Kategori: Jenis Fauna Indonesia

Khasiat Landak

Khasiat landak

Landak adalah salah satu jenis hewan yang memiliki bulu duri tajam sebagai senjata saat sedang terancam. Landak merupakan hewan pengerat terbesar yang cukup lincah saat menghindari musuh atau hewan yang akan memangsanya.

Hewan herbivora ini ternyata memiliki khasiat sebagai obat dengan cara mengolahnya menjadi makanan. Dikalangan masyarakat karang anyar, landak menjadi ciri khas makanan di tempat ini. Itulah beberapa hal yang cukup perlu diketahui mengenai landak, untuk kesempatan selanjutnya akan dibahas mengenai manfaat bulu landak dalam kehidupan sehari-hari.

Meskipun tidak banyak manfaat bulu landak tetapi bulu landak ini cukup bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa manfaat bulu landak antara lain sebagai obat masuk angin, menurunkan demam, penangkal makhluk gaib, mengurangi sakit gigi, mengatasi asam urat, mengatasi rematik, dan memperlancar peredaran darah.

Tidak dapat di pungkiri memang bahwa bulu landak memiliki beberapa manfaat yang memang tidak cukup banyak, namun bagi menjaga kesehatan ke 8 manfaat bulu landak itu sudah dapat dikatakan dapat mengatasi berbagai macam penyakiti.

Ada beberapa cara memanfaatkan bulu landak. Selain dengan dibuat ramuan bulu landak, biasanya dari landak ini pun sudah ada minyak ekstrak landak yang memiliki manfaat yang cukup banyak seperti yang telah diuraikan pada penjabaran di atas.

Untuk itu manfaatkan lah landak maupun bulu landak untuk kesehatan anda. Bila dilihat dari uraian di atas bahwa landak dapat dimanfaatkan menjadi tiga hal yaitu bermanfaat untuk mengatasi segala penyakit, untuk menangkal makhluk gaib, serta dapat dijadikan sebagai bahan makanan.

Karena sampai saat ini, landak belum termasuk daftar hewan yang dilindungi. Beberapa dari mereka yang menjual daging landak juga membudidayakannya sendiri sebagai stok agar tidak mengganggu populasinya di alam bebas.

Burung Gemak

Burung gemak atau burung puyuh adalah jenis burung kecil berekor pendek dengan tubuh gempal yang bisa terbang tinggi. Burung jenis ini merupakan burung yang lebih sering berjalan kaki dibanding terbang. Makanan dari burung gemak berupa biji-bijian, buah, dan serangga yang ada di permukaan tanah.

Pada zaman dahulu, burung puyuh sering ditangkap untuk dikonsumsi daging dan telurnya. Itulah yang menyebabkan jumlahnya turun drastis di alam. Di Jawa dan Bali dapat ditemukan tiga jenis puyuh, yaitu gemak tegalan, gemak loreng, dan puyuh batu.

Kata gemak dan puyuh dalam dunia akademis merujuk pada dua suku burung yang berbeda. Namun dalam pembahasan ini saya memasukkan mereka ke dalam kelompok yang sama karena mereka memiliki morfologi tubuh yang serupa. Selain itu, masyarakat awam juga menyebut gemak dan puyuh untuk satu jenis burung yang sama.

Gemak tegalan dan loreng dimasukkan dalam family turnicidae. Suku ini memiliki anggota yang umumnya betina lebih besar dan lebih mencolok dibandingkan jantan. Betina akan kawin dengan beberapa jantan dan meninggalkan telur yang akan dierami oleh si jantan.

Burung jantan juga bertugas merawat anak-anaknya hingga dewasa dan dapat hidup sendiri. Ketika masa kawin tiba, betina akan menarik perhatian jantan untuk kawin dengannya. Si jantan akan memilih betina yang akan dikawininya, umumnya jantan memilih betina yang bertubuh lebih besar dengan penampilan menarik. Sedangkan gemak loreng merupakan anggota family phasianidae, satu suku dengan ayam-ayaman. Suku ini memiliki ciri berupa jantan yang berwarna lebih menarik dan mencolok.

Si betina bertubuh lebih suram untuk menyamarkan diri dengan keadaan sekitar. Menjelang kawin, si jantan akan menarik betina untuk kawin dengannya. Betina akan memilih jantan yang memiliki tubuh paling menarik dibandingkan yang lainnya.

