Tag: Tanaman Hutan Tropis

Kandungan & Manfaat Tanaman Andong

Kandungan & Manfaat Tanaman Andong

Andong merupakan tanaman perdul yang banyak dan sangat sering kita jumpai. Tanaman yang memiliki nama latin Cordyline fruticosa ini adalah tanaman daerah Asia Timur yang sering digunakan sebagai penghias pekarangan rumah.

Tanaman andong merupakan tanaman perdu yang termasuk dari suku tanaman bawang-bawangan. Tanaman andong ini habitatnya berada pada daerah dataran rendah sampai dengan ketinggian 1.900 dari permukaaan laut. Tanaman andong ini memiliki panjang 2-4 meter tegak.

Tanaman andong mengandung saponin, tanin, flavonoid, polifenol, steroida, polisakarida, kalsium oksalat, dan zat besi. Rasa tanaman andong manis, tawar dan bersifat sejuk. Tanaman andong berkhasiat sebagai penyejuk darah, menghentikan pendarahan (hemostatis), dan menghancurkan darah beku pada memar.

Tumbuhan andong diketahui memiliki manfaat dan khasiat untuk mengobati berbagai jenis gangguan kesehatan. Kandungan kimia dari tumbuhan ini belum banyak diketahui.

Namun tumbuhan ini telah banyak digunakan dan terbukti mampu mengatasi berbagai penyakit, antara lain menghentikan pendarahan, menyejukkan darah dan mengatasi bengkak karena memar (antiswelling).

Manfaat lainnya dari tumbuhan ini adalah untuk mengatasi kencing berdarah, mencegah keguguran, wasir berdarah, nyeri lambung, nyeri ulu hati, tuberkolosis (TBC), mengatasi terlambat haid.

Dari sekian banyaknya tanaman di Indonesia, ternyata memiliki khasiat dan manfaat yang berbeda-beda. Indonesia merupakan negara yang paling banyak dihuni oleh flora dan fauna yang berkembang dan menyebar ke seluruh bagian pulau di Indonesia.

Daun Andong

Daun Andong

Andong atau hanjuang (Cordyline fruticosa) adalah tanaman berbunga hijau di keluarga Asparagus, Asparagaceae, yang dikenal dengan berbagai nama umum, termasuk palem kubis, tanaman keberuntungan, kelapa lily, tanaman Hawai, Pore Ti (Maori ).

Sebelumnya dirawat di keluarga Agavaceae dan Laxmanniaceae (sekarang kedua subfamilies dari Asparagaceae dalam sistem APG III), itu adalah tanaman berkayu yang tumbuh hingga 4 m (13 kaki) tinggi, dengan daun 30–60 cm (12-24 inci) (jarang 75 cm atau 30 inci) panjang dan 5–10 sentimeter (2,0–3,9 inci) lebar di bagian atas batang berkayu. Ini menghasilkan 40-60-centimeter (16-24 inci) malai panjang beraroma bunga kekuning-kuningan kecil hingga merah yang matang menjadi buah beri merah.

Ini adalah asli ke Asia tenggara tropis, Papua New Guinea, Melanesia, Australia timur laut, Samudra Hindia, dan bagian dari Polinesia. Ini bukan asli ke Hawaii atau Selandia Baru tetapi diperkenalkan ke keduanya oleh pemukim Polinesia.

Spesies ini menyebar dari daerah asalnya di seluruh Polinesia sebagai tanaman budidaya. Rimpang starch, yang sangat manis ketika tanaman dewasa, dimakan sebagai makanan atau sebagai obat, dan daunnya digunakan untuk melapisi atap rumah, dan untuk membungkus dan menyimpan makanan. Tanaman atau akarnya disebut dalam sebagian besar bahasa Polinesia sebagai tī. Māori memberi peringkat manisnya tanaman di atas spesies Cordyline yang asli ke Selandia Baru.

