Tag: Hewan Endemik

Lambatnya Reproduksi Orang Utan

Orang utan merupakan sejenis kera besar dengan lengan panjang dan memiliki bulu kemerahan atau cokelat yang hidup wilayah hutan tropika Indonesia, dan Malaysia. Satwa yang memiliki nama lain mawas ini lebih banyak ditemui di Kalimantan, dan Sumatera. Mereka mempunyai tubuh gemuk besar, berleher besar, serta lengan yang panjang dan kuat. Orang utan tidak mempunyai ekor, dan memiliki kaki yang lebih pendek dari tangannya.

Biasanya orang utan memiliki tnggi sekitar 1,25 hingga 1,5 meter, serta memiliki ukuran kepala yang besar dan mulut yang tinggi. Saat sudah menginjak dewasa, pelipis orang utan akan membesar pada kedua sisi, ubun-ubun tambah besar, serta sekitar wajah mereka akan tumbuh rambut halus dan rapat. Satwa ini memiliki indra yang sama seperti manusia, dari mulai pendengaran, peraba, pengecap, penciuman, dan penglihatan. Selain memiliki 5 indra yang sama dengan manusia, tangan orang utan juga memiliki struktur yang sama seperti manusia dengan lima jari yang terdiri dari empat jari panjang serta 1 ibu jari. Orang utan jantan bisa memiliki berat badan sekitar 50 sampai 90 kg, lalu betina akan lebih kecil dari sang jantan dan hanya memiliki berat tubuh sekitar 30 hingga 50 kg.

Dalam klasfikasi mamalia, kera besar ini memiliki ukuran otak yang sangat besar, mata yang mengarah kedepan, serta fungsi tangan yang dapat melakukan genggaman. Orang utan juga termasuk dalam spesies kera besar seperti Gorila, dan simpanse. Orang utan termasuk hewan vertebrata, yang artinya mereka memiliki tulang belakang. Selain itu, orang utan juga termasuk mamalia dan primata.

Ada dua jenis orang utan di Indonesia yang berbeda bentuknya. Kedua jenis tersebut berada di dua Provinsi yang berbeda yaitu Kalimantan dan Sumatera. Orang utan Kalimantan disebut dengan Borneo Pongo pygmaeus (nama latin), dan meruakan subspesies terbesar. Sedangkan orang utan Sumatera bernama Pongo abeii (nama latin) merupakan subspesies terkecil. Perbedaan spesies antara orang utan Kalimantan dan orang utan Sumatera sejak 1,1 hingga 2,3 juta tahun yang lalu.

Meskipun orang utan termasuk omnivora, sebagian dari mereka hanya memakan tumbuhan, persentasi menunjukkan sekitar 90% dari makanannya adalah terdiri dari buah-buahan. Lalu sisanya mereka akan makan kulit pohon, bunga, nektar, dan serangga. Orang utan dapat bergerak cepat dari satu pohon ke pohon yang lain dengan cara bergelantungan serta berayun untuk berpindah tempat. Habitat asli orang utan adalah hutan hujan tropis Asia Tenggara seperti Pulau Borneo, dan Sumatera di wilayah bagan negara Indonesia dan Malaysia. Seebenarnya orang utan dapat bertahan hidup di beberapa tipe hutan mulai dari kerung, perbukitan, dan dataran rendah di daerah aliran sungai sekalipun. Karena mereka akan tinggal dengan membuat sarang yang terdiri dari dedaunan.

Hampir seperti manusia, orang utan betina biasanya akan melahirakan di usia 7 hingga 10 tahun. Masa kandungan mereka juga mirip seperti manusia antara 8,5 hingga 9 bulan, dan biasanya akan melahirkan satu anak. Reproduksi orang utan sangatlah lambat karena mereka akan melahirkan seekor anak setiap 7 sampai 8 bulan sekali. Di alam liar, orang utan yang hidup hingga 45 tahun dan sepanjang hidupnya hanya akan memiliki tiga keturunan.