Burung gemak atau puyuh merupakan burung liar yang juga diburu untuk diternak oleh beberapa orang yang membudidayakan burung ini, maupun yang ingin memperdagangkannya. Karena hingga saat ini, burung gemak tidak termasuk satwa yang dilindungi.

Burung Pipit

Burung pipit

Burung pipit adalah nama umum untuk sekelompok burung kecil pemakan biji-bijian yang banyak tersebar di daerah tropis. Di Indonesia, burung pipit termasuk jenis hewan yang kurang disukai oleh para petani karena suka memakan biji padi atau biji jagung sehingga merusak tanaman mereka.

Burung pipit memiliki ukuran yang cukup kecil, panjang tubuhnya hanya sekitar 10 sampai 12 cm. Pipit yang paling besar adalah jenis Gelatik Jawa yang panjangnya bisa mencapai 17 cm dengan berat 25 gram. Kendati memiliki ukuran kecil, tetapi umur burung pipit terbilang cukup panjang. Burung pipit bisa hidup mulai dari enam sampai delapan tahun lamanya.

Kebanyakan burung pipit tidak tahan dengan iklim dingin dan memerlukan habitat hangat seperti di wilayah tropika. Namun ada pula sebagian kecil jenis yang beradaptasi dengan lingkungan dingin di Australia selatan. Pipit bertelur 4-10 butir, putih, yang disimpan dalam sarangnya yang berupa bola-bola rumput.

Jenis-jenis pipit (termasuk bondol dan gelatik) senang berkelompok, dan sering terlihat bergerak dan mencari makanan dalam gerombolan yang cukup besar. Burung-burung ini memiliki perawakan dan kebiasaan yang serupa, namun warna-warni bulunya cukup bervariasi.

Burung pipit sangat cepat dalam melakukan repoduksi. Namun hingga sampai saat ini, burung pipit belum dimasukkan ke dalam daftar satwa yang dilindungi. Maka dari itu, tak jarang bebapa orang juga memburu burung yang biasanya memakan padi-padian di sawah ini untuk dimakan dagingnya.

Burung Cucak Ijo

Cucak ijo adalah burung pengicau yang sangat populer

Burung cucak Ijo adalah salah satu jenis burung pengicau yang seluruh tubuhnya didominasi warna hijau. Burung yang memiliki nama latin Chloropsis Sonnerati ini merupakan satwa pengnghuni hutan Indonesia yang menyebar di pulau Kalimantan, Pulau Jawa, dan Pulau Bali.

Cucak ijo hidup puncak-puncak pohon yang tinggi daerah hutan primer, hutan sekunder, dan hutan bakau. Jenis burung yang satu ini sangat menyukai tajuk pohon yang memiliki daun lebat. Makanan dari burung hijau ini adalah serangga dan buah-buahan yang ada dihutan.

Burung ini sering juga disebut dengan burung Murai daun, karena warna bulunya yang menyerupai dedaunan hijau. Meski burung jenis ini tersebar luas di hutan, burung cucak sangat jarang ditemukan didalam hutan karena ia akan mencari tempat berteduh perbukitan yang mencapai ketinggian sekitar 1.000 mpdl.

Burung pengicau ini sering kali bersikap agresif terhadap burung jenis lainnya yang memiliki ukuran tubuh lebih kecil darinya. Cucak ijo sangat populer di dunia burung pengicau, dan ia akan menundukkan kepalanya saat sedang berkicau.

Para pecinta burung sangat banyak yang berminat untuk memiliki burung ini, karena suara kicauannya yang sangat indah. Hingga saat ini, belum ada informasi terkait pengaruh dari perdagangan jenis burung cucak ijo terhadap populasinya di alam bebas.

Banyaknya pemburuan liar karena maraknya permintaan para penggemar burung, burung cucak ijo pun mendominasi pasaran burung pengicau. Terkait dengan populasinya, ternyata burung ini belum dilindungi oleh undang-undang yang ada.

6 Jenis Burung Indah Indonesia

Indonesia merupakan rumah bagi burung-burung cantik yang menghuni beberapa hutan tropis. Terdapat banyak unggas yang hidup dan mendiami hutan-hutan yang tersebar di Indonesia, beberapa diantaranya merupakan satwa endemik Indonesia yang dilindungi.

