Tag: Jenis fauna indonesia

Burung Gemak

Burung gemak atau burung puyuh adalah jenis burung kecil berekor pendek dengan tubuh gempal yang bisa terbang tinggi. Burung jenis ini merupakan burung yang lebih sering berjalan kaki dibanding terbang. Makanan dari burung gemak berupa biji-bijian, buah, dan serangga yang ada di permukaan tanah.

Pada zaman dahulu, burung puyuh sering ditangkap untuk dikonsumsi daging dan telurnya. Itulah yang menyebabkan jumlahnya turun drastis di alam. Di Jawa dan Bali dapat ditemukan tiga jenis puyuh, yaitu gemak tegalan, gemak loreng, dan puyuh batu.

Kata gemak dan puyuh dalam dunia akademis merujuk pada dua suku burung yang berbeda. Namun dalam pembahasan ini saya memasukkan mereka ke dalam kelompok yang sama karena mereka memiliki morfologi tubuh yang serupa. Selain itu, masyarakat awam juga menyebut gemak dan puyuh untuk satu jenis burung yang sama.

Gemak tegalan dan loreng dimasukkan dalam family turnicidae. Suku ini memiliki anggota yang umumnya betina lebih besar dan lebih mencolok dibandingkan jantan. Betina akan kawin dengan beberapa jantan dan meninggalkan telur yang akan dierami oleh si jantan.

Burung jantan juga bertugas merawat anak-anaknya hingga dewasa dan dapat hidup sendiri. Ketika masa kawin tiba, betina akan menarik perhatian jantan untuk kawin dengannya. Si jantan akan memilih betina yang akan dikawininya, umumnya jantan memilih betina yang bertubuh lebih besar dengan penampilan menarik. Sedangkan gemak loreng merupakan anggota family phasianidae, satu suku dengan ayam-ayaman. Suku ini memiliki ciri berupa jantan yang berwarna lebih menarik dan mencolok.

Si betina bertubuh lebih suram untuk menyamarkan diri dengan keadaan sekitar. Menjelang kawin, si jantan akan menarik betina untuk kawin dengannya. Betina akan memilih jantan yang memiliki tubuh paling menarik dibandingkan yang lainnya.

Burung gemak atau puyuh merupakan burung liar yang juga diburu untuk diternak oleh beberapa orang yang membudidayakan burung ini, maupun yang ingin memperdagangkannya. Karena hingga saat ini, burung gemak tidak termasuk satwa yang dilindungi.

Burung Pipit

Burung pipit

Burung pipit adalah nama umum untuk sekelompok burung kecil pemakan biji-bijian yang banyak tersebar di daerah tropis. Di Indonesia, burung pipit termasuk jenis hewan yang kurang disukai oleh para petani karena suka memakan biji padi atau biji jagung sehingga merusak tanaman mereka.

Burung pipit memiliki ukuran yang cukup kecil, panjang tubuhnya hanya sekitar 10 sampai 12 cm. Pipit yang paling besar adalah jenis Gelatik Jawa yang panjangnya bisa mencapai 17 cm dengan berat 25 gram. Kendati memiliki ukuran kecil, tetapi umur burung pipit terbilang cukup panjang. Burung pipit bisa hidup mulai dari enam sampai delapan tahun lamanya.

Kebanyakan burung pipit tidak tahan dengan iklim dingin dan memerlukan habitat hangat seperti di wilayah tropika. Namun ada pula sebagian kecil jenis yang beradaptasi dengan lingkungan dingin di Australia selatan. Pipit bertelur 4-10 butir, putih, yang disimpan dalam sarangnya yang berupa bola-bola rumput.

Jenis-jenis pipit (termasuk bondol dan gelatik) senang berkelompok, dan sering terlihat bergerak dan mencari makanan dalam gerombolan yang cukup besar. Burung-burung ini memiliki perawakan dan kebiasaan yang serupa, namun warna-warni bulunya cukup bervariasi.