Mengingat reproduksi orang utan yang sangat lambat, populasi orang utan di Borneo saat ini diperkirakan sekitar 55.000 individu. Sedangkan di Sumatera jumlah orang utan diperkirakan sekitar 200 individu. Hal ini berarti orang utan sudah semakin menurun populasinya. Faktor serius yang mengancam populasi orang utan adalah manusia. Banyaknya pemburuan liar karena derasnya perdagangan membuat populasi orang utan semakin menurun. Mamalia ini merupakan satwa yang dilindungi Undang-undang no. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. IUCN juga sudah mengategorikan orang utan sebagai Critically Endangered, dan orang utan adalah hewan endemik Indonesia.

Kura-kura Leher Ular Ternyata Belum Masuk Perlindungan Satwa

Kura-kura Leher Ular Ternyata Belum Masuk Perlindungan Satwa

 

Kura-kura yang satu ini merupakan satwa yang cukup unik karena memiliki bentuk yang sedikit berbeda dengan kura-kura lainnya. Kura-kura yang bernama latin Chelodina Mccordi ini disebut juga dengan kura-kura leher ular. Disebut dengan leher ular karena leher sang kura-kura ini kebih oanjang dibandingkan dengan kura-kura pada umumnya. Bentuk leher yang panjang serta fleksibel merupakan ciri khas dari kura-kura ini.

Satwa unik ini hanya dapat kita temui di lahan basah Pulau Rote. Sebuah pulau kecil yang memiliki luas sekitar 98.854 hektar di ujung Selatan Indonesia, tepatnya di sebelah Barat Daya Pulau Timor yang berjarak sekitar 20 km. Wilayah Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT) inilah yang memiliki hewan bernama kura-kura leher panjang.

Tidak seperti kura-kura pada umumnya, hewan ini memiliki ukuran kecil, kepala menyerupai ular, dan sisi karapas (tempurung) yang melengkung ke atas. Dan leher kura-kura ini tidak dapat masuk kedalam tempurungnya seperti halnya kura-kura yang lain. Ya, hal ini dikarenakan lehernya yang panjang sehingga spesies ini tidak dapat menarik masuk kepalanya kedalam tempurung, dan dia hanya bisa melipat kesamping dibawah sisi tempurungnya jika merasa terancam.

Panjang lehernya bisa lebih panjang dari panjang tempurungnya sendiri yang berukuran 18 hingga 24cm dengan warna coklat keabu-abuan dan kemerah-merahan. Habitat asli dari kura-kura leher panjang ini adalah rawa, danau, dan sawah di Selatan Pulau Rote. Berkurangnya spesies jenis ini dikarenakan beberapa kolektor hewan reptil endemik Internasional, sehingga kini lebih banyak dijumpai di tempat penangkaran dibandingkan di habitat aslinya.

 

Pada tahun 1980 sudah ditetapkan oleh pemerintah atas tercatatnya kura-kura leher ular sebagai satwa yang dilindungi. Selain banyaknya pemburu liar yang ingin menjual bahkan mengkonsumsi dagingnya, hambatan yang dihadapi perkembangbiakan yaitu lamanya reproduksi yang harus menunggu hingga umur 6 tahun untuk dapat bertelur.

Hal lain yang membuat berkurangnya jumlah kura-kura leher panjang ini disebabkan sulitnya pakan yang sehat serta segar, sehingga seing kali ditemukan beberapa yang mati. Dua pertiga populasi kura-kura leher ular di Pulau Rote, kini hanya tersisa di area sempit seluas 70 km persegi di Pulau Rote. Meski begitu, menurut PP no. 7 tahun 1999 tentang pengawetan jenis Tumbuhan dan Satwa, Kura-kura leher ular belum tercatat didalamnya.

Minimnya Populasi Trenggiling Di Indonesia

Minimnya Populasi Trenggiling Di Indonesia

 

Trenggiling merupakan salah satu hewan yang juga menyusui, yang berasal dari Ordo Pholidota. Hewan ini disebut dengan hewan mamalia pemakan serangga yang mempunyai tubuh bersisik. Trenggiling merupakan hewan yang hanya hidup di daerah tropis yang banyak dijumpai di seluruh Asia dan Afrika. Ukuran tubuh mamalia ini bervariasi, yaitu dari 30 hingga 100 cm atau sekitar 12 hingga 39 inci.

