Tag: Satwa yang dilindungi

Hewan Unik Berkuku Ganjil

Tapir adalah hewan soliter yang memiliki keunikan dari jari-jari kakinya yang ganjil. Serta hewan berikut merupakan hewan yang dilindungi

Tapir adalah binatang herbivora yang hanya memakan dedaunan muda yang ada di sepanjang hutan atau sepanjang tepian sungai. Tapir memiliki bentuk tubuh yang menyerupai babi dengan telinga yang mirip badak, serta moncongnya sedikit panjang seperti trenggiling. Tapir adalah binatang soliter kecuali pada musim-musim kawinnya.

Hewan ini termasuk hewan nokturnal karena aktivitasnya lebih banyak di malam hari, dan ia akan mencari makanannya dengan terus berjalan jauh serta mencari lokasi yang kaya akan garam mineralnya. Hewan mamalia ini memiliki suara lenguhan yang berbeda dengan hewan mamalia lainnya, dan justru seperti suara burung yang sedang berkomunikasi dengan burung lainnya.

Ukuran tubuh tapir dewasa bisa mecapai panjang hingga 225 cm dengan bentuk yang hampir menyerupai babi. Bentuk lain yang menjadi ciri khas dari tapir adalah memiliki moncong yang seperti belalai pendek, yang selalu didekatkan dengan tanah saat ia berjalan. Moncong panjang tapir mempunyai penciuman yang sangat bagus dalam kesehariannya untuk mendapatkan makannan.

Beberap ahli menyatakan bahwa tapir memiliki penglihatan yang sangat lemah, dan hanya mengandalkan indera penciumannya dalam hidupnya. Selain bentuk tubuh dan moncongnya yang unik, tapir juga memiliki jemari yang tak kalah unik dengan keunikan lain yang dimilikinya. Jari yang ada pada kaki depan berjumlah empat, sedangkan jari kaki bagian belakang hanya berjumlah tiga jari.

Ada empat jenis tapir yang masih hidup hingga sekarang, dan tiga diantaranya bisa anda jumpai di Amerika Selatan yaitu Tapirus bairdii, Tapirus Pinchaque, dan Tapirus Terrestris. Sementara yang banyak tersebar di Asia Tenggara adalah jenis Tapirus Indicus, dan dari hal tersebut tapir sering digunakan sebagai salah satu bukti teori pemisah Benua.

Tapir yang terebar di Asia Tenggara telah meliputi bagian selatan Burma, Thailand bagian selatan, Semenanjung Malaysia, serta Indonesia. Menurut bukti yang pernah ada, penyebaran tapir sempat meliputi Pulau Jawa dan Sumatera. Namun kini cuma hanya ada tapir di Sumatera, itu pun hanya akan dijumpai di bagian Danau Toba sampai ke Lampung.

Keberadaan tapir yang kian menyusut, tak lain karena aktivitas manusia yang menyebabkan habitatnya kian sempit. Mengenai kasus pemburuan tapir tak semarak pemburuan hewan lainnya, sehingga berkurangnya populasi tapir sebagian besar dikarenakan tingkat reproduksinya yang sangat sedikit.

Hewan berkuku ganjil ini merupakan satwa liar yang dilindungi di Indonesia karena jumlah populasinya yang kian berkurang pada tiap tahunnya, serta tapir termasuk hewan langka yang dimiliki Indonesia.

Indonesia juga memiliki Banteng yang kini sedang terancam punah

Banteng banyak terdapat di Indonesia dengan sebutan Sapi Bali ini merupakan satwa yang terancam punah

Banteng adalah hewan yang masih satu familly dengan sapi yang banyak di temui di Jawa, Bali, Kalimantan, Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, dan Vietnam. Kemudian banteng dibawa ke Australia Utara saat masa kolonisasi Britania Raya 1894 yang masih dilestarikan hingga sekarang. Banteng biasanya memakan rumput, bambu, buah-buahan, dan daun ranting muda. Pada sejatinya, banteng merupakan hewan yang aktif di siang hari dan malam hari. Namun didaerah pemukiman warga, mereka beradaptasi dan menjadi hewan nokturnal.

