Tag: Jenis fauna indonesia yang dilindungi

Burung Enggang Gading Istimewa Kalimantan barat

Burung Enggang Gading

Burung Enggang Gading atau Rangkong Gading adalah burung yang memiliki ukuran besar, dengan bentuk paruh yang berukuran besar. Burung ini termasuk burung purba yang masih hidup, dan memiliki nilai budaya yang sangat tinggi di Indonesia.

Pulau Sumatera memiliki jumlah terbanyak dengan sembilan jenis burung rangkong, kemudian Kalimantan juga memiliki burung jenis ini dengan jumlah delapan jenis. Hutan Indonesia merupakan habitat nyaman bagi 13 jenis burung rangkong yang tersebar luas di hutan tropis, dan tiga diantaranya bersifat endemik.

Burung enggang dipercaya sebagai tinggang atau simbol alam atas (alam kedewataan), terutama bagi masyarakat Kalimantan barat. Di Indonesia, burung istimewa ini disebut sebagai petani hutan sejati. Hal ini disebabkan karena burung enggang merupakan burung pemakan buah yang tidak mencerna biji, dan menyebarkan biji tersebut melalui kotorannya. Burung-burung inilah yang menanam pohon secara alami di hutan lepas Indonesia.

Burung rangkong gading jantan memiliki leher yang tidak berbulu dengan warna merah, sementara keher yang terdapat pada betina berwarna biru pucat. Burung endemik Kalimantan ini sangat mudah sekali untuk dikenali, karena ukurannya yang sangat besar. Ciri khas burung rangkong gading, ian memiliki ekor berwarna putih dengan garis hitam melintang.

Pada sayap terdaat garis putih lebar, dan memiliki tanduk berwarna kuning kemerahan tepat di atas paruh. Sedangakan warna paruh berwarna sama kuning kemerahan, warna kaki coklat, dan iris berwarna merah. Burung rangkong tidak dapat berkicau karena bukan jenis burung kicau, dan ia hanya mengeluarkan suara menyerupai terompet yang di tiup berulang-ulang.

Seperti yang kita tahu, jenis makanan burung enggang gading adalah buah-buahan, biji-bijian, dan serangga. Burung ini sangat berguna untuk pelestarian tumbuhan khususnya Ficus sp yang hanya tumbuh di hutan tropis, karena ia akan menyebarkan benih biji yang ia makan melalui kotorannya saat terbang.

Awal penemuan burung berparuh besar ini terdapat di Semenanjung Malaya, Sumatera, dan Kalimantan. Burung langka ini termasuk dalam jenis fauna yang dilindungi undang-undan, dan Burung Enggang Rangkong juga menjadi maskot Provinsi Kalimantan Barat.

Burung enggang gading bersifat monogami, yang berarti burung ini hanya memiliki satu pasangan seumur hidupnya. Ia akan bersarang di pohon yang berlubang dengan ketinggian sekitar 50 m, namun ia hanya mencari pohon dengan lubang alami karena burung enggang tidak bisa membuat lubang sendiri.

Burung enggang rangkong diketahui memiliki masa berkembang biak terlama yakni 150 hari dalam masa penetasan, dan sang betina akan berada di dalam sarang untuk menemani anaknya. Lalu sang jantan akan menutup lubang tersebut dengan menggunakan kotoran dan tanah liat, kemudian ia hanya menyisakan lubang kecil untuk dapat mengeluarkan paruh saat sang jantan memberi makan.

Kini keberadaan burung endemik Kalimantan barat ini sudah sangat mengkhawatirkan dengan jumlah populasinya yang semakin menurun. Selain proses reproduksi yang sangat lama, burung ini juga sering diburu untuk diambil kepalanya dengan dasar perdagangan. Di hutan saat ini sudah jarang terdengar suara burung langka ini.

Kanguru Pohon Mantel Emas

Kanguru Pohon Mantel Emas merupakan hewan endemik Indonesia yang mendominasi Pegunungan sekitar Papua

Kanguru pohon mantel emas adalah satwa marsupial atau mamalia yang memiliki kantung diperutnya seperti kanguru pada umumnya, dan kanguru tersebut merupakan kanguru pohon. Kanguru jenis ini merupakan hewan endemik Indonesia yang terdapat di Papua Nugini.