Hewan bersisik ini biasanya akan melahirkan hanya satu anak saja dan lama kehamilannya hanya sekitar dua sampai tiga bulan lamanya. Musim kawin trenggiling jatuh pada bulan April hingga bulan Juni. Setelah melahirkan, sang anak akan selalu dijaga induknya selama tiga sampai empat bulan lamanya, dan sering kali sang induk membawa anaknya di atas ekornya,

Bagi orang-orang mentawai, trenggiling sering dikonsumsi karena menurut mereka, hewan ini adalah salah satu makanan yang banyak sumber proteinnya. Di Indonesia, trenggiling merupakan hewan yang masuk daftar hewan yang dilindungi karena berkurangnya populasi dialam bebas. Rusaknya habitat trenggiling dikarenakan aktivitas para penebangan liar dan pemburuan untuk diperdagangkan. Hewan nocturnal ini sangat terancam punah karena dari satu juta ekor telah diambil dari habitat aslinya sepanjang sepuluh tahun terakhir. Hewan bersisik yang akan melingkar saat terancam dari musuh ini memiliki lidah yang panjang dan lengket untuk menangkap serangga yang akan dimakan.

Trenggiling merupakan hewan yang tidak mempunyai gigi seperti mamalia pada umumnya. Dan dua puluh persen dari berat tubuhnya adalah sisik yang dijadikan perisai bagi trenggiling saat dirinya terancam. Di Indonesia mempunyai UU nomor 5 tahun 1990, tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Masih dalam hal perlindungan, trenggiling juga dilindungi pemerintah nomer 7 tahun 1999 Tentang pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. yang berarti bahwa trenggiling hewan yang dilindungi penuh dari segala bentuk perdagangan.

Meski demikian, masih banyak orang yang memburu hewan pemalu ini untuk dijual daging serta sisiknya ke luar negeri. Yang kerap terjadi dan mendorong untuk pemburuan trenggiling adalah pesanan daging serta sisiknya yang ingin dikonsumsi dengan alasan sebagai obat dan makanan sumber protein. Jika dibuktikan secara Farmakologi, trenggiling tidak memiliki khasiat obat apapun didalam daging maupun sisiknya. Namun, didalam dunia pengobatan sering kali tidak cuma membutuhkan senyawa yang mempunyai nilai kesehatan, tapi nilai sugesti yang kuat yang terjadi selama ini. Hal ini sudah mengganggu susunan keseimbangan ekosistem alam karena pemburuannya yang sangat tinggi.

Berkurangnya trenggiling dialam bebas, akan membuat populasi serangga seperti rayap dan semut menjadi tak terkendali karena tak ada hewan lain lagi yang akan memangsa serangga sosial ini.

Komodo Adalah Kadal Purba Yang Masih Ada Di Indonesia

Komodo Adalah Kadal Purba Yang Masih Ada Di Indonesia

 

Komodo adalah jenis kadal terbesar di dunia yang kini hidup di pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Dasami di Busa Tenggara. Komodo termasuk anggota keluarga dari Biawak, namun Komodo jenis ini termasuk hewan karnivora yang memiliki panjang tubuh rata-rata 2-3 meter. Kadal besar ini adalah yang laju metabolisme tubuhnya sangat kecil, namun gerakannya cukup gesit untuk mencari mangsa. Predator ini hidup di pulau kecil yang mendominasi ekosistem tempat hidupnya karena hampir tidak ada hewan karnivora selain Komodo di tempatnya.

Biawak besar ini kini dilindungi dibawah peraturan pemerintah Indonesia dan sebuah Taman Nasional yang bernama Taman Nasional Komodo untuk melindungi populasi mereka. Dengan ukuran tubuhnya yang besar serta reputasinya yang mengerikan, membuat mereka paling populer di taman marga satwa. Pemerintah memasukkan Komodo ke dalam daftar hewan yang dilindungi karena kini jumlah populasinya yang sudah menurun di alam bebas. Menyusutnya jumlah komodo disebabkan aktifitas manusia didalam hutan, serta pemburuan liar untuk diperdagangkan.