Berikut adalah enam jenis burung yang hingga saat ini masih hidup di Indonesia, namun ada beberapa yang memang dibudidayakan di cagar alam yang tersebar di Indonesia.

Jalak Bali

Burung Jalak Bali adalah jenis burung pengicau berukuran sedang dengan panjang tubuh sekitar 25 cm. Jalak Bali hanya ada di hutan bagian barat Pulau Bali, dan merupakan Hewan Endemik Indonesia yang menghuni Pulau Bali. Burung ini sempat dinobatkan sebagai lambang fauna Provinsi Bali pada tahun 1991 silam.

Nuri Bayan

Burung Nuri atau Bayan yang memiliki nama latin Eclectus Roratus adalah burung yang memiliki ukuran tubuh sedang, dengan panjang sekitar 43 cm. Burung ini merupakan salah satu genus burung paruh bengkok (Eclectus), dan jenis burung Nuri Bayan banyak tersebar di Indonesia. Habitat aslinya berada di dataran rendah seperti savana, hutan bakau, dan perkebunan kelapa yang ada di Maluku, Kepulauan Sunda Kecil, Irian, Australia, dan Papua Nugini. Diperkirakan ada sekitar sembilan spesies burung nuri yang masih ada di alam liar yang tersebar di pulau-pulau tersebut.

Burung Bidadari

Burung bidadari ini adalah fauna endemik Pulai Halmahera, Provinsi Maluku Utara. Ukuran tubuh burung ini cukup kecil, dan hanya berukuran sekitar 28 cm dan berwarna coklat zaitun. Burung bidadari jantan memiliki mahkota berwarna ungu dan ungu pucat mengkilat, serta warna pelindung dadanya hijau zamrud.

Cendrawasih

Burung Cendrawasih adalah jenis burung yang masih famili dengan Paradisaeidae yang berasal dari ordo Passeriformes, yang banyak djumpai di Indonesia Timur, Pulau-pulau selat Tores, Papua Nugini, dan Australia Timur. Burung Cendrawasih yang sering kita jumpai adalah jenis Cendrawasih kuning yang terdapat di Papua Nugini. Ukuran Burung ini sangat bervariasi mulai dari Cendrawasih Raja yang memiliki berat 50 gram, bisa panjng hingga 15cm, lalu Cendrawasih Paruh sabit hitam bisa mencapai panjang 110cm. Untuk Cendrawasih Manukod Jmbul bergulung, dapat memiliki berat hingga 430 gram.

Burung Merak

Burung merak adalah Salah satu hewan yang dinobatkan sebagai burung terindah di dunia karena memiliki bulu yang berwana-warni, serta memiliki mahkota di kepalanya yang eksotik. Jenis burung merak masih berfamily dengan ayam hutan.

Kakak Tua Kecil Jambul Kuning

Burung kaka tua kecil jambul merupakan hewan asli Indonesia yang menyebar di beberapa tempat seperti Kepulauan Sunda Kecil, Sulawesi, Bali, dan Timor. Burung kakak tua yang satu ini tidak seperti burung kakak tua yang lain, karena ukuran tubuhnya yang kecil sekitar 35 cm. Burung kakak tua kecil jambul kuning merupakan salah satu satwa endemik Indonesia.

Mengenal Babirusa

Babirusa adalah hewan endemik Indonesia yang berada di Sulawesi dan Maluku

Babirusa adalah jenis babi liar yang hanya ada di Indonesia, yang terdapat di sekitar Sulawesi dan Maluku. Habitat asli babirusa adalah jenis hutan hujan tropis. Babi jenis ini sama halnya seperti babi yang lain, yang gemar memakan buah-buahan serta tumbuhan seperti mangga, jamur, dan dedaunan.

Babirusa merupakan hewan nokturnal, dimana satwa ini hanya akan berburu makanan dimalam hari untuk mengindari binatang buas pemangsanya. Ukuran tubuh babirusa lebih besar dari babi hutan biasa yakni sekitar 87 hingga 106 cm. Sedangkan tingginya berkisar antara 65 sampai 80 cm dengan berat tubuh mencapai 90 kg.

Jenis jantan memiliki taring yang menjulang keatas, sementara betina hanya memiliki taring dengan ukuran kecil. Sedangkan terdapat dua taring yang mencuat keatas di dekat mata yang berfungsi sebagai pelindung mata dari semak berduri.