Burung pipit sangat cepat dalam melakukan repoduksi. Namun hingga sampai saat ini, burung pipit belum dimasukkan ke dalam daftar satwa yang dilindungi. Maka dari itu, tak jarang bebapa orang juga memburu burung yang biasanya memakan padi-padian di sawah ini untuk dimakan dagingnya.

Mengenal Babirusa

Babirusa adalah hewan endemik Indonesia yang berada di Sulawesi dan Maluku

Babirusa adalah jenis babi liar yang hanya ada di Indonesia, yang terdapat di sekitar Sulawesi dan Maluku. Habitat asli babirusa adalah jenis hutan hujan tropis. Babi jenis ini sama halnya seperti babi yang lain, yang gemar memakan buah-buahan serta tumbuhan seperti mangga, jamur, dan dedaunan.

Babirusa merupakan hewan nokturnal, dimana satwa ini hanya akan berburu makanan dimalam hari untuk mengindari binatang buas pemangsanya. Ukuran tubuh babirusa lebih besar dari babi hutan biasa yakni sekitar 87 hingga 106 cm. Sedangkan tingginya berkisar antara 65 sampai 80 cm dengan berat tubuh mencapai 90 kg.

Jenis jantan memiliki taring yang menjulang keatas, sementara betina hanya memiliki taring dengan ukuran kecil. Sedangkan terdapat dua taring yang mencuat keatas di dekat mata yang berfungsi sebagai pelindung mata dari semak berduri.

Meski babirusa bersifat penyendiri, namun pada umumnya mereka hidup berkelompok dengan satu pejantan yang paling kuat sebagai pemimpin. Babirusa termasuk hewan yang pemalu, dan ia akan berubah menjadi buas ketika merasa terganggu.

Mamalia hutan ini memiliki masa kehamilan sekitar 125 hingga 150 hari, dan ia akan melahirkan satu hingga dua ekor anak saat melahirkan. Selanjutnya bayi babirusa akan di susui kurang lebih selama satu bulan, dan ia akan mencari makan sendiri di hutan bebas besama induknya.

Masa reproduksi babirusa sangat lama, sang betina akan melahirkan hanya satu kali dalam setahun. Sedangkan usia dewasa babirusa yakni 5 hingga 10 bulan, dan ia hanya bertahan hingga usia 24 tahun.

Sejak tahun 1996 silam, babirusa sudah masuk dalam kategori hewan langka yang dilindungi oleh IUCN dan CITES. Hal ini dikarenakan pemburuan penduduk setempat yang sengaja membunuhnya karena dianggap perusak lahan pertanian dan perkebunan. Tak jarang babirusa diburu untuk dimakan dan diperjual bellikan dagingnya.

Kini jumlah hewan endemik Indonesia ini diperkirakan tersisa 4000 ekor saja. Meski demikian, masih sering dijumpai adanya perdagangan daging babirusa di daerah Sulawesi Utara. Dari kejadian tersebut, pusat penelitian dan pengembangan biologi LIPI berkerja sama dengan pemerintah daerah setempat untuk melindungi babirusa.

Departemen Kehutanan dan Universitas Sam Ratulangi juga mengadakan program perlindungan serta pengawasan habitat asli hewan endemik Indonesia ini, dan meraka juga membuat taman perlindungan babirusa di atas tanah yang luasnya mencapai 800 hektare.

Katak Jenis Baru Di Indonesia

Megophrys Lancip merupakan katak jenis baru

Keaneka ragaman fauna di Indonesia tercatat kian menurun menurut jenis satwa yang terancam punah. Diawali dengan populasinya yang berkurang karena faktor alam, reproduksi, serta pemburuan yang semakin marak terjadi. Disisi lain, ada beberapa fauna yang bertambah seiring ditemukannya jenis satwa baru.

Akhir-akhir ini, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah menemukan katak dan cicak yang merupakan jenis baru. Katak jenis baru ini sebenarnya sudah banyak diburu manusia untuk dipelihara karena bentuknya yang unik. Namun hingga sampai saat ini belum diketahui secara ilmiah tentang namanya.

