Tag: Hewan nokturnal

Kancil Jawa Kini Masih Di Teliti Oleh IUCN

Kancil Jawa atau Pelanduk Jawa adalah jenis pelanduk yang hidup terbatas di Pulau Jawa dan di Pulau Bali. Hewan ini merupakan salah satu jenis ungulata terkecil di dunia, dan mamalia ini di sebut dalam bahasa Jawa dengan sebutan Kancil.

Kancil sangat mudah untuk dijinakkan sehingga memungkinkan untuk dibudidayakan. Selai itu, sisi lain yang menguntungkan dari hewan mungil ini hanya memakan rerumputan. Sehingga mudah untuk mencari sumber pakan dari si kancil ini. Hewan ini memiliki ukuran tubuh yang kecil, bahkan lebih kecil dari kelinci karena kancil hanya memiliki berat 1,5 hingga 2 kg saja. Panjang kepada dan badan sekitar 360 dan 365 mm, dengan panjang ekor 50 dan 45 mm.

Perilaku dari kancil Jawa ini sama seperti jenis pelanduk lainnya. Binatang ini hidup di tepi hutan lebat di daerah dataran rendah, hingga sampai dataran tinggi dengan ketinggian sekitar 600 m. Kancil sering menjalani kehidupannya secara individual, dan ia akan berkelompok pada saat musim kawin tiba.

Pada saat musim kawin, kancil akan mengandung anaknya selama 150 hingga 155 hari lamanya. Dan ia akan melahirkan 1 atau dua anak dalam sekali lahiran. Hewan ini termasuk golongan hewan nokturnal pemakan rerumputan, dedaunan, semak-semak, dan buah yang sudah jatuh ketanah.

IUCN menerangkan bahwa ia kekurangan data mengenai Kancil Jawa ini, karena kurangnya informasi, serta berkurangnya populasi hewan mungil ini di alam bebas, membuat Badan Perlindungan Satwa harus menetapkan bahwa kancil Jawa adalah hewan terancam punah. Meskipun hewan ini sangat gesit dan lincah saat berlari, namun tetap saja banyak beberapa hewan buas yang mengincarnya.

Selain itu, bukan hanya hewan buas yang mengancam kancil Jawa. Melainkan dari manusia juga memburu hewan ini untuk di perjual belikan, bahkan dikonsumsi karena memiliki daging yang lezat. Akibat dari perburuan liar, dan sedikitnya reproduksi dari hewan ini sendiri membuat populasi kancil Jawa semakin menurun. Berdasarkan peraturan Pemerintah no.7 tahun 1999, Kancil Jawa merupakan satwa yang dilindungi dan tercatat sebagai hewan yang terancam punah.

Mencari Tahu Tentang Kucing Merah Kalimantan

Kucing Merah Kalimantan merupakan kucing khas Kalimantan yang kini belum diketahui keberadaannya di alam liar

Kucing Merah adalah salah satu spesies kucing kecil yang memang berasal dari Kalimantan. Kucing liar ini sangat jarang ditemui karena kucing merah ini tinggal di dalam hutan tropis dataran rendah. Kucing yang mempunyai bentuk telinga bulat ini banyak tersebar di beberapa tempat Pulau Kalimantan.

Tak seperti kucing-kucing yang lainnya, kucing merah memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil. Ciri lain dari kucing merah seperti memiliki warna bulu coklat terang, dan agak pucat di bagian tubuh bawah. Kucing merah memiliki ekor yang panjang serta meruncing pada ujungnya, dan terdapat garis putih di bagian bawah ekor.

Hewan endemik Kalimantan ini mendiami hutan tropis lebat, singkapan batu kapur, dan hutan bekas tebangan. Kucing ini juga hewan nokturnal yang akan melakukan aktivitasnya untuk mencari makan di malam hari. Pada tahun 2002 IUCN mengklarifikasikan spesies liar ini sebagai satwa yang terancam punah.

Belum ada yang mengetahui tentang ekologi makan serta perilaku reproduksi dari kucing merah ini. Turunnya populasi kucing merah sudah diperkirakan sekitar lebih dari 20% pada tahun 2002 karena hilangnya habitat asli.

Di perkirakan, kucing liar ini sudah ada sejak 4 juta tahun silam saat pulau Kalimantan belum berpisah dengan daratan Asia. Namun hingga saat ini masih belum di ketahui dengan pasti populasi yang masih ada di Indonesia dan di Malaysia.

Kucing merah bisa juga disebut sebagai kucing Borneo. Kucing langka ini semakin sulit untuk kita jumpai di wilayah Kalimantan. Beberapa kolektor hewan langka lebih sering memburunya, dan bahkan beberapa pedagang hewan juga ikut untuk memburu kucing merah khas Kalimantan ini.

Meskipun kucing merah sudah terdaftar sebagai hewan yang dilindungi, namun tetap saja para pemburu liar menangkap untuk memperjual belikan hewan ini karena bentuknya yang berbeda dengan jenis kucing lainnya.