Mamalia bertubuh coklat muda ini biasanya akan memakan buah dan biji-bijian. Bulu halus berwarna coklat merupakan ciri khas dari kanguru ini. Hewan ini juga memiliki ekor yang panjang, serta terdapat motif lingkaran yang menyerupai cincin dengan warna bulu yang lebih cerah.

Pada bagian pipi dan kakinya terhiasi warna kuning keemasan, dan inilah yang menjadikan kanguru Papua ini dijuluki dengan kanguru mantel emas. Kanguru jenis ini ditemukan diwilayah terpencil tepatnya di Pegunungan Foja Papua, Indonesia.

Panjang ukuran tubuhnya sekitar 41 hingga 77 cm, dengan panjang ekor sekitar 40 hingga 80 cm. Sedangkan untuk berat badan kanguru mantel emas berkisar antara 7 hinga 15 kg, dan ia cenderung akan menghabiskan waktunya untuk beraktivitas di atas pohon.

Kanguru pohon milik Papua ini belum banyak diketahui informasinya karena keberadaannya yang sudah langka. Terlebih lagi, rusaknya habitat asli dari kanguru Papua yang disebabkan dari aktivitas manusia. Pada tahun 2015, IUCN memasukkan kanguru pohon mantel emas ke dalam kategori kritis. Dalam 30 teakhir, IUCN telah mencatat bahwa populasinya kini menurun sebanyak 80%. Salah satu ancaman serius bagi kanguru pohon mantela emas adalah manusia. Perburuan liar terhadap spesies ini sangat marak, karena sebagian dari manusia tengah menjadikannya bahan dasar makanan.

Kanguru pohon mantel emas hampir mendominasi wilayah Papua, dengan menempati sekitar 80% daratan Papua. Beberapa tempat yang menjadi tempat tinggal hewan endemik Papua antara lain seperti Manokwari, Bintuni, Sorong, Maybrat, Waigeo, Fakfak, dan Raja Ampat.

7 Satwa Endemik Kalimantan Yang Hampir Punah

7 satwa endemik Kalimantan

Memiliki beragam jenis flora dan fauna dengan karakter Asiatic, Australis, maupun peralihan dan terletak di antara dua benua dengan wilayah seluas 735.400 mil persegi, Indonesia menjadi negara yang kaya akan alam beserta isinya yang melimpah. Dari ribuan jenis satwa yang ada di Indonesia, kurang lebih sekitar 294 jenis flora fauna yang sudah masuk ke dalam daftar spesies yang terancam punah.

Flora dan fauna tersebut menjadi spesies langka, dan harus dilindungi karena semakin berkurangnya jumlah populasi yang ada. Hal ini sesuai dengan peraturan pemerintah no 7 tahun 1999 tentang jenis Tumbuhan dan Satwa yang dilindungi.

Berikut 7 satwa endemik Kalimantan, yang merupakan kekayaan Indonesia akan faunanya yang sudah masuk daftar hewan dilindungi.

1. Bekantan


Bekantan adalah monyet yang memiliki hidung besar dan panjang. Monyet jenis ini hanya ditemukan pada spesies jantan, dan inilah yang membedakan bekantan dengan jenis monyet lainnya. Bekantan jantan memiliki tubuh yang lebih besar dari pada bekantan betina, dengan ukuran mencapai 75 cm dan berat 24 kg. Sedangkan untuk betina, memiliki ukuran 60 cm dengan berat hanya 12 kg. Bekantan memiliki perut besar, karena kebiasaannya dapat mengkonsumsi makanan dengan porsi yang banyak. Selain memakan biji-bijian dan buah, bekantan juga memakan dedaunan yang menghasilkan gas saat dicerna. Hal tersebut yang menyebabkan perut bekantan menjadi buncit dan besar. Bekantan merupakan satwa yang hampir punah, dan dilindungi.