Katak jenis baru ini diberi nama ilmiah Megophrys Lancip, yang berarti katak mulut lancip. Sebelumnya banyak yang tidak menyadari jika ternyata katak tersebut adalah jenis baru, dan LIPI langsung melakukan eksplorasi tentang katak jenis baru tersebut pada tahun 2013 lalu.

Awal ditemukannya katak jenis Megophrys Lancip yakni di kebun kopi Ngarip, di sebuah Desa kecil kawasan Lampung, Sumatera. Saat melakukan penelitian tentang jenis katak baru ini perlu dibutuhkan kejelian karena bentuk katak tersebut sangat menyerupai sampah organik (serasah).

Sekilah bentuk katak moncong lancip menyerupai jenis katak yang ada di Jawa dan juga Sumatera. Namun setelah dilakukan tes DNA, ternyata jenis Megophrys Lancip berbeda dan tim LIPI langsung melakukan ekspedisi untuk menindak lanjuti jenisnya.

Katak jenis Megophrys Lancip memang sudah ada di Indonesia sejak lama, namun jenis baru ini memiliki ciri dan bentuk yang berbeda dengan katak yang sudah ada. Kehadirannya pun membuat ramai media karena bentuknya yang unik, setelah ditelusuri ternyata sudah lama katak ini di perjual belikan kepada pecinta katak.

Hingga kini belum ada yang memperhatikan tentang keberadaan fauna jenis katak untuk dimasukkan ke dalam daftar satwa yang dilindungi. Sebenarnya katak sangat penting bagi kehidupan di alam bebas sebagai rantai makanan, dan sebagai pemberi isyarat pergantian iklim di Indonesia.

9 Fauna Indonesia Yang Dilindungi

Indonesia memiliki kekayaan yang terdiri dari kumpulan flora dan fauna terlengkap didunia. Berikut adalah beberapa jenis fauna yang menghuni dan tersebar di wilayah Indonesia.

Kasuari


Kasuari adalah salah satu genus burung di dalam suku Casuariidae. Burung kasuari terdiri dari tiga spesies yang memiliki ukuran sangat besar, namun burung ini tidak dapat terbang. Penyebaran spesies ini adalah daerah hutan tropis dan pegunungan di pulau Irian. Kasuari Gelambir Ganda merupakan satu-satunya jenis burung kasuari yang hanya terdapat di Australia.

Kasuari adalah burung pemangsa dihutan dalam, dan sangat pandai sekali untuk menghilang sebelum manusia bisa menemukan keberadaan mereka. Ukuran kasuari betina lebih besar dan mempunyai warna lebih cerah dibandingkan sang jantan. Burung ini bisa mencapai tinggi dari 1,5 hingga 1,8 meter, terkadang sang betina dapat mencapai tinggi hingga 2 meter dan memiliki berat hingga 58,5 kg.

 

Elang Jawa


Burung Elang Jawa atau dengan nama latin Nisaetus Bartelsi merupakan salah satu spesies elang yang memiliki ukuran tubuh sedang. Elang Jawa identik dengan lambang negara Republik Indonesia, yaitu Garuda. Dan sejak 1992, burung Elang Jawa ditetapkan sebagai maskot satwa langka Indonesia, serta hewan endemik di Pulau Jawa.

Keberadaan Elang jawa bisa dibilang sangat terbatas di Pulau Jawa, hanya ada dari ujung barat Taman Nasional Ujung Kulon hingga ujung timur di Semenanjung Blambangan Purwo. Penyebaran burung ini kini sangat terbatas di wilayah-wilayah dengan hutan primer dan di daerah perbukitan berhutan. Karena sebagian besar burung ini ditemukan dibelahan selatan Pulau Jawa, dan burung ini berspesialisasi pada wilayah berlereng.

 

Beruang Madu


Beruang madu atau Helarctos Malayanus adalah jenis beruang yang paling kecil dari delapan jenis beruang yang ada di dunia. Beruang madu merupakan fauna khas Bengkulu, dan beruang telah digunakan sebagai simbol dari Provinsi Bengkulu. Hewan ini juga menjadi maskot Kota Balikpapan, dan beruang madu di Balikpapan telah dilindungi disebuah hutan lindung yakni Hutan Lindung Sungai Wain.