Ukuran tubuh banteng bisa tinggi hingga mencapai 1,6 meter, dan panjang tubuh hingga 2,3 meter. Sedangkan untuk berat badan banteng jantan bisa mencapai berat satu ton, dan sang betina biasanya memiliki berat badan yang lebih ringan dari sang jantan yakni sekitar 680 hingga 810 kg. Hewan yang dikenal sebagai Sapi Bali ini biasanya akan hidup secara berkelompok dengan kawanan yang berjumlah sekitar dua hingga tiga puluhan ekor.

Banteng betina memiliki ciri-ciri warna kulit coklat kemerahan, serta tanduk yang pendek. Warna putih yang terdapat pada kaki bagian bawah, pantat, punuk, dan warna putih yang ada di sekitar mata serta moncongnya. Sedangkan sang jantan memiliki kulit yang berwarna biru hitam atau coklat gelap, dengan bentuk tanduk yang panjang melengkung keatas.

Di Indonesia terdapat tiga jenis anak banteng liar yaitu Banteng Jawa, Banteng Kalimantan, dan Banteng yang ada di Indocina. Anak banteng jenis yang terakhir kini digolongkan sebagai hewan yang terancam punah yang sudah dimasukkan kedalam catatan IUCN. Banteng merupakan sumberdaya genetik hewan asli Indonesia yang sebagian besar keluarga liarnya terebar di Indonesia. Banteng adalah satwa yang memiliki tingkat reproduksi yang sangat cepat, serta kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan yang baik. Dan yang lebih menakjubkan dari banteng adalah kemampuannya untuk menggunakan sumber daya pakan yang sangat terbatas.

Lambatnya Reproduksi Orang Utan

Orang utan merupakan sejenis kera besar dengan lengan panjang dan memiliki bulu kemerahan atau cokelat yang hidup wilayah hutan tropika Indonesia, dan Malaysia. Satwa yang memiliki nama lain mawas ini lebih banyak ditemui di Kalimantan, dan Sumatera. Mereka mempunyai tubuh gemuk besar, berleher besar, serta lengan yang panjang dan kuat. Orang utan tidak mempunyai ekor, dan memiliki kaki yang lebih pendek dari tangannya.

Biasanya orang utan memiliki tnggi sekitar 1,25 hingga 1,5 meter, serta memiliki ukuran kepala yang besar dan mulut yang tinggi. Saat sudah menginjak dewasa, pelipis orang utan akan membesar pada kedua sisi, ubun-ubun tambah besar, serta sekitar wajah mereka akan tumbuh rambut halus dan rapat. Satwa ini memiliki indra yang sama seperti manusia, dari mulai pendengaran, peraba, pengecap, penciuman, dan penglihatan. Selain memiliki 5 indra yang sama dengan manusia, tangan orang utan juga memiliki struktur yang sama seperti manusia dengan lima jari yang terdiri dari empat jari panjang serta 1 ibu jari. Orang utan jantan bisa memiliki berat badan sekitar 50 sampai 90 kg, lalu betina akan lebih kecil dari sang jantan dan hanya memiliki berat tubuh sekitar 30 hingga 50 kg.

Dalam klasfikasi mamalia, kera besar ini memiliki ukuran otak yang sangat besar, mata yang mengarah kedepan, serta fungsi tangan yang dapat melakukan genggaman. Orang utan juga termasuk dalam spesies kera besar seperti Gorila, dan simpanse. Orang utan termasuk hewan vertebrata, yang artinya mereka memiliki tulang belakang. Selain itu, orang utan juga termasuk mamalia dan primata.

Ada dua jenis orang utan di Indonesia yang berbeda bentuknya. Kedua jenis tersebut berada di dua Provinsi yang berbeda yaitu Kalimantan dan Sumatera. Orang utan Kalimantan disebut dengan Borneo Pongo pygmaeus (nama latin), dan meruakan subspesies terbesar. Sedangkan orang utan Sumatera bernama Pongo abeii (nama latin) merupakan subspesies terkecil. Perbedaan spesies antara orang utan Kalimantan dan orang utan Sumatera sejak 1,1 hingga 2,3 juta tahun yang lalu.