Daun juga digunakan untuk membuat barang-barang pakaian termasuk rok yang dipakai dalam pertunjukan tari. Rok hula Hawaii adalah rok padat dengan lapisan buram setidaknya 50 daun hijau dan bagian bawah (bagian atas daun) dicukur rata. Gaun tari Tonga, sisi, adalah celemek sekitar 20 daun, dipakai di atas tupenu, dan dihiasi dengan beberapa daun kuning atau merah (lihat gambar di Māʻulu ʻulu).

Baca juga : Kandungan & Manfaat Tanaman Andong

Di Vanuatu, daun Cordyline, yang dikenal secara lokal oleh nama Bislama nanggaria, dipakai diikat ke dalam sabuk dalam tarian tradisional, dengan varietas yang berbeda memiliki makna simbolik tertentu. Cordylines sering ditanam di luar nakamal.

Di Hawaii kuno tanaman itu dianggap memiliki kekuatan spiritual yang besar; hanya kahuna (imam tinggi) dan aliʻi (kepala) yang mampu mengenakan dedaunan di leher mereka selama kegiatan ritual tertentu. Daun Ti juga digunakan untuk membuat lei, dan untuk membuat garis batas antara sifat-sifat itu juga ditanam di sudut-sudut rumah untuk menjaga hantu memasuki rumah atau properti (yang nama alternatifnya: terminalis). Sampai hari ini beberapa orang Hawaii menanam tī di dekat rumah mereka untuk membawa keberuntungan. Daunnya juga digunakan untuk lava kereta luncur. Sejumlah daun dicambuk bersama-sama dan orang-orang menaiki bukit di atas mereka. Hawaii Kuno juga percaya bahwa daun memiliki khasiat sebagai obat antiseptik dan diuretik.

Akar tanaman ti digunakan sebagai penutup glossy di papan selancar di Hawaii pada awal 1900-an. Ti adalah tanaman hias yang populer, dengan banyak kultivar yang tersedia, banyak dari mereka dipilih untuk dedaunan hijau atau kemerahan atau ungu.Di Hawaii, rimpang ti difermentasi dan disuling untuk membuat okolehao, minuman keras.

Buah Dewandaru Penghuni Karimunjawa

Buah Dewandaru

Dewandaru kini kembali melambung setelah ramainya Karimunjawa Jawa Tengah, dan dewandaru dianggap buah 90 an yang sudah punah. Dewandaru adalah jenis tanaman buah yang memiliki nama latin Eugenia Uniflora L, dan masih keluarga dari cermai. Tanaman ini dapat tumbuh hingga ketinggian sekitar 5 m lebih.

Buah Ndaru masih memiliki kerabat dengan jambu air, bentuknya bulat dan berlekuk. Sepintas buah ini mirip seperti buah Cermai, hanya saja warnanya akan berubah saat mendekati masa siap petik, dari hijau, kuning, oranye, hingga merah tua saat matang.

Walaupun kecil, buah ini mengandung banyak sekali manfaat loh Saboom, dalam buah ini terdapat banyak protein, karbohidrat, dan vitamin C, serta kandungan air. Dari beberapa situs kesehatan online, buah mungil ini bisa mengatasi penyakit seperti hipertensi, berfungsi sebagai anti-bakteri dan anti-oksidan, serta gejala penyakit kanker.

Baca juga : 11 Manfaat Buah Dewandaru

Mirip seperti buah legendaris Ciplukan yang sudah tak terdengar lagi kabarnya, namun tiba-tiba muncul di supermarket dengan harga mahal, buah Ndaru juga mengalami hal serupa. Jika dulu buah ini bisa dijumpai di jalan atau depan rumah, sekarang kamu masih bisa menikmati buah ini, tapi dibanderol dengan harga yang super mahal. Untuk bibit dewandaru dengan tinggi 20-40 cm, bisa dibeli dengan harga Rp30.000-Rp35.000. sedangkan buah yang sudah matang bisa mencapai 100 ribu di beberapa situs jual beli online.