2. Pesut Mahakam


Pesut Mahakam adalah ikan air tawar yang memiliki kepala berbentuk bulat dengan ukuran kedua mata yang kecil. Ikan ini berkulit abu-abu dengan warna lebih pucat di bagian bawahnya, serta tidak memiliki pola-pola khas ditubuhnya. Bentuk sirip dada lebar serta membundar, dan ia hanya bergerak dalam kawasan kecil. Pesut Mahakam hidup di dalam air yang mengandung lumpur, namun pesut merupakan ahli dalam mendeteksi serta menghindari adanya rintangan-rintangan yang dapat membahayakan dirinya. Karena pandangan Pesut Mahakam tidak terlalu baik.

Pesut mahakam saat ini menjadi kritis, karena populasinya yang terus menurun akibat lalu lintas di perairan Sungai Mahakam yang kian padat, serta tingginya tingkat erosi dan juga pendangkalan Sungai akibat pengelolaan hutan disekitar Sungai Mahakam. Kondisi dan keberadaan ikan pesut mahakam diperkirakan dalam kondisi terancam punah. Mengingat ikan Pesut Mahakam hanya memakan udan dan ikan-ikan kecil, ia harus berebut untuk mendapatkan kebutuhan makanan mereka dengan para nelayan yang juga mencari udan serta ikan untuk dikonsumsi dan dijual.

3.Kucing Merah


Kucing merah adalah satwa yang memiliki ukuran tubuh lebih kecil dari pada kucing emas Asia. Jenis Kucing ini memiliki bulu berwarna coklat terang dan pucat. Bulu bagian kaki dan juga ekor berwarna merah agak pucat. Bentuk ekor memanjang serta meruncing keujung, dengan garis putih di bagian bawah ekor. Untuk mengenali kucing merah dapat dilihat dari bentuk kepalanya yang kecil, pendek dan bulat dengan warna coklat gelap keabu-abuan. Pada bagian kepala juga terdapat dua garis gelap yang berasal dari setiap sudut matanya. Pada bagian telinga kucing memiliki warna yang keabu-abuan dengan sedikit bintik-bintik putih yang ada di tengah serta bawah dagu. Dua garis coklat samar terdapat di sekitar bagian pipi.

4. Owa Kalimantan


Owa Kalimantan adalah Jenis satwa yang memiliki tubuh sedang. Ukuran kepala dan tubuh owa jantan dewasa sekitar 462 hingga 475 mm, sedangkan betina memiliki ukuran yang lebih besar sekitar 495-496 mm. Owa jantan memiliki berat tubuh antara 4,9 hingga 6,5 kg, sementara berat sang betina bisa mencapai 5,9 hingga 6,8 kg. Berdasarkan data IUCN hingga saat ini, owa Kalimantan kini berada dalam status kritis. Hal ini disebabkan karena berkurangnya luas hutan Rawa gambut yang merupakan habitat asli satwa endemik Kalimantan ini.

5. Biawak Kalimantan


Biawak yang berasal dari Kalimantan ini dikenal dengan nama biawak tak bertelinga. Biawak ini memiliki ciri hidung tumpul, serta telinga yang tidak terlihat. Biawak ini memiliki warna coklat tua pada bagian atasnya, dengan perut bawah berwarna coklat muda. Biawak Kalimantan memiliki warna coklat tua pada tubuh bagian atas, dengan perut bawah berwarna coklat muda. Selain itu, biawak ini mempunyai kelopak mata transparan yang letaknya lebih rendah dimanding dengan jenis biawak pada umumnya. Biawak Kalimantan memiliki kulit bergerigi pada seluruh tubuhnya seperti buaya, dimana gerigi ini tersusun membentuk garis mulai dari bagian kepala sampai bagian ekor.

