Tag: Satwa unik

Indonesia juga memiliki Banteng yang kini sedang terancam punah

Banteng banyak terdapat di Indonesia dengan sebutan Sapi Bali ini merupakan satwa yang terancam punah

Banteng adalah hewan yang masih satu familly dengan sapi yang banyak di temui di Jawa, Bali, Kalimantan, Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, dan Vietnam. Kemudian banteng dibawa ke Australia Utara saat masa kolonisasi Britania Raya 1894 yang masih dilestarikan hingga sekarang. Banteng biasanya memakan rumput, bambu, buah-buahan, dan daun ranting muda. Pada sejatinya, banteng merupakan hewan yang aktif di siang hari dan malam hari. Namun didaerah pemukiman warga, mereka beradaptasi dan menjadi hewan nokturnal.

Ukuran tubuh banteng bisa tinggi hingga mencapai 1,6 meter, dan panjang tubuh hingga 2,3 meter. Sedangkan untuk berat badan banteng jantan bisa mencapai berat satu ton, dan sang betina biasanya memiliki berat badan yang lebih ringan dari sang jantan yakni sekitar 680 hingga 810 kg. Hewan yang dikenal sebagai Sapi Bali ini biasanya akan hidup secara berkelompok dengan kawanan yang berjumlah sekitar dua hingga tiga puluhan ekor.

Banteng betina memiliki ciri-ciri warna kulit coklat kemerahan, serta tanduk yang pendek. Warna putih yang terdapat pada kaki bagian bawah, pantat, punuk, dan warna putih yang ada di sekitar mata serta moncongnya. Sedangkan sang jantan memiliki kulit yang berwarna biru hitam atau coklat gelap, dengan bentuk tanduk yang panjang melengkung keatas.

Di Indonesia terdapat tiga jenis anak banteng liar yaitu Banteng Jawa, Banteng Kalimantan, dan Banteng yang ada di Indocina. Anak banteng jenis yang terakhir kini digolongkan sebagai hewan yang terancam punah yang sudah dimasukkan kedalam catatan IUCN. Banteng merupakan sumberdaya genetik hewan asli Indonesia yang sebagian besar keluarga liarnya terebar di Indonesia. Banteng adalah satwa yang memiliki tingkat reproduksi yang sangat cepat, serta kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan yang baik. Dan yang lebih menakjubkan dari banteng adalah kemampuannya untuk menggunakan sumber daya pakan yang sangat terbatas.

Kura-kura Leher Ular Ternyata Belum Masuk Perlindungan Satwa

Kura-kura Leher Ular Ternyata Belum Masuk Perlindungan Satwa

 

Kura-kura yang satu ini merupakan satwa yang cukup unik karena memiliki bentuk yang sedikit berbeda dengan kura-kura lainnya. Kura-kura yang bernama latin Chelodina Mccordi ini disebut juga dengan kura-kura leher ular. Disebut dengan leher ular karena leher sang kura-kura ini kebih oanjang dibandingkan dengan kura-kura pada umumnya. Bentuk leher yang panjang serta fleksibel merupakan ciri khas dari kura-kura ini.

Satwa unik ini hanya dapat kita temui di lahan basah Pulau Rote. Sebuah pulau kecil yang memiliki luas sekitar 98.854 hektar di ujung Selatan Indonesia, tepatnya di sebelah Barat Daya Pulau Timor yang berjarak sekitar 20 km. Wilayah Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT) inilah yang memiliki hewan bernama kura-kura leher panjang.

Tidak seperti kura-kura pada umumnya, hewan ini memiliki ukuran kecil, kepala menyerupai ular, dan sisi karapas (tempurung) yang melengkung ke atas. Dan leher kura-kura ini tidak dapat masuk kedalam tempurungnya seperti halnya kura-kura yang lain. Ya, hal ini dikarenakan lehernya yang panjang sehingga spesies ini tidak dapat menarik masuk kepalanya kedalam tempurung, dan dia hanya bisa melipat kesamping dibawah sisi tempurungnya jika merasa terancam.

Panjang lehernya bisa lebih panjang dari panjang tempurungnya sendiri yang berukuran 18 hingga 24cm dengan warna coklat keabu-abuan dan kemerah-merahan. Habitat asli dari kura-kura leher panjang ini adalah rawa, danau, dan sawah di Selatan Pulau Rote. Berkurangnya spesies jenis ini dikarenakan beberapa kolektor hewan reptil endemik Internasional, sehingga kini lebih banyak dijumpai di tempat penangkaran dibandingkan di habitat aslinya.

 

Pada tahun 1980 sudah ditetapkan oleh pemerintah atas tercatatnya kura-kura leher ular sebagai satwa yang dilindungi. Selain banyaknya pemburu liar yang ingin menjual bahkan mengkonsumsi dagingnya, hambatan yang dihadapi perkembangbiakan yaitu lamanya reproduksi yang harus menunggu hingga umur 6 tahun untuk dapat bertelur.

Hal lain yang membuat berkurangnya jumlah kura-kura leher panjang ini disebabkan sulitnya pakan yang sehat serta segar, sehingga seing kali ditemukan beberapa yang mati. Dua pertiga populasi kura-kura leher ular di Pulau Rote, kini hanya tersisa di area sempit seluas 70 km persegi di Pulau Rote. Meski begitu, menurut PP no. 7 tahun 1999 tentang pengawetan jenis Tumbuhan dan Satwa, Kura-kura leher ular belum tercatat didalamnya.