Beruang adalah binatang omnivora yang bisa memakan apa saja yang ada dihutan. Mereka akan memakan aneka buah-buahan dan tanaman hutan hujan tropis, dan termasuk tunas tanaman jenis palem. Terkadang si beruang madu akan makan serangga, madu, burung, dan hewan kecil lainnya.

Beruang madu mempunyai peran yang sangat penting bagi penyebar tumbuhan buah berbiji. Pasalnya jika beruang makan buah, biji ditelan utuh sehingga tidak rusak. Dan setelah buang air besar, biji yang ada didalam kotoran tersebut akan keluar dengan bentuk yang sudah tumbuh.

 

Dugong


Dugong atau duyung adalah sejenis mamalia laut yang masih salah satu anggota Sirenia. Hewan mamalia ini mampu hidup dengan usia mencapai 22 sampai 25 tahun. Duyung bukan seokor ikan, karena hewan ini menyusui anaknya dan masih merupakan kerabat evplusi dari gajah. Dugong merupakan satu-satunya lembu laut yang dapat ditemukan dikawasan perairan sekitar 37 negara di wilayah Indo-Pasifik.

Habitat asli dugong meliputi daerah pesisir dangkal hingga dalam dengan suhu hangat minimum 15 sampai 17 derajad celcius. Duyung merupakan mamlia laut herbivora atau pemakan dedaunan. Dugong atau duyung sangat bergantung kepada rumput laut sebagai sumber pakannya, sehingga penyebaran hewan ini sangat terbatas pada kawasan pantai tempat hewan ini dilahirkan.

 

Gagak Banggai


Gagak Banggai adalah burung asli Indonesia yang berada di Sulawesi. Burung gagak banggai merupakan jenis burung dari keluarga burung gagak yang berada di Banggai. Pada tahun 2007, para ahli pernah menyatakan burung ini sudah punah karena keberadaannya yang sudah jarang ditemui.

Dalam beberapa waktu terakih di dalam sebuah ekspedisi ilmiah, pernah dijumpai burung gagak banggai untuk beberapa kali di Pulau Peleng. Kemudian untuk saat ini, IUCN telah mencatat burung Gagak Banggai sebagai satwa yang berstatus sangat terancam punah.

 

Rangkong Gading


Burung Enggang Gading atau Rangkong Gading adalah burung yang memiliki ukuran besar, dengan bentuk paruh yang berukuran besar. Burung ini termasuk burung purba yang masih hidup, dan memiliki nilai budaya yang sangat tinggi di Indonesia.

Di Indonesia, burung istimewa ini disebut sebagai petani hutan sejati. Hal ini disebabkan karena burung enggang merupakan burung pemakan buah yang tidak mencerna biji, dan menyebarkan biji tersebut melalui kotorannya. Burung-burung inilah yang menanam pohon secara alami di hutan lepas Indonesia.

Pulau Sumatera memiliki jumlah terbanyak dengan sembilan jenis burung rangkong, kemudian Kalimantan juga memiliki burung jenis ini dengan jumlah delapan jenis. Hutan Indonesia merupakan habitat nyaman bagi 13 jenis burung rangkong yang tersebar luas di hutan tropis, dan tiga diantaranya bersifat endemik.

 

Kanguru Pohon Mantel Emas


Kanguru pohon mantel emas adalah satwa marsupial atau mamalia yang memiliki kantung diperutnya seperti kanguru pada umumnya, dan kanguru tersebut merupakan kanguru pohon. Kanguru jenis ini merupakan hewan endemik Indonesia yang terdapat di Papua Nugini.

Mamalia bertubuh coklat muda ini biasanya akan memakan buah dan biji-bijian. Bulu halus berwarna coklat merupakan ciri khas dari kanguru ini. Hewan ini juga memiliki ekor yang panjang, serta terdapat motif lingkaran yang menyerupai cincin dengan warna bulu yang lebih cerah.