Selain buah yang mengandung banyak khasiat untuk kesehatan, kayu pohon Ndaru pun mulai dicari kembali oleh para pengrajin. Yap, batang dari pohon yang katanya ajaib ini bisa disulap menjadi berbagai barang kerajinan dengan harga yang fantastis. Di sekitar objek wisata Karimunjawa, sebagian warga bahkan mengubah batang pohon ini menjadi souvenir berupa tongkat, gelang, tasbih, serta berbagai aksesoris yang laku keras di pasaran turis domestik.

Buah yang sudah semakin langka karena keberadaannya yang sangat terbatas ini menjadikan buah yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Semenjak adanya tempat wisata Pulau Karimunjawa yang ada di Jawa Tengah, buah dewandaru kini seakan hidup kembali karena di Pulau itu sangat banyak ditumbuhi pohon dewandaru. Buah dewandaru pun menjadi salah satu oleh-oleh dari Karimunjawa.

11 Manfaat Buah Dewandaru

11 Manfaat Buah dewandaru

Dewandaru adalah jenis tanaman perdu menghasilkan buah yang memiliki nama latin Eugenia Uniflora L, dan masih keluarga dari cermai. Tanaman ini dapat tumbuh hingga ketinggian sekitar 5 m lebih.

Buah dewandaru berbentuk buni atau bulat dengan diametre sekitar 1,5 cm. Warna buah ini bisa berubah secara bertingkat dari hijau ketika masih muda, menjadi kuning, orange dan merah saat buah ini matang. Biji dar buah ini kecil, keras dan berwarna coklat. Rasa dari buah ini adalah masam segar, sehingga banyak digunakan untuk rujak atau diolah menjadi asinan dan manisan.

Tanaman yang memiliki nama latin eugenia uniflora ini memiliki buah yang berbentuk bulat dengan lekukan-lekukan di sekelilingnya. Memiliki warna cerah yang beragam sehingga terlihat sangat cantik. Ada merah, kuning, orange, hingga hijau.

Oleh karena itu buah dewandaru sering dimanfaatkan pada olahan kue atau puding. Tidak hanya cantik buah dewandaru ternyata memiliki kandungan nutrisi yang penting bagi kesehatan diantaranya manfaat vitamin C dan flavonoid. Dengan mengonsumsi buah ini akan mendatangkan banyak manfaat bagi kesehatan.

Manfaat dari buah dewandaru antara lain :

  • Dapat menghambat radikal bebas
  • Mencegah kanker
  • Antibakteri
  • Dapat mengatasi rasa sakit atau nyeri
  • menyetabilkan tekanan darah
  • Meningkatkan kekebalan tubuh
  • Mencegah penuaan dini
  • Dapat mencegah penyakit sariawan
  • Memelihara kesehatan jantung
  • Dapat mencegah kerusakan pada pembuluh jantung
  • Dapat mencegah osteoporosis

Dengan mengonsumsi buah dewandaru baik dimakan langsung, dirujak, dijus, maupun diolah menjadi apapun dengan setiap hari, dapat meningkatkan kecerdasan anak. Buah dewandaru kini memang agak sulit untuk di temukan, karena tanaman ini sudah termasuk tumbuhan buah langka yang ada di Indonesia.

11 Tumbuhan Asli Indonesia

Bunga Melati merupakan Puspa Negara Indonesia

Indonesia adalah sebuah negeri yang kaya dengan Sumber Daya Alam (SDA) yang terdiri dari dua macam yakni Sumber daya alam yang ada di darat dan yang ada di laut. Indonesia terkenal akan hutan tropisnya yang masih cukup luas untuk menyimpan kekayaan flora dan fauna yang ada didalamnya.

Banyaknya tanaman yang ada di Indonesia, sebagian besar adalah tanaman asli bumi pertiwi. Namun ada pula beberapa tanaman asal luar negeri yang bisa tumbuh di subur dan dibudidayakan di Indonesia. Sekian banyaknya tumbuhan yang ada di Indonesia, kini sudah semakin berkurang karena kegiatan eksploitasi alam.