Meskipun orang utan termasuk omnivora, sebagian dari mereka hanya memakan tumbuhan, persentasi menunjukkan sekitar 90% dari makanannya adalah terdiri dari buah-buahan. Lalu sisanya mereka akan makan kulit pohon, bunga, nektar, dan serangga. Orang utan dapat bergerak cepat dari satu pohon ke pohon yang lain dengan cara bergelantungan serta berayun untuk berpindah tempat. Habitat asli orang utan adalah hutan hujan tropis Asia Tenggara seperti Pulau Borneo, dan Sumatera di wilayah bagan negara Indonesia dan Malaysia. Seebenarnya orang utan dapat bertahan hidup di beberapa tipe hutan mulai dari kerung, perbukitan, dan dataran rendah di daerah aliran sungai sekalipun. Karena mereka akan tinggal dengan membuat sarang yang terdiri dari dedaunan.

Hampir seperti manusia, orang utan betina biasanya akan melahirakan di usia 7 hingga 10 tahun. Masa kandungan mereka juga mirip seperti manusia antara 8,5 hingga 9 bulan, dan biasanya akan melahirkan satu anak. Reproduksi orang utan sangatlah lambat karena mereka akan melahirkan seekor anak setiap 7 sampai 8 bulan sekali. Di alam liar, orang utan yang hidup hingga 45 tahun dan sepanjang hidupnya hanya akan memiliki tiga keturunan.

Mengingat reproduksi orang utan yang sangat lambat, populasi orang utan di Borneo saat ini diperkirakan sekitar 55.000 individu. Sedangkan di Sumatera jumlah orang utan diperkirakan sekitar 200 individu. Hal ini berarti orang utan sudah semakin menurun populasinya. Faktor serius yang mengancam populasi orang utan adalah manusia. Banyaknya pemburuan liar karena derasnya perdagangan membuat populasi orang utan semakin menurun. Mamalia ini merupakan satwa yang dilindungi Undang-undang no. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. IUCN juga sudah mengategorikan orang utan sebagai Critically Endangered, dan orang utan adalah hewan endemik Indonesia.

Duyung Yang Masih Tersisa Di Penangkaran

Duyung Yang Masih Tersisa Di Penangkaran

Dugong atau duyung adalah sejenis mamalia laut yang masih salah satu anggota Sirenia. Hewan mamalia ini mampu hidup dengan usia mencapai 22 sampai 25 tahun. Duyung bukan seokor ikan, karena hewan ini menyusui anaknya dan masih merupakan kerabat evplusi dari gajah. Dugong merupakan satu-satunya lembu laut yang dapat ditemukan dikawasan perairan sekitar 37 negara di wilayah Indo-Pasifik.

Habitat asli dugong meliputi daerah pesisir dangkal hingga dalam dengan suhu hangat minimum 15 sampai 17 derajad celcius. Duyung merupakan mamlia laut herbivora atau pemakan dedaunan. Dugong atau duyung sangat bergantung kepada rumput laut sebagai sumber pakannya, sehingga penyebaran hewan ini sangat terbatas pada kawasan pantai tempat hewan ini dilahirkan.

Satwa ini membutuhkan kawasan jelajah yang luas, perairan dangkal serta tenang seperti di kawasan teluk dan hutan bakau. Moncong hewan ini menghadap ke bawah, supaya mudah untuk menjamah rumput laut yang tumbuh di dasar perairan. Mamalia ini sangat sedikit di alam bebas karena dugong menjadi buruan manusia dari beribu-ribu tahun yang lalu karena daging dan minyaknya.

CITES melarang untuk perdagangan hewan ini, dan sudah mencatat ke daftar hewan yang dilindungi. Meskipun satwa ini sudah dilindungi dibeberapa negara, namun penurunan populasinya masih sangat cepat karena pembukaan lahan baru, kehilangan habitat serta kematian yang secara tidak langsung disebabkan oleh aktivitas nelayan dalam penangkapan ikan.