Hiu Gergaji Sentani


Ikan Hiu Gergaji merupakan ikan laut yang beradaptasi dengan perairan air tawar, yang terkenal dengan sebutan ikan hiu gergaji Sentani. Ciri khas ikan hiu jenis ini adalah memiliki moncong panjang seperti pedang, dengan deretan gergaji kecil yang tumbuh di sisi samping moncongnya.

Ikan endemik Danau Sentani Papua ini memakan udan kecil, dan ikan-ikan kecil yang ada disekitar habitatnya. Ikan hiu gergaji merupakan hewan ovovivipar, atau hewan yang berkembang biak dengan cara bertelur dan beranak. Hiu yang memiliki nama latin Pristis Microdon ini terkenal hingga ke mancanegara dengan sebutan Largetooth Sawfish, yang berarti ikan hiu bergigi besar.

 

Jalak Bali


Burung Jalak Bali adalah jenis burung pengicau berukuran sedang dengan panjang tubuh sekitar 25 cm. Jalak Bali hanya ada di hutan bagian barat Pulau Bali, dan merupakan Hewan Endemik Indonesia yang menghuni Pulau Bali. Burung ini sempat dinobatkan sebagai lambang fauna Provinsi Bali pada tahun 1991 silam.

Tidak semua para pecinta burung di Bali bisa memiliki burung yang unik ini. Hal ini karena burung Jalak Bali adalah burung istimewa, dan jenis satwa endemik yang memiliki keunikan yang tak akan ditemukain di tempat lain selain di Pulau Bali.

Burung Enggang Gading Istimewa Kalimantan barat

Burung Enggang Gading

Burung Enggang Gading atau Rangkong Gading adalah burung yang memiliki ukuran besar, dengan bentuk paruh yang berukuran besar. Burung ini termasuk burung purba yang masih hidup, dan memiliki nilai budaya yang sangat tinggi di Indonesia.

Pulau Sumatera memiliki jumlah terbanyak dengan sembilan jenis burung rangkong, kemudian Kalimantan juga memiliki burung jenis ini dengan jumlah delapan jenis. Hutan Indonesia merupakan habitat nyaman bagi 13 jenis burung rangkong yang tersebar luas di hutan tropis, dan tiga diantaranya bersifat endemik.

Burung enggang dipercaya sebagai tinggang atau simbol alam atas (alam kedewataan), terutama bagi masyarakat Kalimantan barat. Di Indonesia, burung istimewa ini disebut sebagai petani hutan sejati. Hal ini disebabkan karena burung enggang merupakan burung pemakan buah yang tidak mencerna biji, dan menyebarkan biji tersebut melalui kotorannya. Burung-burung inilah yang menanam pohon secara alami di hutan lepas Indonesia.

Burung rangkong gading jantan memiliki leher yang tidak berbulu dengan warna merah, sementara keher yang terdapat pada betina berwarna biru pucat. Burung endemik Kalimantan ini sangat mudah sekali untuk dikenali, karena ukurannya yang sangat besar. Ciri khas burung rangkong gading, ian memiliki ekor berwarna putih dengan garis hitam melintang.

Pada sayap terdaat garis putih lebar, dan memiliki tanduk berwarna kuning kemerahan tepat di atas paruh. Sedangakan warna paruh berwarna sama kuning kemerahan, warna kaki coklat, dan iris berwarna merah. Burung rangkong tidak dapat berkicau karena bukan jenis burung kicau, dan ia hanya mengeluarkan suara menyerupai terompet yang di tiup berulang-ulang.

Seperti yang kita tahu, jenis makanan burung enggang gading adalah buah-buahan, biji-bijian, dan serangga. Burung ini sangat berguna untuk pelestarian tumbuhan khususnya Ficus sp yang hanya tumbuh di hutan tropis, karena ia akan menyebarkan benih biji yang ia makan melalui kotorannya saat terbang.

