Tag: Ayam Kedu Merah

Ayam Cemani Adalah Hewan Unggas Asli Indonesia

Ayam Cemani Adalah Hewan Unggas Asli Indonesia

Ayam Cemani atau ayam kedu merupakan ras ayam lokal yang dikembangkan diwilayah kedu, tepatnya Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Temanggung Jawa Tengah, Indonesia. Selain di Temanggung, ayam ini juga di kembangbiakkan di Desa Kalikuto, Kecamatan Grabag Magelang. Ras lokal ini dikenal karena warnanya yang hitam dan ada juga tipe yang berwarna putih, serta Ayam ini tengah dikembangkan sebagai ras ayam unggul.

Saat ini ada empat tipe ayam kedu yang memiliki ciri yang berbeda. Hanya beberapa perbedaan yang ada di masing-masing jenis ayam lokal ini :

  • Ayam Kedu hitam memiliki warna hitam pada seluruh tubuh, dan bulu. Hanya pada bagian jengger serta kloaka (lubang anus) saja yang masih berwarna kemerahan.

  • Ayam Kedu Cemani (hitam legam), seluruh tubuh dan bulu berwarna hitam tanpa pengecualian. Bahkan mata, daging, tulang, serta telur pun berwarna kehitaman.

  • Ayam Kedu Putih, seluruh warna bulu putih. Ayam ini hampir mirip dengan ayam pada umumnya yang memiliki daging berwarna kemerahan.

  • Ayam Kedu Merah, berbulu hitam dan berjengger merah seperti lumrahnya ayam yang memiliki warna kulit kemerahan.

Ciri-ciri penampilan dari ayam kedu mengenai ukuran tubuh dan bobot, memang belum ada bakuan resmi. Untuk bobot betina dari 2 sampai 3 kg, dan jantan 3 sampai 4 kg dengan bertahan hidup usia 6 sampai 8 tahun. Ayam kedu memiliki bulu yang keras, dengan ukuran tubung sedang, bulu ekor naik, dan ukuran jengger yang besar.

Jika untuk jenis ayam cemani, warna mata coklat gelap dan suka berkelana. Untuk betina saat sedang memiliki anak, sang induk akan sangat melindungi anaknya. Pada saat berumur enam bulan, ayam cemani sudah bisa bertelur. Saat bertelur, akan menghasilkan telur sebanyak 160 butir pertahun dengan cangkang yang berwarna coklat.

Dahulu, ayam cemani digunakan sebagai hewan ritual untuk suatu acara yang dipercaya oleh warga yang mengadakan. Menurut catatan, ras lokal ini mulai di kembangbiakkan oleh Tjokromihardjo pada tahun 1924, dan dilanjutkan oleh dua anaknya. Khusus untuk ayam cemani, ayam yang bernilai sebagai ritual atau pengobatan yang terkait dengan legenda Ki Ageng Makukuhan.