6. Tupai Peminum Darah


Tupai Peminum Darah adalah salah satu satwa endemik Indonesia yang berasal dari Kalimantan. Tupai ini merupakan jenis hewan nokturnal, atau hewan yang aktif pada malam hari. Tupai ini memiliki ciri bulu ekor yang lebat dan terkenal dengan sifatnya yang sangat agresif, bahkan pernah terjadi bahwa tupai ini dapat membunuh seekor Kijang dewasa. Namun kini tupai endemik Kalimantan ini sangat jarang menampakkan dirinya, dan tupai ini juga termasuk satwa langka Indonesia yang dilindungi.

7. Lutung Merah


Lutung merah merupakan mamalia dengan ekor panjang berwarna kemerahan. Anakan, Lutung Merah berwarna keputih-putihan, dengan bercak hitam yang terdapat pada bagian bawah punggung dan melintang di sepanjang bahu. Biasanya lutung merah hidup secara berkelompok yang berjumlah sekitar 8 ekor, dengan 1 ekor jenis jantan dewasa. Makanan utama lutung merah berupa biji-bijian, dedaunan muda, serta liana.

Selamatkan Burung Kakak Tua Kecil Jambul Kuning

Burung Kakak Tua Kecil Jambul Kuning merupakan satwa endemik Indonesia yang berada di Sulawesi

Burung kaka tua kecil jambul merupakan hewan asli Indonesia yang menyebar di beberapa tempat seperti Kepulauan Sunda Kecil, Sulawesi, Bali, dan Timor. Burung kakak tua yang satu ini tidak seperti burung kakak tua yang lain, karena ukuran tubuhnya yang kecil. Burung kakak tua kecil jambul kuning merupakan salah satu satwa endemik Indonesia.

Memiliki panjang sekitar 35 cm, burung yang memiliki marga Cacatua ini mempunyai bulu yang hampir keseluruhan didominasi warna putih. Pada kepala terdapat jambul berwarna kuning yang dapat ditegakkan saat berinteraksi dengan manusia. Kakak tua jambul kuning memiliki paruh berwarna hitam dengan warna kebiruan disekitar matanya, serta kaki yang berwarna abu-abu.

Burung cerdas ini merupakan unggas yang mudah berkawan dengan manusia, dan lagi ia bisa dilatih untuk berbicara meski tak sempurna. Biasanya ia akan memakan sejenis biji-bijian, kacang, dan aneka buah- buahan. Pada musim bertelur, burung kakak tua jambul kuning akan menetaskan sekitar tiga telurnya di sarangnya yang terdapat di lubang pohon.

Sepertinya mata kita sudah tak asing lagi jika melihat foto burung yang satu ini. Pasalnya, sewaktu kecil tentu kita sangat sering sekali mendengar atau bahkan menyanyikan burung kakak tua. Namun keberadaan burung kakak tua asli Indonesia kini dikabarkan termasuk satwa yang terancam punah.

Hal ini sudah lama, dan burung kakak tua kecil jambul kuning sudah masuk kedalam kategori terancam punah sejak tahun 1994 silam, dan memasuki tahun 2000 burung ini berubah menjadi kritis. Berkurangnya populasi dari tahun ke tahun dikarenakan menyempitnya habitat asli yang disebabkan oleh aktivitas manusia yang melakukan pembangunan, dan penyempitan lahan.

Dari kejadian tersebut, Pemerintah menurunkan peraturan no.7 tahun 1999 untuk melindungi burung kakak tua kecil jambul kuning. Konservasi perlu dilakukan untuk menyelamatkan burung ini dari ancaman kepunahan yang kian pesat. Dan hal itu sudah berjalan beberapa tahun silam, dimana satwa asli, dan endemik Indonesia telah di masukkan dalam penangkaran yang kini tersebar di beberapa daerah.

Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai adalah salah satu penangkaran burung asli Indonesia ini yang terletak di Sulawesi. Hal ini sangat membantu untuk pengembang biakkan burung kakak tua kecil jambul kuning, sehingga dapat meningkat dan bisa di lepas liarkan kembali ke habitat aslinya.Jenis

Ikan Hiu Gergaji Kian Kritis

Ikan Hiu Sentani adalah satwa endemik Danau Sentani Papua Nugini yang keberadaannya kini semakin mengkhawatirkan akan kepunahan

Ikan Hiu Gergaji merupakan ikan laut yang beradaptasi dengan perairan air tawar, yang terkenal dengan sebutan ikan hiu gergaji Sentani. Ciri khas ikan hiu jenis ini adalah memiliki moncong panjang seperti pedang, dengan deretan gergaji kecil yang tumbuh di sisi samping moncongnya.

