Tag: Jenis fauna indonesia hampir punah

7 Satwa Endemik Kalimantan Yang Hampir Punah

7 satwa endemik Kalimantan

Memiliki beragam jenis flora dan fauna dengan karakter Asiatic, Australis, maupun peralihan dan terletak di antara dua benua dengan wilayah seluas 735.400 mil persegi, Indonesia menjadi negara yang kaya akan alam beserta isinya yang melimpah. Dari ribuan jenis satwa yang ada di Indonesia, kurang lebih sekitar 294 jenis flora fauna yang sudah masuk ke dalam daftar spesies yang terancam punah.

Flora dan fauna tersebut menjadi spesies langka, dan harus dilindungi karena semakin berkurangnya jumlah populasi yang ada. Hal ini sesuai dengan peraturan pemerintah no 7 tahun 1999 tentang jenis Tumbuhan dan Satwa yang dilindungi.

Berikut 7 satwa endemik Kalimantan, yang merupakan kekayaan Indonesia akan faunanya yang sudah masuk daftar hewan dilindungi.

1. Bekantan


Bekantan adalah monyet yang memiliki hidung besar dan panjang. Monyet jenis ini hanya ditemukan pada spesies jantan, dan inilah yang membedakan bekantan dengan jenis monyet lainnya. Bekantan jantan memiliki tubuh yang lebih besar dari pada bekantan betina, dengan ukuran mencapai 75 cm dan berat 24 kg. Sedangkan untuk betina, memiliki ukuran 60 cm dengan berat hanya 12 kg. Bekantan memiliki perut besar, karena kebiasaannya dapat mengkonsumsi makanan dengan porsi yang banyak. Selain memakan biji-bijian dan buah, bekantan juga memakan dedaunan yang menghasilkan gas saat dicerna. Hal tersebut yang menyebabkan perut bekantan menjadi buncit dan besar. Bekantan merupakan satwa yang hampir punah, dan dilindungi.

2. Pesut Mahakam


Pesut Mahakam adalah ikan air tawar yang memiliki kepala berbentuk bulat dengan ukuran kedua mata yang kecil. Ikan ini berkulit abu-abu dengan warna lebih pucat di bagian bawahnya, serta tidak memiliki pola-pola khas ditubuhnya. Bentuk sirip dada lebar serta membundar, dan ia hanya bergerak dalam kawasan kecil. Pesut Mahakam hidup di dalam air yang mengandung lumpur, namun pesut merupakan ahli dalam mendeteksi serta menghindari adanya rintangan-rintangan yang dapat membahayakan dirinya. Karena pandangan Pesut Mahakam tidak terlalu baik.

Pesut mahakam saat ini menjadi kritis, karena populasinya yang terus menurun akibat lalu lintas di perairan Sungai Mahakam yang kian padat, serta tingginya tingkat erosi dan juga pendangkalan Sungai akibat pengelolaan hutan disekitar Sungai Mahakam. Kondisi dan keberadaan ikan pesut mahakam diperkirakan dalam kondisi terancam punah. Mengingat ikan Pesut Mahakam hanya memakan udan dan ikan-ikan kecil, ia harus berebut untuk mendapatkan kebutuhan makanan mereka dengan para nelayan yang juga mencari udan serta ikan untuk dikonsumsi dan dijual.

3.Kucing Merah


Kucing merah adalah satwa yang memiliki ukuran tubuh lebih kecil dari pada kucing emas Asia. Jenis Kucing ini memiliki bulu berwarna coklat terang dan pucat. Bulu bagian kaki dan juga ekor berwarna merah agak pucat. Bentuk ekor memanjang serta meruncing keujung, dengan garis putih di bagian bawah ekor. Untuk mengenali kucing merah dapat dilihat dari bentuk kepalanya yang kecil, pendek dan bulat dengan warna coklat gelap keabu-abuan. Pada bagian kepala juga terdapat dua garis gelap yang berasal dari setiap sudut matanya. Pada bagian telinga kucing memiliki warna yang keabu-abuan dengan sedikit bintik-bintik putih yang ada di tengah serta bawah dagu. Dua garis coklat samar terdapat di sekitar bagian pipi.