Di alam bebas, duyung bisa bertahan hidup hingga usia 70 tahun lebih. Salah satu faktor menurunnya populasi duyung adalah angka kelahiran yang rendah, sehingga mengancam turunnya populasi duyung. Terkait itu, duyung juga terancam punah akibatbadai, hewan pemangsa seperti hiu, parasit, paus pembunuh, dan buaya. Hingga kini masih sangat banyak pemburuan dugong dengan menggunakan alat-alat penangkap ikan, seperti jaring ingsang yang akan membuat duyung tidak dapat bergerak. Meskipun mamalia air ini sudah dilindungi, namun minimnya reproduksi dari hewan ini sendiri.

Ancaman Serius Sang Beruang Madu

Ancaman Serius Sang Beruang Madu

Beruang madu atau Helarctos Malayanus adalah jenis beruang yang paling kecil dari delapan jenis beruang yang ada di dunia. Beruang madu merupakan fauna khas Bengkulu, dan beruang telah digunakan sebagai simbol dari Provinsi Bengkulu. Hewan ini juga menjadi maskot Kota Balikpapan, dan beruang madu di Balikpapan telah dilindungi disebuah hutan lindung yakni Hutan Lindung Sungai Wain.

Beruang adalah binatang omnivora yang bisa memakan apa saja yang ada dihutan. Mereka akan memakan aneka buah-buahan dan tanaman hutan hujan tropis, dan termasuk tunas tanaman jenis palem. Terkadang si beruang madu akan makan serangga, madu, burung, dan hewan kecil lainnya. Beruang madu mempunyai peran yang sangat penting bagi penyebar tumbuhan buah berbiji. Pasalnya jika beruang makan buah, biji ditelan utuh sehingga tidak rusak. Dan setelah buang air besar, biji yang ada didalam kotoran tersebut akan keluar dengan bentuk yang sudah tumbuh.

Buah berbiji yang sering dimakan oleh beruang adalah buah cempedak, durian, dan lahung dan banyak buah berbiji yang ia makan. Beruang sering merusak lahan pertanian, menghancurkan pisang, dan tanaman dikebun jika wilayah beruang diganggu oleh manusia. Hal ini yang sering terjadi karena akibat aktivitas manusia, beruang sering kali merasa terganggu dengan itu.

Beruang madu merupakan hewan nokturnal, atau hewan yang aktif dimalam hari. Beruang jantan akan menghabiskan waktunya ditanah, dan memanjat dipohon untuk mencari makan. Sedangkan san betina dan beruang kecil, lebih banyak menghabiskan waktunya ditanah. Hewan ini umumnya adalah hewan yang bersifat soliter, mereka juga tidak hibernasi seperti beruang lainnya dikarenakan sumber pakan beruang madu tersedia sepanjang tahun.

Dalam satu hari, beruang madu mampu berjalan sejauh 8 km hanya untuk mencari makan. Panjang tubuhnya bisa mencapai 1,40 m dengan tinggi punggungnya 70 cm. Beruang madu memiliki berat tubuh sekitar 50 hingga 65 kg, warna bulu beruang hitam dan pendek. Matanya berwarna coklat atau biru. Hidung beruang madu juga tidak terlalu moncong seperti beruang lainnya, namun reltif lebar.

Beruang madu memiliki penciuman yang sangat tajam yang sangat membantu untuk mencari makanannya. Hewan ini tidak memiliki musim kawin, akan tetapi perkawinan akan dilakukan sewaktu-waktu terutama bila beruang madu betina telah siap kawin. Proses mengandung betina sekitar 95 hingga 96 hari. Dan akan yang dilahirkan biasanya hanya berjumlah dua ekor saja serta disusui selama 18 bulan.

Kini Beruang madu sudah dikategorikan sebagai binatang yang teranjam kelangsungan hidupnya. Ancaman serius dari beruang madu adalah pemburuan liar yang ingin mengambil empedu sang beruang demi memenuhi kebutuhan pasar pengobatan tradisional. Hewan ini sudah terdaftar sebagai satwa yang telah dilindungi, karena habitat aslinya kini semakin berkurang.