Berikut adalah tanaman asli Indonesia yang keberadaannya semakin menurun, dan beberapa sudah tidak ditemukan di habitat aslinya.

Wijaya Kusuma

Bunga Wijaya kusuma mempunyai nama latin Epiphyllum Anguliger merupakan masuk dalam jenis tanaman kaktus. Tanaman ini berasal dari Amerika Tropika yaitu Venezuela dan Caribia dan dapat tumbuh didaerah yang beriklim sedang, hingga beriklim tropis. Walau begitu, tidak semua jenis tanaman seperti ini dapat berbunga karena pengaruh dari keadaan iklim, kesuburan tanah, serta bagaimana cara memelihara.

Wijaya kusuma dapat tumbuh di iklim yang sedang, dan ia hanya akan merekah pada saat malam hari dengan waktu yang tidak lama. Tanaman jenis kaktus memang agak sulit untuk menentukan cara perawatannya secara biologis, dan berbeda dengan wijaya kusuma. Bunga ini dapat merekah secara total ketika malam hari sekitar pukul 00.00 waktu setempat.

Teratai

Teraitai (Nymphaea) adalah tumbuhan yang tumbuh dipermukaan air yang tenang. Tanaman air yang berasal dari suku Nymphaea dikenal sebagai waterlily (Bahasa Inggris). Di Indonesia, nama lain teratai adalah lotus. Bunga dan daunnya terdapat di permukaan air, keluar dari tangkai yang berasal dari rizoma yang berada didalam lumpur pada dasar kolam, sungai, atu rawa.

Tangakai terdapat di tengah-tengah daun, dan daun bunga teratai tidak mengandung lapisan lilin, sehingga air yang jatuh dipermukaan daun, tidak akan memberntuk butiran air.

Anggrek Hitam

Anggrek hitam yang bernama latin Coelogyne Pandurata merupakan jenis anggrek yang bisa tumbuh di Semenanjung Malaya, Kalimantan, dan Sumatera. Anggrek hitam menjadi maskot Flora Provinsi Kalimantan Timur yang saat ini mengalami penurunan jumlah habibat yang cukup besar. Hal ini dikarenakan semakin berkurangnya luas hutan di Kalimantan, serta banyaknya para kolektor Flora yang memburu Bunga Maskot Kalimantan Timur ini.

Indonesia memiliki beragam Flora yang sangat luar biasa. Bunga Anggrek hitam ini sudah terkenal hingga kemanca negara, bahkan anggrek hitam sudah sangat mendunia di kalangan para pecinta Flora. Selain Provinsi Kalimantan Timur, Papua juga memiliki bunga Anggrek yang sudah dikenal diberbagai negara didunia.

Melati

Bunga Melati adalah tanaman hias yang tinggi pohonnya dibawah 6 meter (Perdu), memiliki batang tegak dan hidup menahun. Melati merupakan genus dari semak dan tanaman merambat dalam keluarga Zaitun yang bernama latin Olceaceae. Tumbuhan asli daerah Tropis dan hangat ini terdiri sekitar 200 spesies di daerah Eurasia, Australasia dan Oseania.

Secara luas, Melati telah dibudidayakan karena aroma khas dari bunga Melati ini. Di Indonesia merupakan negara yang menggunakan bunga Melati untuk dijadikan sebagai “Puspa Bangsa” atau Simbol Nasional. Melati Putih (Jasminum Sambac) adalah jenis bunga Melati yang dijadikan sebagai Puspa Bangsa Indonesia, karena bunga ini melambangkan kesucian serta kemurnian yang dikaitkan dengan berbagai tradisi dari banyaknya suku di Indonesia.

Kunir

Kunir atau yang disebut dengan kunyit adalah salah satu tanaman rempah-rempah, dan juga dapat digunakan sebagai obat. Tanaman ini berasal dari wilayah Asia Tenggara, yang tersebar luas ke daerah Malaysia, Indonesia, Australia, dan Afrika.