Meski babirusa bersifat penyendiri, namun pada umumnya mereka hidup berkelompok dengan satu pejantan yang paling kuat sebagai pemimpin. Babirusa termasuk hewan yang pemalu, dan ia akan berubah menjadi buas ketika merasa terganggu.

Mamalia hutan ini memiliki masa kehamilan sekitar 125 hingga 150 hari, dan ia akan melahirkan satu hingga dua ekor anak saat melahirkan. Selanjutnya bayi babirusa akan di susui kurang lebih selama satu bulan, dan ia akan mencari makan sendiri di hutan bebas besama induknya.

Masa reproduksi babirusa sangat lama, sang betina akan melahirkan hanya satu kali dalam setahun. Sedangkan usia dewasa babirusa yakni 5 hingga 10 bulan, dan ia hanya bertahan hingga usia 24 tahun.

Sejak tahun 1996 silam, babirusa sudah masuk dalam kategori hewan langka yang dilindungi oleh IUCN dan CITES. Hal ini dikarenakan pemburuan penduduk setempat yang sengaja membunuhnya karena dianggap perusak lahan pertanian dan perkebunan. Tak jarang babirusa diburu untuk dimakan dan diperjual bellikan dagingnya.

Kini jumlah hewan endemik Indonesia ini diperkirakan tersisa 4000 ekor saja. Meski demikian, masih sering dijumpai adanya perdagangan daging babirusa di daerah Sulawesi Utara. Dari kejadian tersebut, pusat penelitian dan pengembangan biologi LIPI berkerja sama dengan pemerintah daerah setempat untuk melindungi babirusa.

Departemen Kehutanan dan Universitas Sam Ratulangi juga mengadakan program perlindungan serta pengawasan habitat asli hewan endemik Indonesia ini, dan meraka juga membuat taman perlindungan babirusa di atas tanah yang luasnya mencapai 800 hektare.

Katak Jenis Baru Di Indonesia

Megophrys Lancip merupakan katak jenis baru

Keaneka ragaman fauna di Indonesia tercatat kian menurun menurut jenis satwa yang terancam punah. Diawali dengan populasinya yang berkurang karena faktor alam, reproduksi, serta pemburuan yang semakin marak terjadi. Disisi lain, ada beberapa fauna yang bertambah seiring ditemukannya jenis satwa baru.

Akhir-akhir ini, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah menemukan katak dan cicak yang merupakan jenis baru. Katak jenis baru ini sebenarnya sudah banyak diburu manusia untuk dipelihara karena bentuknya yang unik. Namun hingga sampai saat ini belum diketahui secara ilmiah tentang namanya.

Katak jenis baru ini diberi nama ilmiah Megophrys Lancip, yang berarti katak mulut lancip. Sebelumnya banyak yang tidak menyadari jika ternyata katak tersebut adalah jenis baru, dan LIPI langsung melakukan eksplorasi tentang katak jenis baru tersebut pada tahun 2013 lalu.

Awal ditemukannya katak jenis Megophrys Lancip yakni di kebun kopi Ngarip, di sebuah Desa kecil kawasan Lampung, Sumatera. Saat melakukan penelitian tentang jenis katak baru ini perlu dibutuhkan kejelian karena bentuk katak tersebut sangat menyerupai sampah organik (serasah).

Sekilah bentuk katak moncong lancip menyerupai jenis katak yang ada di Jawa dan juga Sumatera. Namun setelah dilakukan tes DNA, ternyata jenis Megophrys Lancip berbeda dan tim LIPI langsung melakukan ekspedisi untuk menindak lanjuti jenisnya.

Katak jenis Megophrys Lancip memang sudah ada di Indonesia sejak lama, namun jenis baru ini memiliki ciri dan bentuk yang berbeda dengan katak yang sudah ada. Kehadirannya pun membuat ramai media karena bentuknya yang unik, setelah ditelusuri ternyata sudah lama katak ini di perjual belikan kepada pecinta katak.

Hingga kini belum ada yang memperhatikan tentang keberadaan fauna jenis katak untuk dimasukkan ke dalam daftar satwa yang dilindungi. Sebenarnya katak sangat penting bagi kehidupan di alam bebas sebagai rantai makanan, dan sebagai pemberi isyarat pergantian iklim di Indonesia.