Ikan endemik Danau Sentani Papua ini memakan udan kecil, dan ikan-ikan kecil yang ada disekitar habitatnya. Ikan hiu gergaji merupakan hewan ovovivipar, atau hewan yang berkembang biak dengan cara bertelur dan beranak. Hiu yang memiliki nama latin Pristis Microdon ini terkenal hingga ke mancanegara dengan sebutan Largetooth Sawfish, yang berarti ikan hiu bergigi besar.

Meski penampilan hiu gergaji ini cukup mengerikan, bukan berarti ikan tersebut penguasa Danau Sentani. Hiu sentani memiliki penglihatan yang tidak begitu bagus, namun ia menggunakan penciumannya untuk mencari mangsanya yang berupa ikan ukuran kecil dan sedang.

Ikan hiu yang memiliki panjang sekitar 6,6 meter, dengan dilengkapi 14 hingga 22 gigi gergaji yang berada di setiap sisi moncongnya. Moncong yang menyerupai gergaji tersebut merupakan alat untuk pertahanan terhadap musuh atau saat ia mulai terancam.

Sedangkan bentuk tubuh hiu sentani lebih ramping, dan tak seperti hiu pada umumnya yang cenderung berbentuk bulat memanjang. Dengan bentuk tubuh yang ramping, hiu gergaji ini juga mampu berenang dengan kecepatan diatas rata-rata untuk mengejar mangsanya.

Ikan ini menyebar di perairan Australia, India, Papua Nugini, Afrika Selatan, dan Thailand. Sedangkan di Indonesia sendiri, hiu gergaji menghuni Sungai Digul, Sungai Mahakam (Kalimantan), Sungai Siak, dan Sungai Sepih. Kini keberadaan ikan hiu sentani sudah sangat mengkhawatirkan, karena populasi ikan jenis ini terus menyusut dan terancam punah.

Namun, IUCN sudah memasukkan hiu gergaji sentani ke daftar spesies yang dilindungi. populasi ikan ini makin berkurang akibat semakin sempitnya habitat asli, dan termasuk hewan yang sangat kritis terancam punah. Serta banyaknya pemburuan liar karena ikan ini dianggap sebagai predator ikan-ikan lain.

Hal serupa juga sama yang dilakukan oleh sejumlah kolektor ikan yang menangkap ikan hiu gergaji, dengan upaya untuk diperdagangkan atau hanya untuk diambil moncongnya sebagai koleksi. Pada masa prasejarah hingga kini, ikan hiu gergaji sudah menjadi bagian dari budaya suku Sentani yang tergambar pada batu-batu Situs Megalitik Tutari.

Burung Cantik Asli Pulau Dewata

Burung Jalak Bali adalah jenis burung pengicau berukuran sedang dengan panjang tubuh sekitar 25 cm. Jalak Bali hanya ada di hutan bagian barat Pulau Bali, dan merupakan Hewan Endemik Indonesia yang menghuni Pulau Bali. Burung ini sempat dinobatkan sebagai lambang fauna Provinsi Bali pada tahun 1991 silam.

Tidak semua para pecinta burung di Bali bisa memiliki burung yang unik ini. Hal ini karena burung Jalak Bali adalah burung istimewa, dan jenis satwa endemik yang memiliki keunikan yang tak akan ditemukain di tempat lain selain di Pulau Bali.

Burung jalak sendiri terdiri dari beberapa spesies, yang salah satunya adalah burung jalak bali. Burung ini merupakan salah satu burung kicau yang dilindungi oleh Pemerintah Indonesia, karena sudah masuk dalam daftar jenis burung kicauan yang mulai punah.