Burung Elang Jawa Merupakan Maskot Pulau Jawa Yang Akan Hilang

Burung Elang Jawa atau dengan nama latin Nisaetus Bartelsi merupakan salah satu spesies elang yang memiliki ukuran tubuh sedang. Elang Jawa identik dengan lambang negara Republik Indonesia, yaitu Garuda. Dan sejak 1992, burung Elang Jawa ditetapkan sebagai maskot satwa langka Indonesia, serta hewan endemik di Pulau Jawa.

Ketika terbang, elang jawa akan terlihat seperti elang brontok dengan bentuk terang, namun cenderung akan tampak lebih kecoklatan dengan bulu perut yang terlihat lebih gelap, dan berukuran lebih kecil dari elang brontok. Elang Jawa memiliki iris mata kuning atau kecoklatan dengan paruh kehitaman dan kekuningan, sedikit daging dipangkal paruh. Elang dilengkapi kaki yang kuat dengan warna kekuningan, kepala berwarna coklat kemerahan, dan terdapat jambul yang menonjol hingga 12 cm dikepala. Warna tenguk elang jawa yaitu coklat kekuningan, namun akan terlihat keemasan jika terkena sinar matahari. Elang memiliki tubuh sedang, langsing, dengan panjang tubuh antara 60 sampai 70 cm (daru ujung paruh hingga ekor).

Burung elang jawa muda memiliki kepala dan leher berwarna coklat kayu manis terang tanpa coretan atau garis-garis. Disisi bawah tubuh juga serupa dengan warna kepala serta leher, berwarna coklat terang tanpa corak. Burung ini akan mencari mangsa dari jarak yang cukup tinggi, dan mata burung elang ini tidak bisa diragukan lagi.

Memiliki suara yang nyaring tinggi, serta akan berulang dengan satu hingga tiga suara dengan suku kata yang berbeda. Suara burung elang jawa hampir mirip dengan suara elang brontok, namun akan terdengar berbeda dari nada yang dikeluarkan. Elang jawa banyak memiliki kemiripan dengan elang brontok, namun jika kita amati dengan seksama maka akan terlihat sangat jelas dari bentuk, warna, suara, dan masih banyak perbedaan meski terlihat mirip.

Keberadaan Elang jawa bisa dibilang sangat terbatas di Pulau Jawa, hanya ada dari ujung barat Taman Nasional Ujung Kulon hingga ujung timur di Semenanjung Blambangan Purwo. Penyebaran burung ini kini sangat terbatas di wilayah-wilayah dengan hutan primer dan di daerah perbukitan berhutan. Karena sebagian besar burung ini ditemukan dibelahan selatan Pulau Jawa, dan burung ini berspesialisasi pada wilayah berlereng.

Pada umumnya habitat burung elang jawa sukar untuk dicapai, karena elang jawa menyukai daratan tinggi yang bisa mencapai hingga 2.200 m, bahkan hingga mencapai 3.000 mdpl. Elang jawa menyukai ekosistem hutan tropika yang selalu hijau, dari dataran rendah hingga dataran tinggi seperti pegunungan dan hutan yang sangat luas.

Burung karnivora ini akan bertelur mulai dari bulan Januari hingga Juni, dan akan bertelur di sarang yang terbuat dari tumpukan ranting berdaun yang disusun tinggi sekitar 20 hingga 30 diatas tanah. Burung ini akan bertelur sebanyak satu butir, dan akan dierami selama 47 hari. Sarang dari elang jawa merupakan pohon-pohon yang tinggi seperti pohon rasmala, pohon pasang, dan sejenisnya pohon tinggi didalam hutan. Mengingat kecilnya populasi elang jawa, Konservasi Dunia IUCN memasukkan elang jawa ke dalam daftar satwa yang terancam punah. Pemerintah Indonesia juga menetapkan sebagai hewan yang dilindungi oleh Undang-Undang yang berlaku.

