Tag: Satwa Endemik Indonesia

Kanguru Pohon Mantel Emas

Kanguru Pohon Mantel Emas merupakan hewan endemik Indonesia yang mendominasi Pegunungan sekitar Papua

Kanguru pohon mantel emas adalah satwa marsupial atau mamalia yang memiliki kantung diperutnya seperti kanguru pada umumnya, dan kanguru tersebut merupakan kanguru pohon. Kanguru jenis ini merupakan hewan endemik Indonesia yang terdapat di Papua Nugini.

Mamalia bertubuh coklat muda ini biasanya akan memakan buah dan biji-bijian. Bulu halus berwarna coklat merupakan ciri khas dari kanguru ini. Hewan ini juga memiliki ekor yang panjang, serta terdapat motif lingkaran yang menyerupai cincin dengan warna bulu yang lebih cerah.

Pada bagian pipi dan kakinya terhiasi warna kuning keemasan, dan inilah yang menjadikan kanguru Papua ini dijuluki dengan kanguru mantel emas. Kanguru jenis ini ditemukan diwilayah terpencil tepatnya di Pegunungan Foja Papua, Indonesia.

Panjang ukuran tubuhnya sekitar 41 hingga 77 cm, dengan panjang ekor sekitar 40 hingga 80 cm. Sedangkan untuk berat badan kanguru mantel emas berkisar antara 7 hinga 15 kg, dan ia cenderung akan menghabiskan waktunya untuk beraktivitas di atas pohon.

Kanguru pohon milik Papua ini belum banyak diketahui informasinya karena keberadaannya yang sudah langka. Terlebih lagi, rusaknya habitat asli dari kanguru Papua yang disebabkan dari aktivitas manusia. Pada tahun 2015, IUCN memasukkan kanguru pohon mantel emas ke dalam kategori kritis. Dalam 30 teakhir, IUCN telah mencatat bahwa populasinya kini menurun sebanyak 80%. Salah satu ancaman serius bagi kanguru pohon mantela emas adalah manusia. Perburuan liar terhadap spesies ini sangat marak, karena sebagian dari manusia tengah menjadikannya bahan dasar makanan.

Kanguru pohon mantel emas hampir mendominasi wilayah Papua, dengan menempati sekitar 80% daratan Papua. Beberapa tempat yang menjadi tempat tinggal hewan endemik Papua antara lain seperti Manokwari, Bintuni, Sorong, Maybrat, Waigeo, Fakfak, dan Raja Ampat.

Tiga Satwa Langka Nyaris Punah

Satwa Endemik Indonesia yang kini sudah semakin berkurang

Indonesia sangat kaya dengan alamnya beserta isinya yang melimpah, dimana banyak terdapat aneka jenis fauna unik hingga endemik (hanya dimiliki Indonesia). Namun, akibat maraknya pemburuan hewan dan pembakaran hutan secara liar, banyak satwa Indonesia yang terus menurun jumlah populasinya dari tahun ke tahun.

Terlebih lagi ditambah faktor reproduksi satwa itu sendiri yang sangat rendah, membuat binatang tersebut menjadi langka bahkan hampir mendekati kepunahan. Hal ini akan menjadi masalah besar. Mengingat pentingnya satwa sebagai rantai makanan untuk keseimbangan alam, beberapa tahun kedepan Indonesia akan banyak kehilangan satwa endemiknya. Berikut ada 3 hewan langka Indonesia tersebut:

1. Harimau Sumatera


Indonesia mempunyai dua jenis harimau yang tidak dimiliki oleh negara lain. Binatang tersebut adalah Harimau Bali yang sudah dinyatakan punah sejak tahun 1937. Kemudian, Harimau Sumatera yang masih ada hingga sekarang dalam jumlah yang sudah sangat sedikit. Jumlah harimau Sumatra di Indonesia saat ini diperkirakan hanya berkisar 500 ekor dan menhuni pulau Sumatera saja.

2.Badak


Badak Sumatera atau badak bercula dua dan badak bercula satu dari Jawa (Badak Jawa) tergolong satwa yang sudah hampir punah di Indonesia. Dari data yang ada, jumlah Badak bercula dua kini hanya tersisa sekitar 300 ekor saja. Sedang Badak bercula satu lebih cenderung sangat kritis, karena jumlahnya tercatat sisa puluhan ekor saja. Karenanya, telah dibuat penangkaran khusus di Ujung Kulon Banten untuk melindungi populasi Badak bercula satu.

3.Orang Utan


Orang Utan Kalimantan dan Sumatera juga masuk dalam daftar satwa langka dilindungi yang di Indonesia. Dari segi fisik Orang Utan Sumatera ini berukuran lebih kecil dari Orang utan Kalimantan. Selainitu, dibandingkan dengan orang Utan Kalimantan, Orang utan Sumatera memiliki jumlah populasi lebih sedikit.

Salah Satu Satwa Indonesia Yang Luput Dari Perlindungan

Kodok merah darah adalah hewan endemik Indonesia, dan merupakan aset negeri yang tak terjangkau oleh perlidungan satwa langka yang hampir punah

Kodok Merah adalah salah satu hewan endemik Indonesia yang hanya dapat ditemukan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Kodok yang merupakan salah satu hewan langka yang dimiliki Indonesia ini memiliki tubuh berwarna merah, sehingga beberapa orang menyebutnya dengan kodok darah.

Meski disebut dengan kodok merah, warna merah darah tersebut tidak merata di bagaian seluruh tubuhnya. Karena warna merah tersebut berupa bercak-bercak yang memang menyerupai warana darah. Jenis kodok yang satu ini bisa ditemui di daerah perairan dengan arus lamba, dan di aliran sungai kecil di pegunungan.

Tempat yang disukai oleh kodok merah ini adalah daerah perbatasan antara dataran rendah lembab dengan hutan pegunungan. Hewan ampibi ini menjadi salah satu hewan langka yang terancam punah, dan IUCN Redlist dengan cepat memasukkan kodok merah ini menjadi hewan Indonesia yang berstatus Critically Endangered (kritis). Meski demikian, satwa ini tidak dicantumkan di daftar satwa yang dilindungi.

Pada tahun 1976, jenis kodok merah sangat banyak di temui di Beberapa wilayah di Indonesia yang bertanah lembab. Kemudian pada tahun 1987, keberadaan kodok merah mulai menurun karena meletusnya Gunung Galunggung waktu itu yang menyebabkan penurunan jumlah populasinya.

Kodok merah berukuran kecil dan ramping, dengan seluruh kulitnya yang dipenuhi bintik-bintik berwarna merah darah. Karena hewan ini termasuk hewan endemik lokal, hewan ini menjadi sangat langka karena penyebarannya yang sempit di Indonesia. Hal ini disebabkan habitatnya yang berada di dataran rendah lembab sudah berkuran, dan sudah banyak dugunakan untuk aktivitas manusia.

Kini kelangsungan hidup kodok merah hanya bergantung kepada kebun binatang, dengan tempat yang lembab dan tumbuhan air berdaun lebar sebagai penyimpan telur-telur kodok. Peristiwa menyeramkan ini mungkin karena pemegang kebijakan Indonesia yang kurang responsif, atau mungkin meremehkan hewan ampibi ini.

Jika diperhatikan, kodok memiliki peranan penting sebagai indikator perubahan cuaca dan lingkungan. Ditambah jenis kodok merah merupakan salah satu aset negeri yang langka, dan harus dikembang biakkan serta dijaga untuk kelangsungan hidupnya di dalam maupun diluar alam bebas habitat aslinya.