Hal tersebut karena ulah para manusia yang melakukan penangkapan liar yang kian banyak, mengingat harga per ekor burung jalak bali sangat mahal. Burung jalak bali memiliki ciri bulu yang didominasi warna putih, kecuali dibagian lingar mata yang berwarna biru.

 

Sedangkan warna mata burung jalak bali berwarna coklat tua, dengan kepala yang terdapat jambul yang membuat burung endemik ini terlihat sangat cantik di banding burung jalak jenis lainnya. Kemudian pada bagian paruh yang panjangnya kurang lebih 2 sampai 5 cm ini berbentuk runcing, dan berwarna kecoklatan.

Burung yang memiliki kaki berwarna abu-abu ini sangat berbeda dengan jalak jenis lain. Dari warna bulu, hingga suaranya yang sangat merdu saat berkicau, membuat burung jalak bali menjadi burung teristimewa di Pulau Bali hingga di Nusantara. Wajar jika beberapa kolektor atau pecinta burung membelinya dengan harga yang fantastis.

Kini keberadaan Burung Jalak Bali di alam liar sudah sangat mengkhawatirkan. IUCN telah memasukkan burung mewah ini ke dalam status Critically Endangered, yang beresiko besar punah total dalam jangka waktu yang tidak panjang. Mengingat banyaknya permintaan terkait jual beli burung asli Bali ini, diharapkan satwa endemik Indonesia ini segera dimasukkan dalam penangkaran untuk dikembak biakkan dan kemudian di lepas liarkan kembali ke habitat aslinya.

Hal tersebut sudah realisasikan di Taman Nasional Bali Barat, dan Penangkaran Bali Starling Breeding Center Tegal Bunder. Hasil yang cukup memuaskan, karena populasi burung jalak bali kini sudah mengalami peningkatan yang sangat baik.

Burung Hitam Penghuni Pulau Peleng

Gagak Banggai adalah burung asli Indonesia yang berada di Sulawesi. Burung gagak banggai merupakan jenis burung dari keluarga burung gagak yang berada di Banggai. Pada tahun 2007, para ahli pernah menyatakan burung ini sudah punah karena keberadaannya yang sudah jarang ditemui.

Dalam beberapa waktu terakih di dalam sebuah ekspedisi ilmiah, pernah dijumpai burung gagak banggai untuk beberapa kali di Pulau Peleng. Kemudian untuk saat ini, IUCN telah mencatat burung Gagak Banggai sebagai satwa yang berstatus sangat terancam punah.

Burung hitam ini diketahui ada dua spesimen yang ditemukan di salah satu Kepulauan Banggai Sulawesi Tengah antara tahun 1884 hingga 1885. Setelah itu, burung tersebut tidak pernah dijumpai lagi hingga pada tahun 2008. Burung ini lebih dikenal dengan sebutan Burung Kuyak, dan satu-satunya burung gagak yang ternyata hanay ada di alam Kepulauan Banggai.

Ukuran tubuh gagak banggai tak seperti gagak biasanya, karena tubuhnya lebih kecil dari gagak pada umumnya. Gagak Banggai memiliki panjang tubuh sekitar 39 cm ini merupakan burung yang habitat aslinya berada di hutan dengan ketinggian hingga 900 mpdl.

Burung ini diketahui keberadaanya kini sudah semakin menurun, dan diperkirakan populasinya kini tinggal 30 hingga 200 ekor. Anda dapat menemukan burung endemik Sulawesi Tengah di bagian barat dan tengah Pulau Peleng yang memiliki luas sekitar 2.340 kmĀ², yang merupakan salah satu di Kepulauan Banggai.

Terkait dengan semakin mengecilnya populasi karena rusaknya habitat aslinya, burung gagak banggai hanya terdapat di dalam satu lokasi saja yaitu di Sulawesi Tengah. Serta burung ini adalah burung yang dilindungi oleh Peraturan Pemerintah karena burung ini adalah burung endemik Sulteng yang hampir punah. Kemudian IUCN telah mengevakuasi burung hitam ini menjadi salah satu dari 18 burung paling langka di Indonesia dengan status burung yang kiris dari kepunahan.