Burung Irian Yang Pandai Berenang

Burung Kasuari Merupakan Burung Yang Memiliki Cakar Besar Yang Pandai Berenang

Casuarius atau sering desebut dengan kasuari adalah salah satu genus burung di dalam suku Casuariidae. Burung kasuari terdiri dari tiga spesies yang memiliki ukuran sangat besar, namun burung ini tidak dapat terbang. Penyebaran spesies ini adalah daerah hutan tropis dan pegunungan di pulau Irian. Kasuari Gelambir Ganda merupakan satu-satunya jenis burung kasuari yang hanya terdapat di Australia.

Kasuari memiliki tanduk yang bentuknya seperti jengger ayam, yang berfungsi sewaktu berjalan di habitat aslinya Hutan yang lebat. Lain dari pada tanduk, Kasuari juga memiliki kaki yang sangat kuat serta berkuku tajam. Burung kasuari betina biasanya memiliki ukuran kaki yang lebih besar dibanding sang jantan dan memiliki warna kaki yang lebih terang dari pada jantan.

Semua jenis kasuari adalah burung pemangsa dihutan dalam, dan sangat pandai sekali untuk menghilang sebelum manusia bisa menemukan keberadaan mereka. Ukuran kasuari betina lebih besar dan mempunyai warna lebih cerah dibandingkan sang jantan. Burung ini bisa mencapai tinggi dari 1,5 hingga 1,8 meter, terkadang sang betina dapat mencapai tinggi hingga 2 meter dan memiliki berat hingga 58,5 kg.

Semua burung kasuaru memiliki bulu yang terdiri dari poros dan barbules yang longgar, dan burung ini tidak memiliki bulu ekor. Bulu yang menyerupai rambut ini berfungsi saat si burung berlari diantar semak-semak yang banyak terdapat duri yang dapat melukai tubuhnya. Ini adalah salah satu cara untuk beradaptasi dengan wilayah serta menangkal tanaman merambat dan daun bergerigi.

Burung besar ini menggunakan kakainya sebagai senjata, yang dilengkapi dengan cakar yang sangat tajam di setiap jarinya. Cakar yang dimiliki sangat berbahaya, karena burung kasuari akan menendang hewan atau manusia jika merasa dirinya terancam. Burung ini dapat berjalan hingga 50 km/jam atau sekitar 31 mph melalui hutan lebat, dan dapat meloncat setinggi 1,5 meter. Burung kasuari juga hewan yang pandai berenang dengan menyebrangi sungai luas.

Spesies ini diduga menurun secara cepat secara keseluruhan, dan mengalami penurunan yang cepat di Australia selama tiga generasi terakhir. Kini sudah dibulatkan berjumlah sekitar 6.000 hingga 15.000 individu dewasa.  Dan kini burung kasuari telah masuk sebagai hewan yang dilindungi oleh pemerintah.

Mamalia Besar Yang Saat Ini Populasinya Semakin Mengkhawatirkan

Gajah asia sering dikenal dengan nama Elephas Maximus adalah salah satu dari tiga spesies gajah yang masih hidup, dan menjadi satu-satunya dari genus Elephas yang masih hidup. Mamalia ini merupakah hewan darat terbesar di Asia. Gajah Asia sudah sejak lama yang masuk daftar satwa terancam punah, dikarenakan habitatnya yang terus berkurang karena pembakaran hutan, serta pemburuan liar yang ingin mengambil gadingnya untuk di perdagangkan.

Kini populasi gajah dialam liar sudah tersisa sekitar 41,410 hingga 52,345 ekor saja. Mamalia raksasa ini dapat hidup hingga usia 86 tahun dialam bebas. Gajah sudah banyak di adobsi dan telah digunakan dalam kegiatan kehutanan di Asia Selatan dan Tenggara selama berabad-abad guna bertujuan untuk acara-acara tertentu.

Dari sumber beberapa sejarawan, gajah sering kali digunakan selama musim panen, dalam kegiatan penggilingan. Namun hewan ini dialam liar, terkadang suka merusak tanaman yang akan dipanen, hingga memasuki perkampungan warga untuk merusak perkebunan. Hal ini disebabkan trauma dari sang gajah yang pernah lolos dari pemburuan manusia, sehingga hewan ini akan sangat liar jika melihat manusia.