Predator besar ini mempunyai gigi yang bergerigi tajam dengan panjang 2,5 cm dan berjumlah sekitar 60 buah gigi yang sering berganti. Air liur kadal besar ini juga sering bercampur sedikit darah karena giginya hampir semua berlapis gusi, dimana jaringan ini akan terluka saat komodo makan. Predator ini juga memiliki ekor yang kuat yang memiliki panjang yang hampir sama dengan panjang tubuhnya sendiri. Ukuran tubuh komodo betina biasanya lebih kecil dari sang jantan dan warna kulit yang berwarna kehijauan seperti buah zaitun, serta memiliki potongan kuning kecil yang ada pada kulit tenggorokannya. Sedangkan untuk sang jantan, biasanya memiliki warna kulit dari abu-abu gelap sampai merah batu bata.

Komodo memiliki lidah yang panjang serta bercabang yang berwarna kuning, dan pada air liurnya memiliki bakteri yang cukup berbisa. Pada umumnya, komodo muda memiliki warna kulit dengan warna kuning, hijau, dan putih pada latar belakang hitam. Disebelah samping kepala komodo terdapat lubang kecil, namun indra pendengar komodo tidak begitu bagus. Untuk pandangan biawak besar ini mampu melihat dengan baik dijarak 300 meter, dan dapat membedakan warna. Sisi kekurangan dari mata komodo adalah, tidak dapat melihat dengan jelas saat malam hari, serta tidak dapat memberdakan objek yang tidak bergerak.Hak ini dikarena retinanya yang hanya memiliki sel kerucut.

Saat berjalan, komodo sering menjulurkan lidahnya karena lidahnya merupakan alat untuk mendeteksi rasa, dan mencium seperti reptil lainnya. Dengan menjulurkan lidahnya, komodo mampu mendeteksi keberadaan daging bangkai sejauh 4 sampai 9,5 kilometer. Komodo memiliki lubang hidung, namun tidak dapat berfungsi dengan baik untuk indra penciumannya, karena komodo tidak memiliki sekat rongga badan.

Hewan Endemis yang termasuk hewan purba, secara alami hanya terdapat di Indonesia yaitu dipulau komodo, Flores, Rinca, dan beberapa pulau lainnya di Nusa Tenggara. Untuk bertahan hidup, hewan ini akan mencari mangsa dengan cara bergerombol dengan kawanannya. Reptil ini juga mampu berlari dengan kecepatan 20 kilometer perjam pada jarak pendek. Hewan ini juga mampu berdiri dengan menggunakan kaki dan bantuan ekornya untuk tumpuan badannya, dan komodo pandai berenang hingga menyelam dengan kedalaman 4,5 meter.

Pada musim kawin, komodo bertarung dengan jantan yang lain untuk merebutkan sang betina. Musim kawin komodo biasanya terjadi antara bulan mei dan agustus, lalu mereka akan meletakkan telurnya pada bulan September. Sang betina akan meletakkan telurnya didalam lubang tanah, tebing, atau bekas sarang burung yang berjumlah 20 telur yang akan menetas setelah 7 sampai 8 bulan. Komodo yang baru lahir membutuhkan waktu tiga hingga lima tahun untuk menjadi komodo dewasa, dan komodo dapat hidup hingga umur lebih dari 50 tahun. Komodo adalah hewan yang pernah dijadikan logo pada uang 50 rupiah Indonesia, karena Komodo adalah hewan Endemis Indonesia bagian timur.

Keindahan Burung Cendrawasih Asal Papua Nugini

Keindahan Burung Cendrawasih Asal Papua Nugini

 

Burungn Cendrawasih adalah jenis burung yang masih famili dengan Paradisaeidae yang berasal dari ordo Passeriformes, yang banyak djumpai di Indonesia Timur, Pulau-pulau selat Tores, Papua Nugini, dan Australia Timur. Burung Cendrawasih yang sering kita jumpai adalah jenis Cendrawasih kuning yang terdapat di Papua Nugini. Ukuran Burung ini sangat bervariasi mulai dari Cendrawasih Raja yang memiliki berat 50 gram, bisa panjng hingga 15cm, lalu Cendrawasih Paruh sabit hitam bisa mencapai panjang 110cm. Untuk Cendrawasih Manukod Jmbul bergulung, dapat memiliki berat hingga 430 gram.

