Kategori: Fauna Yang Dilindungi

Mamalia Besar Yang Saat Ini Populasinya Semakin Mengkhawatirkan

Gajah asia sering dikenal dengan nama Elephas Maximus adalah salah satu dari tiga spesies gajah yang masih hidup, dan menjadi satu-satunya dari genus Elephas yang masih hidup. Mamalia ini merupakah hewan darat terbesar di Asia. Gajah Asia sudah sejak lama yang masuk daftar satwa terancam punah, dikarenakan habitatnya yang terus berkurang karena pembakaran hutan, serta pemburuan liar yang ingin mengambil gadingnya untuk di perdagangkan.

Kini populasi gajah dialam liar sudah tersisa sekitar 41,410 hingga 52,345 ekor saja. Mamalia raksasa ini dapat hidup hingga usia 86 tahun dialam bebas. Gajah sudah banyak di adobsi dan telah digunakan dalam kegiatan kehutanan di Asia Selatan dan Tenggara selama berabad-abad guna bertujuan untuk acara-acara tertentu.

Dari sumber beberapa sejarawan, gajah sering kali digunakan selama musim panen, dalam kegiatan penggilingan. Namun hewan ini dialam liar, terkadang suka merusak tanaman yang akan dipanen, hingga memasuki perkampungan warga untuk merusak perkebunan. Hal ini disebabkan trauma dari sang gajah yang pernah lolos dari pemburuan manusia, sehingga hewan ini akan sangat liar jika melihat manusia.

Gajah Asia menyebar di kawasan padang rumput, hutan hijau tropis, hutan semi hijau,hutan gugur lembab, hutan gugur kering, dan hutan berduri kering. Selain itu, mereka juga dapat hidup dihutan tanaman, hutan sekunder, dan semak belukar. Bahkan beberapa dari tipe habitat, gajah ini bisa hidup di dataran tinggi mencapai ketinggian 3.000 m atau 9.800 ft diatas permukaan laut.

Mamalia besar ini merupakan satwa krepuskular, yaitu hewan yang aktif saat senja tiba. Mereka dikelompokkan sebagai hewan raksasa dan dapat mengkonsumsi sekitar 150 kg pakan perhari. Gajah adalah hewan pemakan segala tumbuhan, rumput, dan pohon sekaligus. Pernah tercatat ada 112 jenis tanaman berbeda yang dimakan oleh hewan besar ini. Hewan ini tidak dapat hidup jauh dari sumber air murni, karena ia akan minum setiap sehari sekali sebanyak 80 hingga 200 liter air.

Gajah kecil akan selalu bergabung dengan sang betina dewasa, dan gajah jantan akan memisahkan mereka saat sang anak menginjak masa remaja. Alat komunikasi gajah untuk berinteraksi dengan sesama, ia menggunakan infrasonik untuk dapat berkomunikasi. Serta gajah memiliki pendengaran yang cukup bagus, karena gajah mampu mengenal suara dengan amplitudo rendah.

Burung Bidadari Halmahera Si Burung Genit Yang Harus Dijaga

Burung yang mempunyai nama latin Semioptera wallacii adalah burung yang masih satu jenis dengan burung Cenderawasih. Burung yang berasal dari Maluku ini diberi nama Burung Bidadari. Seperti namanya, burung ini memiliki bulu yang sangat indah layaknya bidadari. Selain memiliki bulu yang indah, burung ini juga mempunyai gerakan semacam tarian yang indah. Gerak tarian yang terkesan genit itu ditujukan terutama saat merayu pasangannya.

Burung bidadari ini adalah fauna endemik Pulai Halmahera, Provinsi Maluku Utara. Ukuran tubuh burung ini cukup kecil, dan hanya berukuran sekitar 28 cm dan berwarna coklat zaitun. Burung bidadari jantan memiliki mahkota berwarna ungu dan ungu pucat mengkilat, serta warna pelindung dadanya hijau zamrud.

Ciri-ciri dari burung bidadari yang paling mencolok adalah, adanya bulu putih yang panjang serta keluar menekuk dari sayapnya yang dapat digerakkan tergantung dari si burung tersebut. Burung cantik yang betina memiliki warna bulu yang kurang menarik berwarna zaitun, ekor yang lebih panjang dan ukuran tubuhnya yang lebih kecil dari sang jantan.

Makanan jenis burung yang satu ini adalah serangga, dan buah-buahan. Poligami adalah sifat burung Halmahera ini, mereka akan berkumpul dan menampilkan tarian diudara. Kegenitan burung ini akan terlihat saat tiba musim kawin, dengan memamerkan bulu indahnya serta melakukan tarian untuk memikat sang betina. Sang betina akan datang menghampiri sang jantan yang gerak tarinya paling indah.

Populasi burung genit kini sudah menurun karena korban pemburuan liar, serta rusaknya beberapa habitat aslinya. Burung bidadari kini sudah aman karena sudah didaftarkan sebagai Apendiks II Pemerintah Indonesia dalam lampiran PP no. 7 tahun 1999. Burung ini termasuk dalam daftar satwa yang dilindungi, karena populasinya di alam bebas kiri hanya tercatat sekitar 50 hingga 100 ekor saja. Upaya yang harus dilakukan dengan konservasi insitut fauna burung bidadari endemik adalah melalui pendekatan sosial masyarakat dan berguna sebagai acuan untuk masyarakat setempat dalam upaya menjaga kelesatarian alam.