Awal penemuan burung berparuh besar ini terdapat di Semenanjung Malaya, Sumatera, dan Kalimantan. Burung langka ini termasuk dalam jenis fauna yang dilindungi undang-undan, dan Burung Enggang Rangkong juga menjadi maskot Provinsi Kalimantan Barat.

Burung enggang gading bersifat monogami, yang berarti burung ini hanya memiliki satu pasangan seumur hidupnya. Ia akan bersarang di pohon yang berlubang dengan ketinggian sekitar 50 m, namun ia hanya mencari pohon dengan lubang alami karena burung enggang tidak bisa membuat lubang sendiri.

Burung enggang rangkong diketahui memiliki masa berkembang biak terlama yakni 150 hari dalam masa penetasan, dan sang betina akan berada di dalam sarang untuk menemani anaknya. Lalu sang jantan akan menutup lubang tersebut dengan menggunakan kotoran dan tanah liat, kemudian ia hanya menyisakan lubang kecil untuk dapat mengeluarkan paruh saat sang jantan memberi makan.

Kini keberadaan burung endemik Kalimantan barat ini sudah sangat mengkhawatirkan dengan jumlah populasinya yang semakin menurun. Selain proses reproduksi yang sangat lama, burung ini juga sering diburu untuk diambil kepalanya dengan dasar perdagangan. Di hutan saat ini sudah jarang terdengar suara burung langka ini.

Kanguru Pohon Mantel Emas

Kanguru Pohon Mantel Emas merupakan hewan endemik Indonesia yang mendominasi Pegunungan sekitar Papua

Kanguru pohon mantel emas adalah satwa marsupial atau mamalia yang memiliki kantung diperutnya seperti kanguru pada umumnya, dan kanguru tersebut merupakan kanguru pohon. Kanguru jenis ini merupakan hewan endemik Indonesia yang terdapat di Papua Nugini.

Mamalia bertubuh coklat muda ini biasanya akan memakan buah dan biji-bijian. Bulu halus berwarna coklat merupakan ciri khas dari kanguru ini. Hewan ini juga memiliki ekor yang panjang, serta terdapat motif lingkaran yang menyerupai cincin dengan warna bulu yang lebih cerah.

Pada bagian pipi dan kakinya terhiasi warna kuning keemasan, dan inilah yang menjadikan kanguru Papua ini dijuluki dengan kanguru mantel emas. Kanguru jenis ini ditemukan diwilayah terpencil tepatnya di Pegunungan Foja Papua, Indonesia.

Panjang ukuran tubuhnya sekitar 41 hingga 77 cm, dengan panjang ekor sekitar 40 hingga 80 cm. Sedangkan untuk berat badan kanguru mantel emas berkisar antara 7 hinga 15 kg, dan ia cenderung akan menghabiskan waktunya untuk beraktivitas di atas pohon.

Kanguru pohon milik Papua ini belum banyak diketahui informasinya karena keberadaannya yang sudah langka. Terlebih lagi, rusaknya habitat asli dari kanguru Papua yang disebabkan dari aktivitas manusia. Pada tahun 2015, IUCN memasukkan kanguru pohon mantel emas ke dalam kategori kritis. Dalam 30 teakhir, IUCN telah mencatat bahwa populasinya kini menurun sebanyak 80%. Salah satu ancaman serius bagi kanguru pohon mantela emas adalah manusia. Perburuan liar terhadap spesies ini sangat marak, karena sebagian dari manusia tengah menjadikannya bahan dasar makanan.

Kanguru pohon mantel emas hampir mendominasi wilayah Papua, dengan menempati sekitar 80% daratan Papua. Beberapa tempat yang menjadi tempat tinggal hewan endemik Papua antara lain seperti Manokwari, Bintuni, Sorong, Maybrat, Waigeo, Fakfak, dan Raja Ampat.

Hiu Karpet Bintik Penghuni Perairan Raja Ampat

Hiu Karpet Bintik adalah hewan endemik Indonesia yang menghuni perairan Raja Ampat, Papua

Hiu Karpet Berbintik adalah hewan endemik Indonesia yang menghuni perairan Kepulauan Raja Ampat. Hewan air yang memiliki nama latin Hemiscyllium Freycineti merupakan merupakan hewan bertulang belakang. Ikan hiu karpet ini juga masuk dalam jenis hiu bambu.