Dahulu, masyarakat Papua sering memakai bulu Cendrawasih untuk menghias pakaian adat mereka, dan beberapa abad yang lalu, bulu Cendrawasih juga dipakai untuk hiasan topi wanita di Eropa. Untuk mendapatkan bulu Cendrawasih ini membuat para pemburu Cendrawasih untuk diambil bulunya, menyebabkan rusaknya habitat Burung Cendrawasih. Pemburuan liar tersebut membuat populasi Cendrawasih saat ini semakin berkurang, bahkan terancam punah.

Salah satu faktor utama perusaknya habitat Cendrawasih adalah penebangan liar yang terjadi di sekitar Papua. Hal ini yang menjadikan Cendrawasih berkurang untuk melakukan reproduksi. Pada abad 19 hingga awal abad 20 sekitar tahun 1997, pemburuan Burung Cendrawasih untuk dijadikan penghias topi di Eropa. Namun kini Burung-burung tersebut sudah dilindungi, dan hanya untuk keperluan perayaan suku setempat saja yang diperbolehkan untuk menangkap Burung Cendrawasih.

Burung Cendrawasih menjadi maskot Papua Nugini karena burung ini sangat sering kita jumpai di kota fak-fak Papua Nugini. Burung ini disebut juga dengan Burung Dari Surga (Bird Of Paradise), karena burung ini jarang sekali turun ke tanah karena sering hinggap di dahan atau ranting pohon. Selain itu, burung ini juga memiliki warna yang indah serta mencolok. Warna bulu dari Burung Cendrawasih kombinasi beberapa warma, antara warna hitam, cokelat, oranye, kuning, putih, biru, merah, hijau, dan ungu. Kemolekkan burung ini juga makin bertambah dengan bulunya yang memanjang.

Keindahan bulu yang dimiliki Burung Cendrawasih ini berjenis kelamin jantan, tidak dimiliki oleh sang betina yang mempunyai bulu tak seindah pejantan. Ukuran Cendrawasih betina pun cenderung lebih kecil dibanding sang jantan. Pada musim kawin, biasanya Cendrawasih jantan akan memperlihatkan gerakan-gerakan semacam tarian dan atraksi untuk memikat sang betina. Cendrawasih memiliki geraka-geraka-gerakan seperti tarian dengan memamerkan keindahan bulunya untuk memikat Cendrawasih betina dengan cara yang berbeda-beda.

Burung dari surga ini memiliki jenis dan warna bulu yang bermacam-macam. Burung Cendrawasih terdiri dari 13 genus dan ada sekitar 43 jenis, habitat aslinya yaitu dihutan lebat yang umumnya terletak didaerah dataran rendah. Burung yang indah ini hanya banyak ditemukan di Indonesia bagian timur, teruama Pulau-pulau selat Tore, Papua Nugini, dan Australia.

Indonesia adalah negara dengan jumlah jenis Cendrawasih terbanyak, dan terdapat sekitar 30 jenis Cendrawasih. 28 jenis terdapat di Papua Nugini, salah satunya yang mencaji maskot Papua Nugini yaitu Burung Cendrawasih mati kawat. Selain itu, seperti Burung Cendrawasih kuning kecil, Cendrawasih botak, Cendrawasih raja, Cendrawasih merah, dan Toowa sudah masuk dalam daftar jenis satwa atau fauna yang dilindungi berdasarkan UU no 5 tahun 1990 dan PP no 7 tahun 1999.

Bekantan Adalah Fauna Maskot Profinsi Kalimantan Selatan

Bekantan atau dalam nama ilmiahnya Nasalis larvatus adalah sejenis monyet berhidung besar serta panjang dengan bulu berwarna coklat kemerahan, dan merupakan satu dari dua spesies dalam genus tunggal monyet Nasalis.

Yang memberdakan antara bekantan dengan monuet adalah hidung bekantan lebih besar dan panjang yang hanya ditemukan di spesies jantan. Karena dari bentuk hidungnya yang seperti itu, monyet ini dikenal sebagai monyet Belanda yang berarti bakantan (dalam bahasa Brunei).

