Tag: Aligator

Aligator Sang Raja Sungai

Aligator Sang Raja Sungai Yang Kini Telah Dilindungi

Buaya merupakan reptil bertubuh besar yang hidup di di air. Secara ilmiah, buaya meliputi seluruh jenis anggota suku Crocodylidae. Walau demikian, buaya dapat dikenalkan secara global untuk menyebut aligator, kaiman, dan gavial adalah kerabat dari buaya yang berlainan suku. Pada umumnya, buaya menghuni habitat perairan tawar seperti sungai, danau, rawa dan lahan basah lainnya. Buaya Di Indonesia kini sudah masuk didalam Taman Satwa karena populasi buaya di alam bebas sudah sangat sedikit.

Namun ada juga yang hidup di air payau (campuran air laut dan air tawar) seperti buaya muara. Mangsa utama dari buaya adalah hewan yang bertulang belakang seperti ikan, reptil, dan mamalia lainnya, karena buaya sejatinya adalah hewan karnivora. Buaya adalah hewan purba yang hanya sedikit berubah dikarenakan evolusi semenjak zaman dinosaurus.

Didalam bahasa Inggris, buaya dikenal dengan sebutan Crocodile. Hal ini berasal dari seorang Yunani yang meperhatikan buaya yang mereka saksikan di Sungai Nill. Selain dari bentuknya yang purba, sesungguhnya buaya adalah hewan melata yang kompleks. Tak sama layaknya seekor reptil, buaya memiliki empat ruang pada jantungnya, dan sekat rongga badang (diafragma) dan Serebral cortex.

Selain itu, bentuk dan struktur luar dari buaya memperlihatkan dengan jelas cara hidup pemangsa yang sangat enerjik. Tubuh yang sejajar lurus dengan ekor yang kuat, memungkinkannya untuk berenang dengan cepat. Terdapat selaput pada jari-jari belakangnya yang sangat membantu ketika buaya ingin melakukan pergerakaan tiba-tiba didalam air.

Buaya merupakan hewan yang dapat hidup didua alam, yaitu di darat dan air. Namun sering kali buaya akan menghabiskan waktunya di dalam air, dan ia akan ke darat saat ingin berjemur. Pergerakan buaya sangat cepat sekali untuk menangkap mangsanya di air maupun didarat. Aligator ini juga memiliki rahang yang sangat kuat yang dapat menggigit dengan kekuatan yang sangat luar biasa, menjadikannya hewan dengan kekuatan gigitan yang paling besar.

Hewan pemangsa ini dilengkapi dengan gigi-gigi yang sangat runcing yang berfungsi untuk menerkam erat mangsanya dan menariknya untuk dibawa kedalam air sebelum memangsanya. Otot-otot pada rahang buaya berkembang dengan sangat baik, sehingga gigitan buaya amat cepat dan kuat. Mulut buaya yang sudah menggigit mangsanya, akan sulit untuk dibuka kembali. Hal ini karena kinerja otot pada rahang buaya yang berfungsi dengan sangat baik.

Kuku yang ada pada jari-jari buaya juga berfungsi sangat kuat, namun buaya tidak akan bisa menerkam mangsanya dari sisi samping buaya dan dari belakang. Hal itu akan menyulitkan buaya karena leher buaya sangat kaku sehingga tidak memungkinkan untuk menyerang dari samping dan belakang.

Buaya akan memangsa burung, ikan, mamalia. Tak jarang buaya akan memangsa buaya kecil atau bangkai buaya. Namun ia tak akan memangsa burung cerek mesir yang dikenal memiliki hubungan simbiotik dengan buaya. Saat buaya berjemur didarat, ia akan membuka mulutnya dengan waktu yang cukup lama.

Pada saat itulah para burung-burung cerek mesir ini yang akan membersihkan sisa daging yang ada di dalam mulut buaya yang penuh dengan gigi. Terkain dengan burung cerek mesir, buaya tidak akan memangsa burung tersebut karena jasanya sang burung sudah membersihkan gigi sang raja sungai.

Pada musim kawin dan bertelur, sang raja sungai bisa menjadi sangat agresif dan akan mudah menyerang hewan, bahkan manusia yang mendekatinya. Telur-telur buaya biasanya akan dikubur bibawah gundukan pasir atau tanah yang bercampur dengan serasah dedaunan, dan sang induk akan menjaga telurnya dari jarak sekitar 2 meter dengan masa pengeraman 80 hari.