Di Asia khususnya Indonesia, hampir seluruh penduduknya mengonsumsi tanaman rempah tersebut. Mulai dari pelengkap bumbu masakan, hingga digunakan sebagai jamu yang dapat menjaga kesehatan tubuh. Kunir temasuk dalam kelompok jahe-jahean yang dikenal sebagai tanaman herbal.

Sarang Semut

Sarang semut adalah tumbuhan asal Asia Tenggara yang menjadi salah satu flora endemik di Papua Nugini Indonesia. Tumbuhan ini memiliki lubang-lubang menyerupai sarang semut, dan tumbuh dicabang-cabang pohon besar didalam hutan.

Cara hidup tumbuhan unik ini dengan sama seperti benalu, yang mana sarang semut ini akan bergantung dan mengambil kebutuhan nutrisinya dari pohon yang ia tunbuhi tersebut. Sarang semut sangat banyak ditemukan di daerah Papua, dan ia tumbuh liar di hutan-hutan sekitar Pulau yang memiliki nama lain Mutiara Hitam ini.

Tumbuhan ini tidak berbuah, berbentuk seperti namanya yakni sarang semut, dan berbatang tunggal yang tidak memiliki cabang, serta berdaun hijau. Akar umbi sarang semut terjuntai pada cabang-cabang tanaman, dengan jumlah yang cukup banyak. Sementara bongkot tanaman ini berwarna coklat keabu-abuan, mengembang sesuai pertumbuhan, dan banyak ditumbuhi duri-duri kecil.

Cengkeh

Cengkeh adalah tanaman Indonesia yang sangat banyak kegunaannya sebagai campuran pada rokok, atau sebagai rempah untuk masakan, dan minuman rempah. Cengkeh merupakan jenis bunga berbentuk kecil, dan wangi. Bunga kering dari jenis tanaman syzgium aromaticum yang memiliki nama lain cloves. Cengkeh memiliki warna merah dalam keadaan segar, dan akan berwarna coklat kehitaman saat dikeringkan.

Tanaman yang berasal dari Nusantara ini memiliki rasa yang sedikit pedas, sehingga banyak digunakan sebagai bahan rempah makanan Eropa yang terkenal pedas. Tanaman ini sering kali dijual dalam keadaan kering, atau bubuk. Karena sampai saat ini belum ada yang menjual cengkeh dalam keadaan segar di pasaran.

Purwaceng

Purwaceng atau Purwoceng adalah tumbuhan pegunungan yang terkenal dengan akarnya yang berkhasiat untuk meningkatkan gairah seksual (afrodisiak). Biasanya akar akan diolah dalam bentuk bubuk, dan digunakan sebagai campuran kopi atau susu tertentu.

Tumbuhan kecil ini memiliki batang yang lunak dengan tumbuh mendatar diatas permukaan tanah seperti semanggi gunung, namun tidak merambat. Purwaceng banyak ditemukan di Jawa, dan memiliki daun kecil berwarna hijau kemerahan dengan diameter 1 hingga 3 cm.

Daerah yang banyak ditumbuhi purwaceng adalah dataran tinggi dieng Jawa Tengah. Tempat lain yang terdapat tumbuhan serupa adalah di Pegunungan Hyang, dan Pegunungan Tengger. Dari beberapa penelitian, diketahui bahwa ada efek nyata yang terdapat dari tanaman purwaceng terhadap peningkatan kemampuan seksual.

Tengkawang

Tengkawang adalah nama buah dan pohon yang menghasilkan minyak lemak yang berharga tinggi. Pohon tengkawang ini hanya terdapat di Pulau Kalimantan Barat dan telah dibudidayakan sejak tahun 1881 silam. Pohon ini memiliki nilai ekonomis yang baik, yang dapat menghasilkan minyak nabati. Tumbuhan ini juga termasuk dalam genus Shorea atau meranti.

Salah satu pohon jenis meranti yang merupakan tenaman endemik Kalimantan Barat adalah meranti merah. Warga setempat menyebut pohon ini dengan nama pohon Tengkawang Tungkul. Minyak Tengkawang di dapat dari biji tengkawang yang sudah dijemur atau disalai hingga kering, kemudian ditumbuk dan dikempa.

