Kategori: Flora Yang Dilindungi

Tanaman Hutan Tropis Yang Sudah Langka

Daun Sang Tumbuhan Raksasa Sumatera

Salo, daun Sang, daun payung, atau daun raksasa merupakan jenis tumbuhan palem yang mempunyai daun yang besar, lebar, dan relatif kuat. Di Indonesia, tumbuhan yang hanya memiliki daun yang besar ini disebut dengan daun payung. Tanaman ini dikenal dengan daun salo (Kepulauan Riau), dan di Sumatera disebut dengan daun sang. Jika di pedalaman Semenanjung Malaya dan Serawak, daun ini pergunakan sebagai atap rumah mereka.

Daun raksasa termasuk tanaman palem dan merupakan salah satu tanaman di Indonesia, tepatnya di Sumatera Utara. Anda dapat menjumpai tanaman ini didaerah Aras Napal dekat dengan Taman Nasional Gunung Leuser. Tanaman daun raksasa ini memiliki nama latin Johannestijsmania altifrons, yang merupakan salah satu dari empat keluarga pinang-pinangan atau palem tersebut.

Daun payung adalah tanaman yang tumbuh tunggal, dengan daun yang sangat besar dan bisa memiliki panjang antara 3 hingga 6 meter dan lebar 1 meter. Jika diperhatikan dari jarak jauh, tanaman ini terlihat seperti tidak mempunyai batang. Hal ini disebabkan kecilnya batang dari tanaman ini, dan terlalu besar ukuran daunnya.

Daun sang memiliki daun yang berwarna hikau, tepian daun yang berduri, dan keras. Bercuping kecil serta memiliki pangkal dengan urat ke pokok daun. Tekstur daun payung ini sangat kuat dan mengkilat seperti daun kelapa. Bentuk daun yang meruncing keujung dan pangkal daun, melebar dibagian tengah daun. Tanaman raksasa ini juga memiliki bunga yang tumbuh pada ketiak daun, berbentuk tegak, dan berwarna putih lunak. Daun raksasa memiliki buah dengan tekstur kasar, dan ditutupi benjolan seperti gabus yang membentuk kerucut.

Tanaman jenis Johannestijsmania banyak dijumumpai tumbuh dengan sehat dihutan atau diantara pepohonan yang lebat. Karena jenis tanaman ini tidak akan dapat bertahan hidup jika langsung terkena sinar matahari. Akar dari tanaman ini tak jauh berbeda dengan akar tanaman palem yang lainnya.

Keberadaannya dihutan sudah semakin berkurang karena banyaknya kebakaran hutan yang membuat tempat berlindung daun payung ini berkurang. Daun ini juga sering dimanfaatkan sebagai atap dan dinding rumah dibeberapa wilayah seperti didaerah Besitang, dan Langkat Sumatera Utara. Daun raksasa mampu menahan air dalam jangka waktu yang cukup lama, karena teksturnya yang agak kasar, sehingga tidak mudah robek.

Bentuk dari tanaman raksasa ini cukup indah, dan banyak yang menanamnya untuk hiasan taman. Namun karena habitatnya yang berada ditempat-tempat lembab dan kurang akan sinar Matahari, membuat tanaman ini sedikit susah untuk dijadikan tanaman hias di pekarangan rumah. Tanaman ini akan tumbuh subur di hutan tropis dengan tumbuh diantara pohon-pohon yang rindang, sehingga tidak langsung terkena sinar matahari.

Bunga Wijaya Kusuma

Bunga Wijaya kusuma mempunyai nama latin Epiphyllum Anguliger merupakan masuk dalam jenis tanaman kaktus. Tanaman ini berasal dari Amerika Tropika yaitu Venezuela dan Caribia dan dapat tumbuh didaerah yang beriklim sedang, hingga beriklim tropis. Walau begitu, tidak semua jenis tanaman seperti ini dapat berbunga karena pengaruh dari keadaan iklim, kesuburan tanah, serta bagaimana cara memelihara.

