Tag: Hewan herbivora

Khasiat Landak

Khasiat landak

Landak adalah salah satu jenis hewan yang memiliki bulu duri tajam sebagai senjata saat sedang terancam. Landak merupakan hewan pengerat terbesar yang cukup lincah saat menghindari musuh atau hewan yang akan memangsanya.

Hewan herbivora ini ternyata memiliki khasiat sebagai obat dengan cara mengolahnya menjadi makanan. Dikalangan masyarakat karang anyar, landak menjadi ciri khas makanan di tempat ini. Itulah beberapa hal yang cukup perlu diketahui mengenai landak, untuk kesempatan selanjutnya akan dibahas mengenai manfaat bulu landak dalam kehidupan sehari-hari.

Meskipun tidak banyak manfaat bulu landak tetapi bulu landak ini cukup bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa manfaat bulu landak antara lain sebagai obat masuk angin, menurunkan demam, penangkal makhluk gaib, mengurangi sakit gigi, mengatasi asam urat, mengatasi rematik, dan memperlancar peredaran darah.

Tidak dapat di pungkiri memang bahwa bulu landak memiliki beberapa manfaat yang memang tidak cukup banyak, namun bagi menjaga kesehatan ke 8 manfaat bulu landak itu sudah dapat dikatakan dapat mengatasi berbagai macam penyakiti.

Ada beberapa cara memanfaatkan bulu landak. Selain dengan dibuat ramuan bulu landak, biasanya dari landak ini pun sudah ada minyak ekstrak landak yang memiliki manfaat yang cukup banyak seperti yang telah diuraikan pada penjabaran di atas.

Untuk itu manfaatkan lah landak maupun bulu landak untuk kesehatan anda. Bila dilihat dari uraian di atas bahwa landak dapat dimanfaatkan menjadi tiga hal yaitu bermanfaat untuk mengatasi segala penyakit, untuk menangkal makhluk gaib, serta dapat dijadikan sebagai bahan makanan.

Karena sampai saat ini, landak belum termasuk daftar hewan yang dilindungi. Beberapa dari mereka yang menjual daging landak juga membudidayakannya sendiri sebagai stok agar tidak mengganggu populasinya di alam bebas.

Kancil Jawa Kini Masih Di Teliti Oleh IUCN

Kancil Jawa atau Pelanduk Jawa adalah jenis pelanduk yang hidup terbatas di Pulau Jawa dan di Pulau Bali. Hewan ini merupakan salah satu jenis ungulata terkecil di dunia, dan mamalia ini di sebut dalam bahasa Jawa dengan sebutan Kancil.

Kancil sangat mudah untuk dijinakkan sehingga memungkinkan untuk dibudidayakan. Selai itu, sisi lain yang menguntungkan dari hewan mungil ini hanya memakan rerumputan. Sehingga mudah untuk mencari sumber pakan dari si kancil ini. Hewan ini memiliki ukuran tubuh yang kecil, bahkan lebih kecil dari kelinci karena kancil hanya memiliki berat 1,5 hingga 2 kg saja. Panjang kepada dan badan sekitar 360 dan 365 mm, dengan panjang ekor 50 dan 45 mm.

Perilaku dari kancil Jawa ini sama seperti jenis pelanduk lainnya. Binatang ini hidup di tepi hutan lebat di daerah dataran rendah, hingga sampai dataran tinggi dengan ketinggian sekitar 600 m. Kancil sering menjalani kehidupannya secara individual, dan ia akan berkelompok pada saat musim kawin tiba.

Pada saat musim kawin, kancil akan mengandung anaknya selama 150 hingga 155 hari lamanya. Dan ia akan melahirkan 1 atau dua anak dalam sekali lahiran. Hewan ini termasuk golongan hewan nokturnal pemakan rerumputan, dedaunan, semak-semak, dan buah yang sudah jatuh ketanah.

IUCN menerangkan bahwa ia kekurangan data mengenai Kancil Jawa ini, karena kurangnya informasi, serta berkurangnya populasi hewan mungil ini di alam bebas, membuat Badan Perlindungan Satwa harus menetapkan bahwa kancil Jawa adalah hewan terancam punah. Meskipun hewan ini sangat gesit dan lincah saat berlari, namun tetap saja banyak beberapa hewan buas yang mengincarnya.

Selain itu, bukan hanya hewan buas yang mengancam kancil Jawa. Melainkan dari manusia juga memburu hewan ini untuk di perjual belikan, bahkan dikonsumsi karena memiliki daging yang lezat. Akibat dari perburuan liar, dan sedikitnya reproduksi dari hewan ini sendiri membuat populasi kancil Jawa semakin menurun. Berdasarkan peraturan Pemerintah no.7 tahun 1999, Kancil Jawa merupakan satwa yang dilindungi dan tercatat sebagai hewan yang terancam punah.

Hewan Unik Berkuku Ganjil

Tapir adalah hewan soliter yang memiliki keunikan dari jari-jari kakinya yang ganjil. Serta hewan berikut merupakan hewan yang dilindungi

Tapir adalah binatang herbivora yang hanya memakan dedaunan muda yang ada di sepanjang hutan atau sepanjang tepian sungai. Tapir memiliki bentuk tubuh yang menyerupai babi dengan telinga yang mirip badak, serta moncongnya sedikit panjang seperti trenggiling. Tapir adalah binatang soliter kecuali pada musim-musim kawinnya.