Pohon Tengkawang merupakan tanaman asli Indonesia yang menjadi flora identitas Provinsi Kalimantan Barat, dan sebanyak 12 jenis tengkawang telah dilindungi oleh Peraturan Pemerintah Republik Indonesia no.7 tahun 1999, tentang perlindungan tumbuhan dan satwa.

Daun Sang

Daun Sang, salo daun payung, atau daun raksasa merupakan jenis tumbuhan palem yang mempunyai daun yang besar, lebar, dan relatif kuat. Di Indonesia, tumbuhan yang hanya memiliki daun yang besar ini disebut dengan daun payung. Tanaman ini dikenal dengan daun salo (Kepulauan Riau), dan di Sumatera disebut dengan daun sang. Jika di pedalaman Semenanjung Malaya dan Serawak, daun ini pergunakan sebagai atap rumah mereka.

Daun raksasa termasuk tanaman palem dan merupakan salah satu tanaman di Indonesia, tepatnya di Sumatera Utara. Anda dapat menjumpai tanaman ini didaerah Aras Napal dekat dengan Taman Nasional Gunung Leuser. Tanaman daun raksasa ini memiliki nama latin Johannestijsmania altifrons, yang merupakan salah satu dari empat keluarga pinang-pinangan atau palem tersebut.

Pakis Kera

Pakis Kera

Pakis kera adalah spesies pakis yang berasal dari hutan tropis teduh yang ada di Sumatera. Tanaman berbulu ini asalnya dari pakis yang kemudian di tebas batangnya hingga bonggol. Selanjutnya, bonggol tersebut ditanam didalam pot bunga.

Sekilas tanaman ini seperti akar serabut kelapa, atau bulu monyet. Pada alam liar, Pakis monyet dapat tumbuh hingga 10 m tingginya. Bentuk yang unik dari tanaman pakis kera ini sempat menggeser trending anthurium.

Pakis kera tumbuh liar didalam hutan diwilayah Sumatera, dan menyebar luas di dalam hutan. Namun keberadaannya kini berkurang karena banyak yang memburu tanaman unik ini untuk digunakan sebagai tanaman pot hias, karena bentuknya yang unik.

Tanaman antik ini banyak di budidayakan dengan berbagai macam tujuan. Mulai dari tujuan untuk melestarikan, hingga tujuan untuk diperdagangkan. Secara tidak langsung, adanya budidaya tersebut dapat mengurangi pemburuan langsung di habitat asli pakis kera ini.

Besarnya permintaan atas pakis kera ini dikarenakan harga jual yang sangat tinggi yakni sekitar Rp 1 juta per pohon, apalagi hasil dari budidaya tanaman ini sudah pernah menjabat gelar di ajang kontes. Tentu sangat banyak para pecinta tanaman yang akan membelinya dengan harga fantastis.

Para penjual pakis jenis ini juga tidak menjual pada akarnya, karena sang pembeli akan menirima pakis kera yang sudah jadi dan tinggal merawatnya. Hal ini disebabkan karena sulitnya mencari tanaman pakis di alam liar yang semakin langka.

Lucu serta menggemaskan, pasalnya bulu yang terdapat pada tumbuhan pakis kera ini berwarna pirang coklat dengan lengkungan batang yang menyerupai ekor kera. Beberapa tempat menyebutnya dengan pakis emas, dan pakis sun go khong.

Buah Gowok Yang Terlupakan

Buah Gowok asli Indonesia

Gowok atau kupa adalah pohon berbuah dari suku jambu yang berasal dari Indonesia, yang banyak tersebar di Pulau Jawa, Sulawesi, Kalimantan. Buah lokal ini merupakan tumbuhan liar yang banyak di temukan di hutan tropis yang banyak tersebar di Indonesia.