Wijaya kusuma dapat tumbuh di iklim yang sedang, dan ia hanya akan merekah pada saat malam hari dengan waktu yang tidak lama. Tanaman jenis kaktus memang agak sulit untuk menentukan cara perawatannya secara biologis, dan berbeda dengan wijaya kusuma. Bunga ini dapat merekah secara total ketika malam hari sekitar pukul 00.00 waktu setempat.

Di kalangan masyarakat Jogja dan Surakarta khususnya Keraton, percaya bahwa seorang raja akan naik tahta jikalau memiliki bunga wijaya kusuma sebagai syarat. Bunga wijayakusuma juga dipercaya sebagai pusaka keraton Dwarawati, yaitu titisan Wisnu sang pelestari Alam, Batara Kresna. Hingga saat ini, kepercayaan itu masih ada dan terus berlanjut turun-temurun.

Bunga wijaya kusuma ini memiliki batang yang terbentuk dari helaian daun yang mengeras dan mengecil, yang bentuk dari batang induk adalah silinder. Batang memiliki tinggi yang bisa mencapai 2 hingga 3 meter, dan daun yang berukuran 13 sampai 15 cm. Sementara lembaran daun berbentuk pipih halus berwarna hijau dan tidak memiliki duri layaknya kaktus pada umumnya.

Pada setiap tepian daun, terdapat lekukan-lekukan yang biasanya akan ditumbuhi tunas daun, maupun bunga. Diameter dari bunganya yang sedang merekah hanya sekitar 10 cm dan hanya akan merekah saat tengah malam saja. Kini keberadaan bunga wijaya kusuma cukup langka dan sulit untuk ditemukan. Karena kelangkaannya dan termasuk salah bunga yang unik karena hanya akan merekah pada tengah malam, bunga wijaya kusuma dimasukkan dalam jenis tumbuhan yang dilindungi dicagar alam.

Tak banyak yang tahu akan keindahan dari bunga Wijaya kusuma ini. Selain dari keunikannya, bunga ini juga beraroma harum yang bisa membuat tenang siapapun yang menghirupnya. Bunga yang banyak dengan cerita dan mitos ini, memang harus dilindungi karena bunga wijaya kusuma adalah bunga yang sudah sangat sulit untuk ditemui.

Bunga Eksotis Yang Sudah Mendunia

Bunga Anggrek Hitam Yang Semerbak Harumnya

Anggrek hitam yang bernama latin Coelogyne Pandurata merupakan jenis anggrek yang bisa tumbuh di Semenanjung Malaya, Kalimantan, dan Sumatera. Anggrek hitam menjadi maskot Flora Provinsi Kalimantan Timur yang saat ini mengalami penurunan jumlah habibat yang cukup besar. Hal ini dikarenakan semakin berkurangnya luas hutan di Kalimantan, serta banyaknya para kolektor Flora yang memburu Bunga Maskot Kalimantan Timur ini.

Bunga Anggrek hitam dapat dijumpai di cagar alam Kersik Luway yang berada di kampung Skolaq Darat, kecamatan Skolaq Darat Kabupaten Kutai Barat Provinsi Kalimantan Timur. Cagar alam ini berjarak sekitar 15 km dari kota Sendewar, dan anggrek hanya ada dalam jumlah sedikit yang berhasil di budi daya oleh Cagar Alam Kersik Luway.

Bunga ini cukup semerbak harumnya dan biasa mekar pada bulan Maret hingga Juni. Dinamakan Anggrek hitam karena lidah dari bunga ini berwarna hitam dengan bulu dan sedikit garis-garis berwarna hijau. Bunga unik ini termasuk dalam anggrek golongan “simpodial” dengan bentuk bulb membesar pada bagian bawah, serta bentuk daun yang menjulur diatasnya. Di setiap bulbnya hanya memiliki dua lembar daun saja, dan bentuk daunnya sendiri sekilas mirip seperti daun pada tunas kelapa muda.