Hewan jenis ini, banyak ditemukan di wilayah Papua. Hiu karpet bintik mulai dikenal sejak tahun 2003, dan kini ikan jenis ini merupakan satwa yang langka dan hampir punah. Hiu karpet bintik memiliki warna kulit dengan pola yang menyerupai macan tutul.

Pola tersebut menyebar keseluruh permukaan tubuh hiu bagian atas. Kemudian untuk bentuk tubuhnya tidak jauh berbeda dengan hiu yang lainnya, dengan bagian badan yang terdiri dari ekor , dua sirip samping, dua sirip yang terdapat dibagian punggung. Mata ikan hiu karpet terletak tepat dipala bagian atas, dan ciri yang lebih mencolok adalah moncongnya yang pendek.

Tubuh hiu karpet cenderung lebih panjang, dan moncongnya cenderung lebih pendek dari moncong hiu pada umumnya. Hiu karpet memiliki spirakel yang berada di sebelah matanya, dan bentuk sirip segitiga tebal yang tumpul pada bagian ujungnya.

Ukuran panjang maksimal hiu karpet bintik jantan maupun betina sekitar 46 cm. Keberadaan hiu karpet bintik biasanya akan berenang dikedalaman sekitar 0 sampai 12 mpdl. Selain itu, hiu karpet termasuk jenis hewan kecil invertebrata yang ada di Indonesia. Habitat hiu karpet bintik berada di peraian dangkal yang banyak ditemukan terumbu karang, pasir, dan rumput laut.

Hewan bertulang belakang ini termasuk jenis satwa yang terancam punah, dan masuk ke dalam daftar hewan yang dilindungi. Salah satu faktor berkurangnya jumlah populasi hiu karpet bintik ini dikarenakan banyaknya terumbu karang sebagai tempat tinggalnya yang rusak.

Kerusakan tersebut disebabkan oleh para pencari ikan yang menangkap ikan dengan menggunakan dinamit. Keindahan warna hiu bintik ini sangat menarik orang untuk menangkapnya, dan menjadikannya penghias aquarium. Maraknya peminat yang menginginkan ikan jenis ini merupakan salah satu hal yang akan berdampak buruk untuk kelangsungan populasinya.

Tiga Satwa Langka Nyaris Punah

Satwa Endemik Indonesia yang kini sudah semakin berkurang

Indonesia sangat kaya dengan alamnya beserta isinya yang melimpah, dimana banyak terdapat aneka jenis fauna unik hingga endemik (hanya dimiliki Indonesia). Namun, akibat maraknya pemburuan hewan dan pembakaran hutan secara liar, banyak satwa Indonesia yang terus menurun jumlah populasinya dari tahun ke tahun.

Terlebih lagi ditambah faktor reproduksi satwa itu sendiri yang sangat rendah, membuat binatang tersebut menjadi langka bahkan hampir mendekati kepunahan. Hal ini akan menjadi masalah besar. Mengingat pentingnya satwa sebagai rantai makanan untuk keseimbangan alam, beberapa tahun kedepan Indonesia akan banyak kehilangan satwa endemiknya. Berikut ada 3 hewan langka Indonesia tersebut:

1. Harimau Sumatera


Indonesia mempunyai dua jenis harimau yang tidak dimiliki oleh negara lain. Binatang tersebut adalah Harimau Bali yang sudah dinyatakan punah sejak tahun 1937. Kemudian, Harimau Sumatera yang masih ada hingga sekarang dalam jumlah yang sudah sangat sedikit. Jumlah harimau Sumatra di Indonesia saat ini diperkirakan hanya berkisar 500 ekor dan menhuni pulau Sumatera saja.