Burung Enggang Gading Istimewa Kalimantan barat

Burung Enggang Gading

Burung Enggang Gading atau Rangkong Gading adalah burung yang memiliki ukuran besar, dengan bentuk paruh yang berukuran besar. Burung ini termasuk burung purba yang masih hidup, dan memiliki nilai budaya yang sangat tinggi di Indonesia.

Pulau Sumatera memiliki jumlah terbanyak dengan sembilan jenis burung rangkong, kemudian Kalimantan juga memiliki burung jenis ini dengan jumlah delapan jenis. Hutan Indonesia merupakan habitat nyaman bagi 13 jenis burung rangkong yang tersebar luas di hutan tropis, dan tiga diantaranya bersifat endemik.

Burung enggang dipercaya sebagai tinggang atau simbol alam atas (alam kedewataan), terutama bagi masyarakat Kalimantan barat. Di Indonesia, burung istimewa ini disebut sebagai petani hutan sejati. Hal ini disebabkan karena burung enggang merupakan burung pemakan buah yang tidak mencerna biji, dan menyebarkan biji tersebut melalui kotorannya. Burung-burung inilah yang menanam pohon secara alami di hutan lepas Indonesia.

Burung rangkong gading jantan memiliki leher yang tidak berbulu dengan warna merah, sementara keher yang terdapat pada betina berwarna biru pucat. Burung endemik Kalimantan ini sangat mudah sekali untuk dikenali, karena ukurannya yang sangat besar. Ciri khas burung rangkong gading, ian memiliki ekor berwarna putih dengan garis hitam melintang.

Pada sayap terdaat garis putih lebar, dan memiliki tanduk berwarna kuning kemerahan tepat di atas paruh. Sedangakan warna paruh berwarna sama kuning kemerahan, warna kaki coklat, dan iris berwarna merah. Burung rangkong tidak dapat berkicau karena bukan jenis burung kicau, dan ia hanya mengeluarkan suara menyerupai terompet yang di tiup berulang-ulang.

Seperti yang kita tahu, jenis makanan burung enggang gading adalah buah-buahan, biji-bijian, dan serangga. Burung ini sangat berguna untuk pelestarian tumbuhan khususnya Ficus sp yang hanya tumbuh di hutan tropis, karena ia akan menyebarkan benih biji yang ia makan melalui kotorannya saat terbang.

Awal penemuan burung berparuh besar ini terdapat di Semenanjung Malaya, Sumatera, dan Kalimantan. Burung langka ini termasuk dalam jenis fauna yang dilindungi undang-undan, dan Burung Enggang Rangkong juga menjadi maskot Provinsi Kalimantan Barat.

Burung enggang gading bersifat monogami, yang berarti burung ini hanya memiliki satu pasangan seumur hidupnya. Ia akan bersarang di pohon yang berlubang dengan ketinggian sekitar 50 m, namun ia hanya mencari pohon dengan lubang alami karena burung enggang tidak bisa membuat lubang sendiri.

Burung enggang rangkong diketahui memiliki masa berkembang biak terlama yakni 150 hari dalam masa penetasan, dan sang betina akan berada di dalam sarang untuk menemani anaknya. Lalu sang jantan akan menutup lubang tersebut dengan menggunakan kotoran dan tanah liat, kemudian ia hanya menyisakan lubang kecil untuk dapat mengeluarkan paruh saat sang jantan memberi makan.

Kini keberadaan burung endemik Kalimantan barat ini sudah sangat mengkhawatirkan dengan jumlah populasinya yang semakin menurun. Selain proses reproduksi yang sangat lama, burung ini juga sering diburu untuk diambil kepalanya dengan dasar perdagangan. Di hutan saat ini sudah jarang terdengar suara burung langka ini.

Kanguru Pohon Mantel Emas

Kanguru Pohon Mantel Emas merupakan hewan endemik Indonesia yang mendominasi Pegunungan sekitar Papua

Kanguru pohon mantel emas adalah satwa marsupial atau mamalia yang memiliki kantung diperutnya seperti kanguru pada umumnya, dan kanguru tersebut merupakan kanguru pohon. Kanguru jenis ini merupakan hewan endemik Indonesia yang terdapat di Papua Nugini.

Mamalia bertubuh coklat muda ini biasanya akan memakan buah dan biji-bijian. Bulu halus berwarna coklat merupakan ciri khas dari kanguru ini. Hewan ini juga memiliki ekor yang panjang, serta terdapat motif lingkaran yang menyerupai cincin dengan warna bulu yang lebih cerah.