Indonesia memiliki beragam Flora yang sangat luar biasa. Bunga Anggrek hitam ini sudah terkenal hingga kemanca negara, bahkan anggrek hitam sudah sangat mendunia di kalangan para pecinta Flora. Selain Provinsi Kalimantan Timur, Papua juga memiliki bunga Anggrek yang sudah dikenal diberbagai negara didunia.

Berbeda dengan Angrek Kalimantan, Anggrek Papua cukup ironis mengingat susahnya mengembangbiakkan bunga ini diluar habitatnya. Persentasi keberhasilan pengembangbiakan bunga anggrek hitam diluar Papua hanya 20 hingga 30%.

Selain Anggrek hitam, Indonesia memiliki lebih dari 6.000 jenis anggrek yang menjadikan Indonesia sebagai negara dengan spesies Anggrek terbanyak dan terlengkap di didunia. Selain Anggrek hitam yang sangat populer, ada Anggrek macan, Anggrek bulan, dan masih banyak macam nama, bentuk dan warna anggrek yang cantik di Indonesia.

Tanaman Karnivornia

Dionaea muscipula atau Venus Flytrap merupakan tanaman karnivora paling terkenal karena aktivitas dan efisiensinya yang tinggi dalam memerangkap mangsa. Perangkapnya terdapat pada sepasang daun bergigi yang memiliki rambut ultra sensitif.

Sepasangan daun tersebut dapat merasakan kehadiran hewan atau serangga kecil yang datang. Begitu rambut di sepasang daun yang bentuknya menyerupai gigi ini tersentuh, maka daun akan menutup dan memerangkap hewan apa pun yang mendekatinya.

Tanaman karnivora pada umumnya memang tumbuh di alam liar. Mereka tumbuh dengan membuat bagian tubuh mereka jadi perangkat untuk menangkap serangga guna menyerap nutrisinya. Beberapa tanaman karnivora mengeluarkan bau, bentuk, warna ataupun cara lainnya untuk memancing mangasanya.

Venus Flytrap hidup secara natural di daerah utara dan selatan Carolina. Tanaman ini memiliki daun yang berwarna hijau di daerah tangkap dan dekat capit penangkapnya. Pada bagian rahangnya biasanya berwarna merah di bagian dalam diikuti dengan gigi-giginya disepanjang bibirnya.

Para serangga sangat tertarik dengan warna dan bau nektar yang dihasilkan oleh Venus Flytrap. Ketika seranggap menghampiri dan hinggap di dalam rahang, seketika tanaman ini akan langsung menutup dengan kecepatan luar biasa dan membuat serangga terjebak.

Tanaman ini menghasilkan enzim yang dapat melunakkan tubuh serangga yang tercepit diantara daun yang bergigi, sehingga dapat dicerna. Setelah beberapa hari (tergantung ukuran serangga), tanaman ini akan terbuka kembali dan meninggalkan sisa-sisa kerangka yang sudah dicera.

Venus Flytrap sangat menyukai sinar, terutama sinar Matahari. Pada musim panas, tanaman ini akan berkembang dengan sangat pesat apabila disinari langsung dari sinar Matahari. Tingkat popularitas tanaman karnivora di Indonesia memang terbilang masih rendah. Kenapa bisa seperti itu?  Hal ini dikarenakan, kebanyakan orang masih menganggap bahwa merawat tanaman ini sulit dan berbahaya. Jadi, lebih baik kita harus tahu jenis-jenis tanaman tersebut dan apakah jenis tanaman tersebut mendukung untuk dibudidayakan di daerah pemukiman yang kita tempati. Sebenarnya masih banyak lagi jenis tanaman karnivora lainnya, namun jenis diatas merupakan jenis yang bisa dibudidayakan di Indonesia. Sisanya yang lain tidak disarankan karena alasan iklim yang tidak mendukung.