Tag: Satwa hampir punah

Hiu Karpet Bintik Penghuni Perairan Raja Ampat

Hiu Karpet Bintik adalah hewan endemik Indonesia yang menghuni perairan Raja Ampat, Papua

Hiu Karpet Berbintik adalah hewan endemik Indonesia yang menghuni perairan Kepulauan Raja Ampat. Hewan air yang memiliki nama latin Hemiscyllium Freycineti merupakan merupakan hewan bertulang belakang. Ikan hiu karpet ini juga masuk dalam jenis hiu bambu.

Hewan jenis ini, banyak ditemukan di wilayah Papua. Hiu karpet bintik mulai dikenal sejak tahun 2003, dan kini ikan jenis ini merupakan satwa yang langka dan hampir punah. Hiu karpet bintik memiliki warna kulit dengan pola yang menyerupai macan tutul.

Pola tersebut menyebar keseluruh permukaan tubuh hiu bagian atas. Kemudian untuk bentuk tubuhnya tidak jauh berbeda dengan hiu yang lainnya, dengan bagian badan yang terdiri dari ekor , dua sirip samping, dua sirip yang terdapat dibagian punggung. Mata ikan hiu karpet terletak tepat dipala bagian atas, dan ciri yang lebih mencolok adalah moncongnya yang pendek.

Tubuh hiu karpet cenderung lebih panjang, dan moncongnya cenderung lebih pendek dari moncong hiu pada umumnya. Hiu karpet memiliki spirakel yang berada di sebelah matanya, dan bentuk sirip segitiga tebal yang tumpul pada bagian ujungnya.

Ukuran panjang maksimal hiu karpet bintik jantan maupun betina sekitar 46 cm. Keberadaan hiu karpet bintik biasanya akan berenang dikedalaman sekitar 0 sampai 12 mpdl. Selain itu, hiu karpet termasuk jenis hewan kecil invertebrata yang ada di Indonesia. Habitat hiu karpet bintik berada di peraian dangkal yang banyak ditemukan terumbu karang, pasir, dan rumput laut.

Hewan bertulang belakang ini termasuk jenis satwa yang terancam punah, dan masuk ke dalam daftar hewan yang dilindungi. Salah satu faktor berkurangnya jumlah populasi hiu karpet bintik ini dikarenakan banyaknya terumbu karang sebagai tempat tinggalnya yang rusak.

Kerusakan tersebut disebabkan oleh para pencari ikan yang menangkap ikan dengan menggunakan dinamit. Keindahan warna hiu bintik ini sangat menarik orang untuk menangkapnya, dan menjadikannya penghias aquarium. Maraknya peminat yang menginginkan ikan jenis ini merupakan salah satu hal yang akan berdampak buruk untuk kelangsungan populasinya.

Tiga Satwa Langka Nyaris Punah

Satwa Endemik Indonesia yang kini sudah semakin berkurang

Indonesia sangat kaya dengan alamnya beserta isinya yang melimpah, dimana banyak terdapat aneka jenis fauna unik hingga endemik (hanya dimiliki Indonesia). Namun, akibat maraknya pemburuan hewan dan pembakaran hutan secara liar, banyak satwa Indonesia yang terus menurun jumlah populasinya dari tahun ke tahun.

Terlebih lagi ditambah faktor reproduksi satwa itu sendiri yang sangat rendah, membuat binatang tersebut menjadi langka bahkan hampir mendekati kepunahan. Hal ini akan menjadi masalah besar. Mengingat pentingnya satwa sebagai rantai makanan untuk keseimbangan alam, beberapa tahun kedepan Indonesia akan banyak kehilangan satwa endemiknya. Berikut ada 3 hewan langka Indonesia tersebut:

1. Harimau Sumatera


Indonesia mempunyai dua jenis harimau yang tidak dimiliki oleh negara lain. Binatang tersebut adalah Harimau Bali yang sudah dinyatakan punah sejak tahun 1937. Kemudian, Harimau Sumatera yang masih ada hingga sekarang dalam jumlah yang sudah sangat sedikit. Jumlah harimau Sumatra di Indonesia saat ini diperkirakan hanya berkisar 500 ekor dan menhuni pulau Sumatera saja.

2.Badak


Badak Sumatera atau badak bercula dua dan badak bercula satu dari Jawa (Badak Jawa) tergolong satwa yang sudah hampir punah di Indonesia. Dari data yang ada, jumlah Badak bercula dua kini hanya tersisa sekitar 300 ekor saja. Sedang Badak bercula satu lebih cenderung sangat kritis, karena jumlahnya tercatat sisa puluhan ekor saja. Karenanya, telah dibuat penangkaran khusus di Ujung Kulon Banten untuk melindungi populasi Badak bercula satu.

3.Orang Utan


Orang Utan Kalimantan dan Sumatera juga masuk dalam daftar satwa langka dilindungi yang di Indonesia. Dari segi fisik Orang Utan Sumatera ini berukuran lebih kecil dari Orang utan Kalimantan. Selainitu, dibandingkan dengan orang Utan Kalimantan, Orang utan Sumatera memiliki jumlah populasi lebih sedikit.