Buah gowok atau kupa memiliki nama latin Syzygium Polycephalum, dan masih keluarga dengan buah Jamblang. Buah gowok mempunyai pohon yang tingginya antara 8 hingga 20 m, dengan bentuk buah bulat sedikit gepeng yang rasanya manis asam agak sepat.

Daging buah gowok berwarna putih yang terdapat biji berbentuk gepeng dengan kulit putih atau merah keunguan. Tumbuhan langka ini banyak ditemui di Asia Tenggara, yang biasanya banyak tumbuh di hutan sekunder pada ketinggian 200 sampai 1.800 mpdl.

Sering didapati buah gowok banyak tumbuh di pekarangan dan ditanam untuk dibudidayakan. Mengingat tanaman ini adalah tumbuhan berbuah, perkebunan gowok juga dimanfaatkan untuk diambil buahnya. Buah ini dapat dimakan secara langsung dengan mengupas kulitnya terlebih dahulu, Namun buah gowok juga sering digunakan sebagai bahan campuran rujak, atau bahan pembuatan sirup.

Dulu pada era 1980 hingga awal tahun 1990 an, buah ini sangat banyak dijumpai di beberapa pasar tradisional daerah Jawa. Namun dengan banyaknya buah impor yang memenuhi pasar-pasar lokal, membuat buah gowok ini semakin berkurang dari pasaran.

Kini buah gowok sudah jarang ditemukan dipenjual buah pasar tradisional, dan bahkan beberapa pasar tradisional sudah tidak menjual buah jenis ini. Namun gowok masih banyak tumbuh didaerah, meski sudah sulit dijumpai. Buah lokal Indonesia ini masih ada berbuah, namun tersingkirkan oleh kehadiran buah impor yang membuat buah gowok kini menjadi tidak banyak dikenal oleh para generasi muda di Indonesia.

Bunga Rafflesia Arnoldii

Rafflesia Arnoldii atau Padma Raksasa adalah tumbuhan parasit yang sangat terkenal akan bunganya yang berukuran besar, dan merupakan bunga terbesar di dunia. Bunga raksasa ini tumbuh di jaringan tumbuhan merambat dan tidak memiliki daun seperti bunga lain pada umumnya, sehingga tanaman ini tidak dapat berfoto sintetis. Bunga raksasa yang pertama ditemukan di hutan tropis Bengkulu, Sumatera pada tahun 1818. Bunga ini di temukan di suatu tempat dekat Sungai Manna (Lubuk Tapi) Kabupaten Bengkulu Selatan.

Dari penemuan tersebut, Bengkulu dikenal oleh dunia sebagai Bumi Rafflesia (The Land Of Rafflesia). Bunga raksasa ini dinamakan dengan bunga Rafflesia Arnoldii karena diambil dari kedua nama orang luar yang sedang melakukan ekspedisi di salah satu hutan tropis Indonesia yang ada di Sumatera. Nama dari bunga tersebut diambil dari Thomas Stamford Rafflesia dan Dr. Joseph Arnold, yang merupakan manusia pertama penemu bunga raksasa ini di Indonesia

Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan daerah konservasi utama bunga raksasa ini. Rafflesia adalah tumbuhan endemik Sumatera, terutama yang berada di bagian selatan seperti Bengkulu, Jambi, dan Sumatera Selatan. Bunga ini di tempatkan di taman penangkaran terdapat beberapa anggota dari Rafflesia yang lain, karena populasinya terancam punah akibat penggundulan hutan yang sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir ini.

Pulau Jawa juga memiliki bunga rakasasa yang masih satu genus dengan Rafflesia Arnoldii. Bunga parasit ini tidak memiliki akar, tidak berdaun, serta tidak memiliki tangkai. Saat sedang mekar, diameter bunga rakasasa bisa mencapai 1 meter dengan berat sekitar 11 kg. Bunga pemakan serangga ini bisa dimasukkan dalam golongan tanaman karena memiliki jaringan yang tumbuh di tumbuhan merambat.