Hewan ini termasuk hewan nokturnal karena aktivitasnya lebih banyak di malam hari, dan ia akan mencari makanannya dengan terus berjalan jauh serta mencari lokasi yang kaya akan garam mineralnya. Hewan mamalia ini memiliki suara lenguhan yang berbeda dengan hewan mamalia lainnya, dan justru seperti suara burung yang sedang berkomunikasi dengan burung lainnya.

Ukuran tubuh tapir dewasa bisa mecapai panjang hingga 225 cm dengan bentuk yang hampir menyerupai babi. Bentuk lain yang menjadi ciri khas dari tapir adalah memiliki moncong yang seperti belalai pendek, yang selalu didekatkan dengan tanah saat ia berjalan. Moncong panjang tapir mempunyai penciuman yang sangat bagus dalam kesehariannya untuk mendapatkan makannan.

Beberap ahli menyatakan bahwa tapir memiliki penglihatan yang sangat lemah, dan hanya mengandalkan indera penciumannya dalam hidupnya. Selain bentuk tubuh dan moncongnya yang unik, tapir juga memiliki jemari yang tak kalah unik dengan keunikan lain yang dimilikinya. Jari yang ada pada kaki depan berjumlah empat, sedangkan jari kaki bagian belakang hanya berjumlah tiga jari.

Ada empat jenis tapir yang masih hidup hingga sekarang, dan tiga diantaranya bisa anda jumpai di Amerika Selatan yaitu Tapirus bairdii, Tapirus Pinchaque, dan Tapirus Terrestris. Sementara yang banyak tersebar di Asia Tenggara adalah jenis Tapirus Indicus, dan dari hal tersebut tapir sering digunakan sebagai salah satu bukti teori pemisah Benua.

Tapir yang terebar di Asia Tenggara telah meliputi bagian selatan Burma, Thailand bagian selatan, Semenanjung Malaysia, serta Indonesia. Menurut bukti yang pernah ada, penyebaran tapir sempat meliputi Pulau Jawa dan Sumatera. Namun kini cuma hanya ada tapir di Sumatera, itu pun hanya akan dijumpai di bagian Danau Toba sampai ke Lampung.

Keberadaan tapir yang kian menyusut, tak lain karena aktivitas manusia yang menyebabkan habitatnya kian sempit. Mengenai kasus pemburuan tapir tak semarak pemburuan hewan lainnya, sehingga berkurangnya populasi tapir sebagian besar dikarenakan tingkat reproduksinya yang sangat sedikit.

Hewan berkuku ganjil ini merupakan satwa liar yang dilindungi di Indonesia karena jumlah populasinya yang kian berkurang pada tiap tahunnya, serta tapir termasuk hewan langka yang dimiliki Indonesia.

Indonesia juga memiliki Banteng yang kini sedang terancam punah

Banteng banyak terdapat di Indonesia dengan sebutan Sapi Bali ini merupakan satwa yang terancam punah

Banteng adalah hewan yang masih satu familly dengan sapi yang banyak di temui di Jawa, Bali, Kalimantan, Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, dan Vietnam. Kemudian banteng dibawa ke Australia Utara saat masa kolonisasi Britania Raya 1894 yang masih dilestarikan hingga sekarang. Banteng biasanya memakan rumput, bambu, buah-buahan, dan daun ranting muda. Pada sejatinya, banteng merupakan hewan yang aktif di siang hari dan malam hari. Namun didaerah pemukiman warga, mereka beradaptasi dan menjadi hewan nokturnal.

Ukuran tubuh banteng bisa tinggi hingga mencapai 1,6 meter, dan panjang tubuh hingga 2,3 meter. Sedangkan untuk berat badan banteng jantan bisa mencapai berat satu ton, dan sang betina biasanya memiliki berat badan yang lebih ringan dari sang jantan yakni sekitar 680 hingga 810 kg. Hewan yang dikenal sebagai Sapi Bali ini biasanya akan hidup secara berkelompok dengan kawanan yang berjumlah sekitar dua hingga tiga puluhan ekor.

Banteng betina memiliki ciri-ciri warna kulit coklat kemerahan, serta tanduk yang pendek. Warna putih yang terdapat pada kaki bagian bawah, pantat, punuk, dan warna putih yang ada di sekitar mata serta moncongnya. Sedangkan sang jantan memiliki kulit yang berwarna biru hitam atau coklat gelap, dengan bentuk tanduk yang panjang melengkung keatas.

Di Indonesia terdapat tiga jenis anak banteng liar yaitu Banteng Jawa, Banteng Kalimantan, dan Banteng yang ada di Indocina. Anak banteng jenis yang terakhir kini digolongkan sebagai hewan yang terancam punah yang sudah dimasukkan kedalam catatan IUCN. Banteng merupakan sumberdaya genetik hewan asli Indonesia yang sebagian besar keluarga liarnya terebar di Indonesia. Banteng adalah satwa yang memiliki tingkat reproduksi yang sangat cepat, serta kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan yang baik. Dan yang lebih menakjubkan dari banteng adalah kemampuannya untuk menggunakan sumber daya pakan yang sangat terbatas.