Mencari Tahu Tentang Kucing Merah Kalimantan

Kucing Merah Kalimantan merupakan kucing khas Kalimantan yang kini belum diketahui keberadaannya di alam liar

Kucing Merah adalah salah satu spesies kucing kecil yang memang berasal dari Kalimantan. Kucing liar ini sangat jarang ditemui karena kucing merah ini tinggal di dalam hutan tropis dataran rendah. Kucing yang mempunyai bentuk telinga bulat ini banyak tersebar di beberapa tempat Pulau Kalimantan.

Tak seperti kucing-kucing yang lainnya, kucing merah memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil. Ciri lain dari kucing merah seperti memiliki warna bulu coklat terang, dan agak pucat di bagian tubuh bawah. Kucing merah memiliki ekor yang panjang serta meruncing pada ujungnya, dan terdapat garis putih di bagian bawah ekor.

Hewan endemik Kalimantan ini mendiami hutan tropis lebat, singkapan batu kapur, dan hutan bekas tebangan. Kucing ini juga hewan nokturnal yang akan melakukan aktivitasnya untuk mencari makan di malam hari. Pada tahun 2002 IUCN mengklarifikasikan spesies liar ini sebagai satwa yang terancam punah.

Belum ada yang mengetahui tentang ekologi makan serta perilaku reproduksi dari kucing merah ini. Turunnya populasi kucing merah sudah diperkirakan sekitar lebih dari 20% pada tahun 2002 karena hilangnya habitat asli.

Di perkirakan, kucing liar ini sudah ada sejak 4 juta tahun silam saat pulau Kalimantan belum berpisah dengan daratan Asia. Namun hingga saat ini masih belum di ketahui dengan pasti populasi yang masih ada di Indonesia dan di Malaysia.

Kucing merah bisa juga disebut sebagai kucing Borneo. Kucing langka ini semakin sulit untuk kita jumpai di wilayah Kalimantan. Beberapa kolektor hewan langka lebih sering memburunya, dan bahkan beberapa pedagang hewan juga ikut untuk memburu kucing merah khas Kalimantan ini.

Meskipun kucing merah sudah terdaftar sebagai hewan yang dilindungi, namun tetap saja para pemburu liar menangkap untuk memperjual belikan hewan ini karena bentuknya yang berbeda dengan jenis kucing lainnya.

Hewan Unik Berkuku Ganjil

Tapir adalah hewan soliter yang memiliki keunikan dari jari-jari kakinya yang ganjil. Serta hewan berikut merupakan hewan yang dilindungi

Tapir adalah binatang herbivora yang hanya memakan dedaunan muda yang ada di sepanjang hutan atau sepanjang tepian sungai. Tapir memiliki bentuk tubuh yang menyerupai babi dengan telinga yang mirip badak, serta moncongnya sedikit panjang seperti trenggiling. Tapir adalah binatang soliter kecuali pada musim-musim kawinnya.

Hewan ini termasuk hewan nokturnal karena aktivitasnya lebih banyak di malam hari, dan ia akan mencari makanannya dengan terus berjalan jauh serta mencari lokasi yang kaya akan garam mineralnya. Hewan mamalia ini memiliki suara lenguhan yang berbeda dengan hewan mamalia lainnya, dan justru seperti suara burung yang sedang berkomunikasi dengan burung lainnya.

Ukuran tubuh tapir dewasa bisa mecapai panjang hingga 225 cm dengan bentuk yang hampir menyerupai babi. Bentuk lain yang menjadi ciri khas dari tapir adalah memiliki moncong yang seperti belalai pendek, yang selalu didekatkan dengan tanah saat ia berjalan. Moncong panjang tapir mempunyai penciuman yang sangat bagus dalam kesehariannya untuk mendapatkan makannan.

Beberap ahli menyatakan bahwa tapir memiliki penglihatan yang sangat lemah, dan hanya mengandalkan indera penciumannya dalam hidupnya. Selain bentuk tubuh dan moncongnya yang unik, tapir juga memiliki jemari yang tak kalah unik dengan keunikan lain yang dimilikinya. Jari yang ada pada kaki depan berjumlah empat, sedangkan jari kaki bagian belakang hanya berjumlah tiga jari.