4. Owa Kalimantan


Owa Kalimantan adalah Jenis satwa yang memiliki tubuh sedang. Ukuran kepala dan tubuh owa jantan dewasa sekitar 462 hingga 475 mm, sedangkan betina memiliki ukuran yang lebih besar sekitar 495-496 mm. Owa jantan memiliki berat tubuh antara 4,9 hingga 6,5 kg, sementara berat sang betina bisa mencapai 5,9 hingga 6,8 kg. Berdasarkan data IUCN hingga saat ini, owa Kalimantan kini berada dalam status kritis. Hal ini disebabkan karena berkurangnya luas hutan Rawa gambut yang merupakan habitat asli satwa endemik Kalimantan ini.

5. Biawak Kalimantan


Biawak yang berasal dari Kalimantan ini dikenal dengan nama biawak tak bertelinga. Biawak ini memiliki ciri hidung tumpul, serta telinga yang tidak terlihat. Biawak ini memiliki warna coklat tua pada bagian atasnya, dengan perut bawah berwarna coklat muda. Biawak Kalimantan memiliki warna coklat tua pada tubuh bagian atas, dengan perut bawah berwarna coklat muda. Selain itu, biawak ini mempunyai kelopak mata transparan yang letaknya lebih rendah dimanding dengan jenis biawak pada umumnya. Biawak Kalimantan memiliki kulit bergerigi pada seluruh tubuhnya seperti buaya, dimana gerigi ini tersusun membentuk garis mulai dari bagian kepala sampai bagian ekor.

6. Tupai Peminum Darah


Tupai Peminum Darah adalah salah satu satwa endemik Indonesia yang berasal dari Kalimantan. Tupai ini merupakan jenis hewan nokturnal, atau hewan yang aktif pada malam hari. Tupai ini memiliki ciri bulu ekor yang lebat dan terkenal dengan sifatnya yang sangat agresif, bahkan pernah terjadi bahwa tupai ini dapat membunuh seekor Kijang dewasa. Namun kini tupai endemik Kalimantan ini sangat jarang menampakkan dirinya, dan tupai ini juga termasuk satwa langka Indonesia yang dilindungi.

7. Lutung Merah


Lutung merah merupakan mamalia dengan ekor panjang berwarna kemerahan. Anakan, Lutung Merah berwarna keputih-putihan, dengan bercak hitam yang terdapat pada bagian bawah punggung dan melintang di sepanjang bahu. Biasanya lutung merah hidup secara berkelompok yang berjumlah sekitar 8 ekor, dengan 1 ekor jenis jantan dewasa. Makanan utama lutung merah berupa biji-bijian, dedaunan muda, serta liana.

Hewan Lambat Endemik Hutan Sulawesi

Kura-kura Paruh Betet merupakan hewan langka penghuni Pulau Sulawesi yang belum termasuk hewan yang dilindungi

Kura-kura Paruh Betet adalah jenis kura-kura darat yang berasal dari Sulawesi. Hewan lambat yang mempunyai nama latin Indotestudo Forstenii ini menyebar cukup luas dari perbukitan Lembah Palu, sampai ke sekitaran Gorontalo. Meski demikian, daerah sebaran tersebut masih terhitung sempit jika dilihat dari segi kelestarian jenis.

Kura-kura Paruh Betet atau sering disebut penduduk Sulawesi dengan sebutan Baning ini merupakan hewan yang habitat aslinya adalah hutan musim, dan pamah campuran. Hutan seperti ini hanya terdapat di perbukitan Lembah Palu yang dicirikan, adanya tumbuhan centong duri yang hampir mendominasi bukit tersebut.

Ciri Kura-kura paruh betet Sulawesi memiliki ukuran kerapas sepanjang 28 hingga 31 cm untuk jenis jantan, dan ukuran 20 hingga 25 cm terdapat pada betina. Di Indonesia tidak akan ditemukan di daerah lain, karena Hewan langka ini adalah hewan endemik Pulau Sulawesi. Tak banyak yang mengetahui bagaimana perilaku alami kura-kura langka ini. Yang pasti, kura-kura jenis paruh betet adalah jenis hewan Diurnal atau hewan yang menghabiskan waktunya pada siang hari.