Tidak diketahui apa fungsi dari hidung bekantan yang besar dan panjang, Namun sang bekantan betina akan memilih bekantan jantan yang hidungnya besar untuk menjadi pasangannya. Bekantan jantan berukuran lebih besar dibandingkan dari betinanya, dan ukuran dari sang jantan bisa mencapai 75 cm dengan berat hingga 24 kg.

Untuk ukuran monyet biasa hanya 60 cm dengan berat 12 kg saja, berikut juga salah satu perbedaan antara bekantan dengan monyet. Bekantan juga memiliki perut yang buntcil karena kebiasaannya mengkonsumsi makanan seperti biji-bijian, dan buah-buahan.

Terkadang, bekantan juga memakan aneka dedaunan yang menghasilkan gas waktu dicerna. Sehingga hal ini yang mengakibatkan perut bekantan menjadi buncit.

Bekantan sering menghabiskan sebagian waktunya diatas pohon, dan hidup secara berkelompok antara 10 hingga 32 bekantan. Sistem sosial bekantan pada dasarnya adalah satu kelompok terdiri dari satu jantan dewasa (one-male group), dengan beberapa betina dan anak-anaknya.

Bekantan jantan yang sudah remaja akan keluar dari kelompok one-male, dan bergabung dengan kumpulan pejantan dewasa. Hal ini sebagai upaya untuk menghindari terjadinya inbreeding.

Populasi bekantan tersebar dan merupakan spesies endemik di hutan bakau, rawa, dam hutan pantai di Borneo (Kalimantan, sabang, Serawak dan Brunei). Spesies ini memiliki selaput yang ada di sela-sela jari, sehingga bekantan juga dapat berenang dengan baik serta dapat menyekam untuk beberapa detik.

Akibat menghilangnya habitat hutan dan penangkapan liar yang terus berlanjut serta terbatasnya daerah dan populasinya, bekantan dievaluasikan sebagai hewan fauna yang terancam punah di International Union for the Conservation of Nature (IUCN).

Lalu berdasarkan the Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), bekantan masuk dalam appendix I atau spesies yang terancam punah. Sangat menyayangkan jika Fauna Maskot Kalimantan Selatan ini harus punah.

Burung Terindah Di Dunia

Burung merak adalah Salah satu hewan yang dinobatkan sebagai burung terindah di dunia karena memiliki bulu yang berwana-warni, serta memiliki mahkota di kepalanya yang eksotik. Jenis burung merak masih berfamily dengan ayam hutan.

Burung yang mempunyai bulu cantik ini memiliki perbedaan yang signifikan antara burung merak jantan dan betina. Untuk Merak jenis jantan, cenderung memiliki jambul yang menjulang tinggi serta tegap keatas. Ukuran merak jantan juga lebih besar dibanding dengan ukuran tubuh si betina, selain itu juga merak jantan memiliki bulu ekor yang panjangnya bisa mencapai 300 cm. Berbeda dengan ekor yang dimiliki merak betina yang hanya memiliki panjang sekitar 50 cm saja.

Sama halnya dengan jenis burung-burung yang lain, perkembangan burung merak tidak hanya ada di Indonesia saja. Habitatnya yang berkembang luas di seluruh dunia, membuat pupulasi burung merak menjadi beberapa jenis yang sesuai dengan daerah asalnya.


1. Merak Kongo

Merak Kongo atau dalam nama ilmiahnya Afropavo congensis adalah salah satu burung dari tiga spesies merak. Spesies ini merupakan satu-satunya burung di marga Afropavo dan merak yang terdapat di Kongo, Benua Afrika.

Burung merak jantan jenis ini, memiliki bulu yang berwana biru gelap dengan dihiasi warna hijau serta warna ungu mengkilap. Dikepala terdapat jambul tegak berwarna putih, serta kulit leher yang berwarna merah.

Sedangkan untuk si betina berwarna coklat dengan bulu sayap warna hijau mengkilap dan memiliki jambul berwarna coklat. Merak Kongo termasuk jenis fauna langka yang dilindungi.


