung ini juga sering diburu untuk diambil kepalanya dengan dasar perdagangan. Di hutan saat ini sudah jarang terdengar suara burung langka ini.

Salah Satu Satwa Indonesia Yang Luput Dari Perlindungan

Kodok merah darah adalah hewan endemik Indonesia, dan merupakan aset negeri yang tak terjangkau oleh perlidungan satwa langka yang hampir punah

Kodok Merah adalah salah satu hewan endemik Indonesia yang hanya dapat ditemukan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Kodok yang merupakan salah satu hewan langka yang dimiliki Indonesia ini memiliki tubuh berwarna merah, sehingga beberapa orang menyebutnya dengan kodok darah.

Meski disebut dengan kodok merah, warna merah darah tersebut tidak merata di bagaian seluruh tubuhnya. Karena warna merah tersebut berupa bercak-bercak yang memang menyerupai warana darah. Jenis kodok yang satu ini bisa ditemui di daerah perairan dengan arus lamba, dan di aliran sungai kecil di pegunungan.

Tempat yang disukai oleh kodok merah ini adalah daerah perbatasan antara dataran rendah lembab dengan hutan pegunungan. Hewan ampibi ini menjadi salah satu hewan langka yang terancam punah, dan IUCN Redlist dengan cepat memasukkan kodok merah ini menjadi hewan Indonesia yang berstatus Critically Endangered (kritis). Meski demikian, satwa ini tidak dicantumkan di daftar satwa yang dilindungi.

Pada tahun 1976, jenis kodok merah sangat banyak di temui di Beberapa wilayah di Indonesia yang bertanah lembab. Kemudian pada tahun 1987, keberadaan kodok merah mulai menurun karena meletusnya Gunung Galunggung waktu itu yang menyebabkan penurunan jumlah populasinya.

Kodok merah berukuran kecil dan ramping, dengan seluruh kulitnya yang dipenuhi bintik-bintik berwarna merah darah. Karena hewan ini termasuk hewan endemik lokal, hewan ini menjadi sangat langka karena penyebarannya yang sempit di Indonesia. Hal ini disebabkan habitatnya yang berada di dataran rendah lembab sudah berkuran, dan sudah banyak dugunakan untuk aktivitas manusia.

Kini kelangsungan hidup kodok merah hanya bergantung kepada kebun binatang, dengan tempat yang lembab dan tumbuhan air berdaun lebar sebagai penyimpan telur-telur kodok. Peristiwa menyeramkan ini mungkin karena pemegang kebijakan Indonesia yang kurang responsif, atau mungkin meremehkan hewan ampibi ini.

Jika diperhatikan, kodok memiliki peranan penting sebagai indikator perubahan cuaca dan lingkungan. Ditambah jenis kodok merah merupakan salah satu aset negeri yang langka, dan harus dikembang biakkan serta dijaga untuk kelangsungan hidupnya di dalam maupun diluar alam bebas habitat aslinya.

Burung Trulek Jawa Yang Misterius

Burung Trulek Jawa merupakan burung yang belum punah, dan salah satu burung Endemik Indonesia yang keberadaannya masih misterius

Burung Trulek Jawa adalah salah satu burung yang hanya ada di Pulau Jawa. Burung trulek jawa memiliki ukuran tubuh yang sedang sekitar 28 cm. Burung trulek jawa biasanya hidup secara berpasangan di padang rumput terbuka, di sepanjang pantai utara Jawa Barat dan pantai selatan Jawa Timur.

Keberadaan burung Tulek Jawa sering berada di sekitar daerah berair seperti tepian sungai, muara sungai, dan rawa. Ada juga beberapa burung jenis ini yang tidak begitu menyukai air. Mereka justru bertengger di tempat yang kering sekitar lahan basah seperti ranting, rerumputan, dan bebatuan.

Dalam kesehariannya, burung endemik Jawa ini akan memakan hewan-hewan kecil seperti siput, larva serangga, kumbang air, dan terkadang ia juga memakan biji-bijian tumbuhan air. tak jarang ia juga bisa memakan ikan-ikan kecil yang terdampar di tepi sungai, atau muara.

Adapun beberapa ciri-ciri dari burung ini, ia memiliki warna kepala hitam, dan bulu di sekitar tubuh berwarna coklat keabuan. Warna bulu coklat keabuan terdapat pada punggung, dan dada. Lalu di bagian perut berwarna hitam,tungging berwarna putih, dan bulu sayap hitam.

Ciri lainnya terdapat pada bagian ekor berwarna putih bergaris subterminal hitam lebar, dan memiliki taji hitam pada bagian lengkungan sayap. Di bagian paruh berwarna hitam dengan warna tungkai yang berwarna jingga. Salah satu ciri khas dari burung trulek jawa adalah, ia memiliki gelambir putih kekuningan pada bagian atas paruhnya.

Kini keberadaan burung Jawa ini sudah semakin langka, dan tercatat pada tahun 1940 keberadaannya ditemui di Sungai Ci Tarum Jawa Barat. Dikarenakan belum pernah melakukan survei ulang di beberapa habitatnya, IUCN tidak berani menyebutnya sebagai jenis satwa yang sudah punah.

Terlebih, adanya laporan-laporan dari penduduk setempat tentang keberadaan burung trulek jawa, burung ini masih sangat misterius untuk di teliti kembali. Terkait adanya laporan dari beberapa sumber, pada tahun 2001 para Tim Comunity Forestry Pekalongan pernah menemui burung trulek jawa singgah di Hutan Sawangan Petungkriyono Pekalongan Jawa Tengah.

Beberapa daerah yang terdapat burung endemik ini antara Pegunungan Halimun Jawa Barat, Hutan Gunung Ungaran Jawa Tengah, Taman Nasional Meru Betiri Jember Jawa Timur, dan Lumajang Jawa Timur. Namun yang dapat dijumpai secara resmi adanya burung ini di Indonesia hanya spesiesmen awetan yang berada di Museum Zoologi Cibinong Jawa Barat.