2.Badak


Badak Sumatera atau badak bercula dua dan badak bercula satu dari Jawa (Badak Jawa) tergolong satwa yang sudah hampir punah di Indonesia. Dari data yang ada, jumlah Badak bercula dua kini hanya tersisa sekitar 300 ekor saja. Sedang Badak bercula satu lebih cenderung sangat kritis, karena jumlahnya tercatat sisa puluhan ekor saja. Karenanya, telah dibuat penangkaran khusus di Ujung Kulon Banten untuk melindungi populasi Badak bercula satu.

3.Orang Utan


Orang Utan Kalimantan dan Sumatera juga masuk dalam daftar satwa langka dilindungi yang di Indonesia. Dari segi fisik Orang Utan Sumatera ini berukuran lebih kecil dari Orang utan Kalimantan. Selainitu, dibandingkan dengan orang Utan Kalimantan, Orang utan Sumatera memiliki jumlah populasi lebih sedikit.

Serangga Cantik Yang Tak Berbahaya

Kupu-kupu adalah jenis serangga cantik yang tidak membahayakan manusia, yang tersebar di Indonesia

Kupu-kupu adalah serangga yang tergolong ke dalam ordo Lepidoptera, atau serangga yang bersayap sisik. Secara sederhana, kupu dibedakan menjadi dua bagian yaitu ngengat dan kupu-kupu itu sendiri. Ngengat adalah kupu-kupu yang sering aktif di malam hari (Nokturnal), berdasarkan waktu aktivitasnya dan ciri fisiknya. Sedangkan kupu-kupu pada umumnya aktif di siang hari (Diurnal).

Ciri lain yang lebih mencolok yakni pada saat hinggap, ngengat akan membentangkan sayapnya. Lain halnya dengan kupu-kupu, saat hinggap ia akan menegakkan sayapnya. Dan untuk warna, kupu-kupu akan lebih terang dan terlihat indah saat dilihat. Sedangkan ngengat cenderung lebih berwarna gelap.

Kupu-kupu sangat banyak jenisnya, di Pulau Jawa dan Pulau Bali tercatat ada lebih dari 600 spesies kupu-kupu. Hewan cantik ini juga termasuk salah satu jenis serangga yang tidak membahayakan manusia. Kupu-kupu dapat bertelur sekali atau banyak dalam setiap tahunnya, dan jumlah keturunannya dalam setahun berbeda pada pengaruh iklim.

Kupu-kupu merupakan serangga yang tinggal di daerah tropis, dan mampu berelur lebih dari sekali dalam setahun. Pada saat bertelur, telur tersebut akan dilapisi oleh kulit berabung keras yang disebut dengan khorion. Kemudian dilapisi semacam lapisan anti lilin yang melindungi telur dari sinar Matahari sebelum larva dapat berkembang sepenuhnya.

Setelah beberapa waktu, telur tersebut akan berubah menjadi larva atau ulat, yang kesehariaanya akan memakan dedaunan hingga tiba waktunya sang ulat akan menjadi kupu-kupu dengan warna sayapnya yang cantik. Serangga cantik tak berbahaya ini dikenal sebagai serangga penyerbuk tanaman yang membantu perkembangan bunga untuk menjadi buah. Hal ini sangat menguntungkan bagi flora yang dihinggapinya untuk mengambil sari dari bunga tersebut.

Kini kehadiran kupu-kupu di alam bebas tampak sudah semakin berkurang karena umur dari serangga bersayap indah ini tidak dapat hidup dengan waktu yang lama. Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung adalah tempat yang memiliki ratusan jenis kupu-kupu yang memiliki ciri khas dan kecantikan yang berbeda.

Pembangunan taman kupu-kupu ini sudah sejak Oktober 2010 lalu. Ini merupakan tempat penangkaran kupu-kupu terbesar di Indonesia yang ada di Sulawesi Selatan. Selain kupu-kupu yang masih hidup yang dibudidayakan, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung ini juga mengawetkan beberapa jenis kupu-kupu yang telihat sudah mati karena faktor usia serangga cantik ini. Jadi anda dapat melihat berbagai jenis kupu-kupu langka dari zaman dulu hingga kini yang masih dalam penangkaran kupu-kupu di Indonesia.