Tag: Hewan bersisik yang dilindungi

Minimnya Populasi Trenggiling Di Indonesia

Minimnya Populasi Trenggiling Di Indonesia

 

Trenggiling merupakan salah satu hewan yang juga menyusui, yang berasal dari Ordo Pholidota. Hewan ini disebut dengan hewan mamalia pemakan serangga yang mempunyai tubuh bersisik. Trenggiling merupakan hewan yang hanya hidup di daerah tropis yang banyak dijumpai di seluruh Asia dan Afrika. Ukuran tubuh mamalia ini bervariasi, yaitu dari 30 hingga 100 cm atau sekitar 12 hingga 39 inci.

Hewan bersisik ini biasanya akan melahirkan hanya satu anak saja dan lama kehamilannya hanya sekitar dua sampai tiga bulan lamanya. Musim kawin trenggiling jatuh pada bulan April hingga bulan Juni. Setelah melahirkan, sang anak akan selalu dijaga induknya selama tiga sampai empat bulan lamanya, dan sering kali sang induk membawa anaknya di atas ekornya,

Bagi orang-orang mentawai, trenggiling sering dikonsumsi karena menurut mereka, hewan ini adalah salah satu makanan yang banyak sumber proteinnya. Di Indonesia, trenggiling merupakan hewan yang masuk daftar hewan yang dilindungi karena berkurangnya populasi dialam bebas. Rusaknya habitat trenggiling dikarenakan aktivitas para penebangan liar dan pemburuan untuk diperdagangkan. Hewan nocturnal ini sangat terancam punah karena dari satu juta ekor telah diambil dari habitat aslinya sepanjang sepuluh tahun terakhir. Hewan bersisik yang akan melingkar saat terancam dari musuh ini memiliki lidah yang panjang dan lengket untuk menangkap serangga yang akan dimakan.

Trenggiling merupakan hewan yang tidak mempunyai gigi seperti mamalia pada umumnya. Dan dua puluh persen dari berat tubuhnya adalah sisik yang dijadikan perisai bagi trenggiling saat dirinya terancam. Di Indonesia mempunyai UU nomor 5 tahun 1990, tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Masih dalam hal perlindungan, trenggiling juga dilindungi pemerintah nomer 7 tahun 1999 Tentang pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. yang berarti bahwa trenggiling hewan yang dilindungi penuh dari segala bentuk perdagangan.

Meski demikian, masih banyak orang yang memburu hewan pemalu ini untuk dijual daging serta sisiknya ke luar negeri. Yang kerap terjadi dan mendorong untuk pemburuan trenggiling adalah pesanan daging serta sisiknya yang ingin dikonsumsi dengan alasan sebagai obat dan makanan sumber protein. Jika dibuktikan secara Farmakologi, trenggiling tidak memiliki khasiat obat apapun didalam daging maupun sisiknya. Namun, didalam dunia pengobatan sering kali tidak cuma membutuhkan senyawa yang mempunyai nilai kesehatan, tapi nilai sugesti yang kuat yang terjadi selama ini. Hal ini sudah mengganggu susunan keseimbangan ekosistem alam karena pemburuannya yang sangat tinggi.

Berkurangnya trenggiling dialam bebas, akan membuat populasi serangga seperti rayap dan semut menjadi tak terkendali karena tak ada hewan lain lagi yang akan memangsa serangga sosial ini.