Ada empat jenis tapir yang masih hidup hingga sekarang, dan tiga diantaranya bisa anda jumpai di Amerika Selatan yaitu Tapirus bairdii, Tapirus Pinchaque, dan Tapirus Terrestris. Sementara yang banyak tersebar di Asia Tenggara adalah jenis Tapirus Indicus, dan dari hal tersebut tapir sering digunakan sebagai salah satu bukti teori pemisah Benua.

Tapir yang terebar di Asia Tenggara telah meliputi bagian selatan Burma, Thailand bagian selatan, Semenanjung Malaysia, serta Indonesia. Menurut bukti yang pernah ada, penyebaran tapir sempat meliputi Pulau Jawa dan Sumatera. Namun kini cuma hanya ada tapir di Sumatera, itu pun hanya akan dijumpai di bagian Danau Toba sampai ke Lampung.

Keberadaan tapir yang kian menyusut, tak lain karena aktivitas manusia yang menyebabkan habitatnya kian sempit. Mengenai kasus pemburuan tapir tak semarak pemburuan hewan lainnya, sehingga berkurangnya populasi tapir sebagian besar dikarenakan tingkat reproduksinya yang sangat sedikit.

Hewan berkuku ganjil ini merupakan satwa liar yang dilindungi di Indonesia karena jumlah populasinya yang kian berkurang pada tiap tahunnya, serta tapir termasuk hewan langka yang dimiliki Indonesia.

Indonesia juga memiliki Banteng yang kini sedang terancam punah

Banteng banyak terdapat di Indonesia dengan sebutan Sapi Bali ini merupakan satwa yang terancam punah

Banteng adalah hewan yang masih satu familly dengan sapi yang banyak di temui di Jawa, Bali, Kalimantan, Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, dan Vietnam. Kemudian banteng dibawa ke Australia Utara saat masa kolonisasi Britania Raya 1894 yang masih dilestarikan hingga sekarang. Banteng biasanya memakan rumput, bambu, buah-buahan, dan daun ranting muda. Pada sejatinya, banteng merupakan hewan yang aktif di siang hari dan malam hari. Namun didaerah pemukiman warga, mereka beradaptasi dan menjadi hewan nokturnal.

Ukuran tubuh banteng bisa tinggi hingga mencapai 1,6 meter, dan panjang tubuh hingga 2,3 meter. Sedangkan untuk berat badan banteng jantan bisa mencapai berat satu ton, dan sang betina biasanya memiliki berat badan yang lebih ringan dari sang jantan yakni sekitar 680 hingga 810 kg. Hewan yang dikenal sebagai Sapi Bali ini biasanya akan hidup secara berkelompok dengan kawanan yang berjumlah sekitar dua hingga tiga puluhan ekor.

Banteng betina memiliki ciri-ciri warna kulit coklat kemerahan, serta tanduk yang pendek. Warna putih yang terdapat pada kaki bagian bawah, pantat, punuk, dan warna putih yang ada di sekitar mata serta moncongnya. Sedangkan sang jantan memiliki kulit yang berwarna biru hitam atau coklat gelap, dengan bentuk tanduk yang panjang melengkung keatas.

Di Indonesia terdapat tiga jenis anak banteng liar yaitu Banteng Jawa, Banteng Kalimantan, dan Banteng yang ada di Indocina. Anak banteng jenis yang terakhir kini digolongkan sebagai hewan yang terancam punah yang sudah dimasukkan kedalam catatan IUCN. Banteng merupakan sumberdaya genetik hewan asli Indonesia yang sebagian besar keluarga liarnya terebar di Indonesia. Banteng adalah satwa yang memiliki tingkat reproduksi yang sangat cepat, serta kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan yang baik. Dan yang lebih menakjubkan dari banteng adalah kemampuannya untuk menggunakan sumber daya pakan yang sangat terbatas.