2. Merak Biru

Burung Merak Biru mempunyai nama latin Pavo Cristatus, merupakan salah satu jenis burung merak yang unik karena bulu ditubuhnya didominasi oleh warna biru yang sangat mencolok.

Merak biru jantan yang sudah dewasa, memiliki ukuran tubuh yang lumayan besar dengan panjang mencapai 230 cm, serta terdapat jambul yang berdiri tegak membentuk kipas dengan warna biru juga.

Asal dari burung merak biru adalah dari India. Namun kini populasinya sudah menyebar ke Sri Lanka, Pakistan, Nepal, dan Bangladesh. Burung Merak Biru ini juga dilindungi karena populasinya yang terancam punah.


3. Merak Hijau

Pavo Mucitus adalah nama latin dari Burung Merak Hijau, yang memiliki bulu dominan berwarna hijau dengan campuran warna keemasan. Burung merak hijau jantan dewasa, memiliki ukuran tubuh sangat besar hingga hampir mencapai 300 cm, serta penutup ekor yang sangat panjang.

Burung merak betina memiliki ukuran lebih kecil dari ukuran tubuh sang jantan, serta bulu-bulunya yang kurang mengkilap berwarna hijau agak keabu-abuan, tanpa bulu penutup ekor.

Populasi merak hijau banyak tersebar di Jawa Indonesia, Malaysia, India, Bangladesh, dan Republik Rakyat Cina. Namun ada yang tidak dimiliki oleh jenis burung merak yang lain, merak hijau ini dapat terbang. Tentu sama dengan merak yang lain, merak hijau juga termasuk burung yang dilindungi.

Hewan Endemik Dari Negeri Tirai Bambu

1 Comment

Ailuropoda melanoleuca (Panda Raksasa), adalah seekor mamalia yang masuk dalam anggota keluarga beruang yang paling langka, serta tidak ditemukan di negara-negara lain selain di Negara Tiongkok, Beijing. Pada pertengahan abad ke-20 terakhir, panda menjadi semacam lambang negara Tiongkok. Dan sekarang ditampilkan dalam uang emas di negara tersebut.

Hewan yang berwarna hitam-putih ini menggunakan indra penciumannya untuk berkomunikasi serta reproduksi demi kelangsungan hidup hewan bernama Panda ini. Manajer Proyek Beijing Genomics Institute yaitu Shancen Zhao berkata, dahulu ada enam populasi geografis panda yang terbagi menjadi tiga populasi genetik di Cina.

Sekitar 2.800 tahun yang lalu, Hewan gempal yang menggemaskan ini terbagi menjadi tiga populasi genetik yaitu Qin (Qinling), Min (Minshan), dan QXL (Qionglai-Daxiangling-Xiaoxiangling-Liangshan). Penelitian menemukan bukti bahwa fluktuasi populasi panda selama jutaan tahun didorong oleh perubahan iklim global. Namun, aktivitas manusia telah memicu turunnya populasi panda di alam bebas.

Faktor makanan, isolasi habitat serta kendala reproduksi juga membuat spesies endemik ini tidak dapat berevolusi untuk kelangsungan hidupnya. Meski secara taksonomis tergolong karnivora, sebagian besar dari makanannya adalah bambu. Seperti banyak hewan yang lain, panda adalah hewan omnivora karena mereka juga makan telur, dan juga serangga sebagai sumber protein bagi mereka.

Hewan yang merupakan lambang Wold Wildlife Found (WWF), saat ini diketahui sangat sedikit populasinya karena minimnya reproduksi dan mamalia ini hanya melahirkan 1-3 anak saja. Hewan yang berbobot antara 70-150kg ini hanya bertahan hidup hingga usia 30 tahun saja, dan kini tergolong hewan yang dilindungi karena populasinya yang terancam punah.

Panda termasuk hewan pemalas, karena hewan ini hanya selalu duduk sambil menikmati bambu yang termasuk makanan kesukaan dari hewan kesayangan negeri Tirai Bambu. Tak jarang hewan ini sering melakukan gerakan-gerakan yang menggemaskan serta lucu.