Rafflesia memiliki lima daun mahkota yang mengelilingi bagan tengah dari bunga tersebut. Pada bagian tengah yang berlubang dari bunga kita bisa melihat ada seperti piringan berduri yang berisikan benang sari (putik). Bunga ini sangat sulit untuk dibudidayakan karena sang penyerbuk dari bunga Rafflesia adalah sang lalat, yang merupakan makanan dari bunga raksasa ini. Sedangkan persentasi pembuahan pada bunga Rafflesia sangatlah kecil, karena jenis bunga jantan dan betina sangat jarang ditemukan bisa mekar bersamaan dalam satu minggu. Bunga ini hanya bertahan hidup sekitar umur 5 sampai 7 minggu saja dan setelahnya layu lalu mati.

Tanaman Hutan Tropis Yang Sudah Langka

Daun Sang Tumbuhan Raksasa Sumatera

Salo, daun Sang, daun payung, atau daun raksasa merupakan jenis tumbuhan palem yang mempunyai daun yang besar, lebar, dan relatif kuat. Di Indonesia, tumbuhan yang hanya memiliki daun yang besar ini disebut dengan daun payung. Tanaman ini dikenal dengan daun salo (Kepulauan Riau), dan di Sumatera disebut dengan daun sang. Jika di pedalaman Semenanjung Malaya dan Serawak, daun ini pergunakan sebagai atap rumah mereka.

Daun raksasa termasuk tanaman palem dan merupakan salah satu tanaman di Indonesia, tepatnya di Sumatera Utara. Anda dapat menjumpai tanaman ini didaerah Aras Napal dekat dengan Taman Nasional Gunung Leuser. Tanaman daun raksasa ini memiliki nama latin Johannestijsmania altifrons, yang merupakan salah satu dari empat keluarga pinang-pinangan atau palem tersebut.

Daun payung adalah tanaman yang tumbuh tunggal, dengan daun yang sangat besar dan bisa memiliki panjang antara 3 hingga 6 meter dan lebar 1 meter. Jika diperhatikan dari jarak jauh, tanaman ini terlihat seperti tidak mempunyai batang. Hal ini disebabkan kecilnya batang dari tanaman ini, dan terlalu besar ukuran daunnya.

Daun sang memiliki daun yang berwarna hikau, tepian daun yang berduri, dan keras. Bercuping kecil serta memiliki pangkal dengan urat ke pokok daun. Tekstur daun payung ini sangat kuat dan mengkilat seperti daun kelapa. Bentuk daun yang meruncing keujung dan pangkal daun, melebar dibagian tengah daun. Tanaman raksasa ini juga memiliki bunga yang tumbuh pada ketiak daun, berbentuk tegak, dan berwarna putih lunak. Daun raksasa memiliki buah dengan tekstur kasar, dan ditutupi benjolan seperti gabus yang membentuk kerucut.

Tanaman jenis Johannestijsmania banyak dijumumpai tumbuh dengan sehat dihutan atau diantara pepohonan yang lebat. Karena jenis tanaman ini tidak akan dapat bertahan hidup jika langsung terkena sinar matahari. Akar dari tanaman ini tak jauh berbeda dengan akar tanaman palem yang lainnya.

Keberadaannya dihutan sudah semakin berkurang karena banyaknya kebakaran hutan yang membuat tempat berlindung daun payung ini berkurang. Daun ini juga sering dimanfaatkan sebagai atap dan dinding rumah dibeberapa wilayah seperti didaerah Besitang, dan Langkat Sumatera Utara. Daun raksasa mampu menahan air dalam jangka waktu yang cukup lama, karena teksturnya yang agak kasar, sehingga tidak mudah robek.

Bentuk dari tanaman raksasa ini cukup indah, dan banyak yang menanamnya untuk hiasan taman. Namun karena habitatnya yang berada ditempat-tempat lembab dan kurang akan sinar Matahari, membuat tanaman ini sedikit susah untuk dijadikan tanaman hias di pekarangan rumah. Tanaman ini akan tumbuh subur di hutan tropis dengan tumbuh diantara pohon-pohon yang rindang, sehingga tidak langsung terkena sinar matahari.