Ancaman utama bagi kura-kura hutan Sulawesi yakni perburuan dan perdagangan bebas, dimana yang sering dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan hewan peliharaan. Dari awal tahun 1990 an, sekitar 3.000 ekor kura-kura jenis ini telah diperdagangkan ke China sebagai bahan makanan. Serta rendahnya tingkat reproduksi hewan ini juga menjadi salah satu faktor mudah punahnya kura-kura langka ini.

Keadaan populasi yang terbilang tak seberapa juga mempengaruhi baning Sulawesi ini menjadi hewan yang dikategorikan terancam punah. Hal ini disebabkan oleh eksploitasi yang berlebihan, serta hilangnya habitat asli baning Sulawesi. IUCN telah memasukkan Kura-kura Paruh Betet (Baning Sulawesi) kedalam status Endangered atau “EN”, yang berarti terancam kepunahan.

Kemudian CITES juga memasukkan hewan lambat ini kedalam appendiks II. Dan hal yang sangat disayangkan adalah, Kura-kura Paruh Betet ini belum termasuk di daftar hewan yang dilindungi. Kura-kura yang menghuni hutan Sulawesi jenis paruh betet termasuk salah satu dari tujuh jenis reptil paling langka di Indonesia.

Ikan Hiu Gergaji Kian Kritis

Ikan Hiu Sentani adalah satwa endemik Danau Sentani Papua Nugini yang keberadaannya kini semakin mengkhawatirkan akan kepunahan

Ikan Hiu Gergaji merupakan ikan laut yang beradaptasi dengan perairan air tawar, yang terkenal dengan sebutan ikan hiu gergaji Sentani. Ciri khas ikan hiu jenis ini adalah memiliki moncong panjang seperti pedang, dengan deretan gergaji kecil yang tumbuh di sisi samping moncongnya.

Ikan endemik Danau Sentani Papua ini memakan udan kecil, dan ikan-ikan kecil yang ada disekitar habitatnya. Ikan hiu gergaji merupakan hewan ovovivipar, atau hewan yang berkembang biak dengan cara bertelur dan beranak. Hiu yang memiliki nama latin Pristis Microdon ini terkenal hingga ke mancanegara dengan sebutan Largetooth Sawfish, yang berarti ikan hiu bergigi besar.

Meski penampilan hiu gergaji ini cukup mengerikan, bukan berarti ikan tersebut penguasa Danau Sentani. Hiu sentani memiliki penglihatan yang tidak begitu bagus, namun ia menggunakan penciumannya untuk mencari mangsanya yang berupa ikan ukuran kecil dan sedang.

Ikan hiu yang memiliki panjang sekitar 6,6 meter, dengan dilengkapi 14 hingga 22 gigi gergaji yang berada di setiap sisi moncongnya. Moncong yang menyerupai gergaji tersebut merupakan alat untuk pertahanan terhadap musuh atau saat ia mulai terancam.

Sedangkan bentuk tubuh hiu sentani lebih ramping, dan tak seperti hiu pada umumnya yang cenderung berbentuk bulat memanjang. Dengan bentuk tubuh yang ramping, hiu gergaji ini juga mampu berenang dengan kecepatan diatas rata-rata untuk mengejar mangsanya.

Ikan ini menyebar di perairan Australia, India, Papua Nugini, Afrika Selatan, dan Thailand. Sedangkan di Indonesia sendiri, hiu gergaji menghuni Sungai Digul, Sungai Mahakam (Kalimantan), Sungai Siak, dan Sungai Sepih. Kini keberadaan ikan hiu sentani sudah sangat mengkhawatirkan, karena populasi ikan jenis ini terus menyusut dan terancam punah.

Namun, IUCN sudah memasukkan hiu gergaji sentani ke daftar spesies yang dilindungi. populasi ikan ini makin berkurang akibat semakin sempitnya habitat asli, dan termasuk hewan yang sangat kritis terancam punah. Serta banyaknya pemburuan liar karena ikan ini dianggap sebagai predator ikan-ikan lain.

Hal serupa juga sama yang dilakukan oleh sejumlah kolektor ikan yang menangkap ikan hiu gergaji, dengan upaya untuk diperdagangkan atau hanya untuk diambil moncongnya sebagai koleksi. Pada masa prasejarah hingga kini, ikan hiu gergaji sudah menjadi bagian dari budaya suku Sentani yang tergambar pada batu-batu Situs Megalitik Tutari.