Pada bagian pipi dan kakinya terhiasi warna kuning keemasan, dan inilah yang menjadikan kanguru Papua ini dijuluki dengan kanguru mantel emas. Kanguru jenis ini ditemukan diwilayah terpencil tepatnya di Pegunungan Foja Papua, Indonesia.

Panjang ukuran tubuhnya sekitar 41 hingga 77 cm, dengan panjang ekor sekitar 40 hingga 80 cm. Sedangkan untuk berat badan kanguru mantel emas berkisar antara 7 hinga 15 kg, dan ia cenderung akan menghabiskan waktunya untuk beraktivitas di atas pohon.

Kanguru pohon milik Papua ini belum banyak diketahui informasinya karena keberadaannya yang sudah langka. Terlebih lagi, rusaknya habitat asli dari kanguru Papua yang disebabkan dari aktivitas manusia. Pada tahun 2015, IUCN memasukkan kanguru pohon mantel emas ke dalam kategori kritis. Dalam 30 teakhir, IUCN telah mencatat bahwa populasinya kini menurun sebanyak 80%. Salah satu ancaman serius bagi kanguru pohon mantela emas adalah manusia. Perburuan liar terhadap spesies ini sangat marak, karena sebagian dari manusia tengah menjadikannya bahan dasar makanan.

Kanguru pohon mantel emas hampir mendominasi wilayah Papua, dengan menempati sekitar 80% daratan Papua. Beberapa tempat yang menjadi tempat tinggal hewan endemik Papua antara lain seperti Manokwari, Bintuni, Sorong, Maybrat, Waigeo, Fakfak, dan Raja Ampat.

Hiu Karpet Bintik Penghuni Perairan Raja Ampat

Hiu Karpet Bintik adalah hewan endemik Indonesia yang menghuni perairan Raja Ampat, Papua

Hiu Karpet Berbintik adalah hewan endemik Indonesia yang menghuni perairan Kepulauan Raja Ampat. Hewan air yang memiliki nama latin Hemiscyllium Freycineti merupakan merupakan hewan bertulang belakang. Ikan hiu karpet ini juga masuk dalam jenis hiu bambu.

Hewan jenis ini, banyak ditemukan di wilayah Papua. Hiu karpet bintik mulai dikenal sejak tahun 2003, dan kini ikan jenis ini merupakan satwa yang langka dan hampir punah. Hiu karpet bintik memiliki warna kulit dengan pola yang menyerupai macan tutul.

Pola tersebut menyebar keseluruh permukaan tubuh hiu bagian atas. Kemudian untuk bentuk tubuhnya tidak jauh berbeda dengan hiu yang lainnya, dengan bagian badan yang terdiri dari ekor , dua sirip samping, dua sirip yang terdapat dibagian punggung. Mata ikan hiu karpet terletak tepat dipala bagian atas, dan ciri yang lebih mencolok adalah moncongnya yang pendek.

Tubuh hiu karpet cenderung lebih panjang, dan moncongnya cenderung lebih pendek dari moncong hiu pada umumnya. Hiu karpet memiliki spirakel yang berada di sebelah matanya, dan bentuk sirip segitiga tebal yang tumpul pada bagian ujungnya.

Ukuran panjang maksimal hiu karpet bintik jantan maupun betina sekitar 46 cm. Keberadaan hiu karpet bintik biasanya akan berenang dikedalaman sekitar 0 sampai 12 mpdl. Selain itu, hiu karpet termasuk jenis hewan kecil invertebrata yang ada di Indonesia. Habitat hiu karpet bintik berada di peraian dangkal yang banyak ditemukan terumbu karang, pasir, dan rumput laut.

Hewan bertulang belakang ini termasuk jenis satwa yang terancam punah, dan masuk ke dalam daftar hewan yang dilindungi. Salah satu faktor berkurangnya jumlah populasi hiu karpet bintik ini dikarenakan banyaknya terumbu karang sebagai tempat tinggalnya yang rusak.

Kerusakan tersebut disebabkan oleh para pencari ikan yang menangkap ikan dengan menggunakan dinamit. Keindahan warna hiu bintik ini sangat menarik orang untuk menangkapnya, dan menjadikannya penghias aquarium. Maraknya peminat yang menginginkan ikan jenis ini merupakan salah satu hal yang akan berdampak buruk untuk kelangsungan populasinya.