Gajah Asia menyebar di kawasan padang rumput, hutan hijau tropis, hutan semi hijau,hutan gugur lembab, hutan gugur kering, dan hutan berduri kering. Selain itu, mereka juga dapat hidup dihutan tanaman, hutan sekunder, dan semak belukar. Bahkan beberapa dari tipe habitat, gajah ini bisa hidup di dataran tinggi mencapai ketinggian 3.000 m atau 9.800 ft diatas permukaan laut.

Mamalia besar ini merupakan satwa krepuskular, yaitu hewan yang aktif saat senja tiba. Mereka dikelompokkan sebagai hewan raksasa dan dapat mengkonsumsi sekitar 150 kg pakan perhari. Gajah adalah hewan pemakan segala tumbuhan, rumput, dan pohon sekaligus. Pernah tercatat ada 112 jenis tanaman berbeda yang dimakan oleh hewan besar ini. Hewan ini tidak dapat hidup jauh dari sumber air murni, karena ia akan minum setiap sehari sekali sebanyak 80 hingga 200 liter air.

Gajah kecil akan selalu bergabung dengan sang betina dewasa, dan gajah jantan akan memisahkan mereka saat sang anak menginjak masa remaja. Alat komunikasi gajah untuk berinteraksi dengan sesama, ia menggunakan infrasonik untuk dapat berkomunikasi. Serta gajah memiliki pendengaran yang cukup bagus, karena gajah mampu mengenal suara dengan amplitudo rendah.

Burung Bidadari Halmahera Si Burung Genit Yang Harus Dijaga

Burung yang mempunyai nama latin Semioptera wallacii adalah burung yang masih satu jenis dengan burung Cenderawasih. Burung yang berasal dari Maluku ini diberi nama Burung Bidadari. Seperti namanya, burung ini memiliki bulu yang sangat indah layaknya bidadari. Selain memiliki bulu yang indah, burung ini juga mempunyai gerakan semacam tarian yang indah. Gerak tarian yang terkesan genit itu ditujukan terutama saat merayu pasangannya.

Burung bidadari ini adalah fauna endemik Pulai Halmahera, Provinsi Maluku Utara. Ukuran tubuh burung ini cukup kecil, dan hanya berukuran sekitar 28 cm dan berwarna coklat zaitun. Burung bidadari jantan memiliki mahkota berwarna ungu dan ungu pucat mengkilat, serta warna pelindung dadanya hijau zamrud.

Ciri-ciri dari burung bidadari yang paling mencolok adalah, adanya bulu putih yang panjang serta keluar menekuk dari sayapnya yang dapat digerakkan tergantung dari si burung tersebut. Burung cantik yang betina memiliki warna bulu yang kurang menarik berwarna zaitun, ekor yang lebih panjang dan ukuran tubuhnya yang lebih kecil dari sang jantan.

Makanan jenis burung yang satu ini adalah serangga, dan buah-buahan. Poligami adalah sifat burung Halmahera ini, mereka akan berkumpul dan menampilkan tarian diudara. Kegenitan burung ini akan terlihat saat tiba musim kawin, dengan memamerkan bulu indahnya serta melakukan tarian untuk memikat sang betina. Sang betina akan datang menghampiri sang jantan yang gerak tarinya paling indah.

Populasi burung genit kini sudah menurun karena korban pemburuan liar, serta rusaknya beberapa habitat aslinya. Burung bidadari kini sudah aman karena sudah didaftarkan sebagai Apendiks II Pemerintah Indonesia dalam lampiran PP no. 7 tahun 1999. Burung ini termasuk dalam daftar satwa yang dilindungi, karena populasinya di alam bebas kiri hanya tercatat sekitar 50 hingga 100 ekor saja. Upaya yang harus dilakukan dengan konservasi insitut fauna burung bidadari endemik adalah melalui pendekatan sosial masyarakat dan berguna sebagai acuan untuk masyarakat setempat dalam upaya menjaga kelesatarian alam.