Badak Jawa Adalah Mamalia Terlangka Yang Masih Ada Di Dunia

Badak Bercula satu atau biasa disebut dengan badak jawa

Badak Jawa, atau Badak bercula satu adalah jenis mamlia besar yang masih ada didunia. Mamalia yang memiliki nama latin Rhinoceros Sondaicus merupakan keluarga dari lima badak yang masih ada didunia. Badak Jawa termasuk dalam jenis genus yang sama dengan Badak India dengan memiliki kulit bermosaik menyerupai baju baja.

Badak bercula satu memiliki panjang tubuh 3,1 hingga 3,2 meter dengan tinggi sekitar 1,4 hingga 1,7 meter. Yang membedakan badak jawa dengan badak india adalah ukurannya yang lebih kecil dari ukuran badak india. Cula dari badak jawa juga termasuk lebih kecil yaitu sekitar 20 cm saja, dan ukuran berikut adalah ukuran cula yang lebih kecil dibanding ukuran cula badak yang lain.

Meskipun badak bercula satu ini disebut juga dengan badak jawa, badak ini tidak hanya hidup di pulau jawa saja. Mamalia ini pernah menjadi salah satu badak di Asia yang paling banyak menyebar ke seluruh nusantara, yaitu sepanjang Asia Tenggara, India, dan Tiongkok. Badak jawa kini hanya tersisa sedikit di alam bebas, dan menjadi bagian hewan yang masuk dalam status kritis hampir punah.

Populasinya kini tengah berkurang akibat aktifitas manusia yang kini semakin banyak adanya pembangunan, hingga mempersempit habitat dari populasi badak jawa. Badak merupakan jenis mamalia terlangka didunia, dan kini populasinya tinggal 40 hingga 50 spesies yang masih hidup di Taman Nasional Ujung Kulon di pulau jawa Indonesia.

Berkurangnya populasi badak saat ini disebabkan maraknya pemburuan yang hanya diambil cula nya sebagai obat tradisional Tiongkok. Di alam liar, badak jawa dapat hidup hingga umur 30 hingga 45 tahun. Habitat asli dari badak jawa adalah di dataran rendah, dan padang rumput basah. Badak memiliki penciuman serta pendengaran yang baik layaknya badak jenis lainnya. Namun tidak bagus pada indera penglihatan.

Berat badan badak jawa dewasa, pernah tercatat antara 900 hingga 2.300 kg. Badak mempunyai kulit yang sedikit berdulu, memiliki warna abu-abu dengan warna coklat yang membungkus pundak, punggung, dan bagian pantat. Mamalia ini memiliki perisai yaitu dari kulitnya sendiri yang berbentuh mosaik alami. Pembungkus leher badak jawa lebih kecil dibanding dengan badak india, meskipun membentuk pelana pada pundak.

Badak jawa merupakan binatang yang tenang, terkecuali ketika sedang berkembang biak dan sedang mengasuh anaknya. Hewan berkulit seperti baja ini tidak mempunyai musuh alami selain manusia. Badak adalah hewan herbivora, terutama tunas dan ranting, dan jumlah makanan yang mampu dihabiskan mamalia ini sebanyak 50 kg makanan per hari. Hewan ini sudah aman dihabitat buatan yaitu Taman Nasional Ujung Kulon pulau jawa, yang telah memasukkan badak menjadi bagian dari hewan yang dilindungi oleh pemerintah.

Kucing Besar Sumatera Yang Saat ini Terancam Punah

Harimau Sumatera Yang Hampir Punah

Harimau Sumatera atau alam bahasa latin, Panthera Tigris Sondaica merupakan subspesies harimau yang habitat aslinya berada di pulau Sumatera. Harimau Sumatera adalah satu dari enam subspesies harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini, dan tercatat dalam satwa kritis yang terancam punah.

Tercatat dalam daftar merah satwa terancam yang dirilis oleh Lembaga Konservasi Dunia IUCN, bahwa Harimau Sumatera yang masih hidup di alam liar kini diperkirakan antara 400 hingga 500 ekor, dan terutama terdapat di taman-taman nasional di Sumatera. Teruji genetik telah mengungkapkan bahwa tanda-tnda genetik unik, yang menandakan bahwa Harimau Sumatera mungkin berkembang menjadi spesies terpisah bila berhasil dilestarikan.

Perusakkan hutan, pembururan liar, dan aktifitas-aktifitas manusia yang membuat kucing besar Sumatera ini semakin kritis berkurang. Begitu juga dengan pembalakan yang terus berlangsung, bahkan ditaman nasional yang seharusnya dilindungi. Dibukukan sekitar 66 ekor Harimau Sumatera sudah terbunuh dari tahun 1998 dan 2000.

Tingginya minat pembangunan, secara tidak langsung akan mempersempit habibat dari Hewan Endemi Sumatera ini. Harimau merupakan keturunan hewan pemangsa dari zaman purba yang dikenal sebagai Miacids. Kira-kira sekitar 70 sampai 65 juta tahun yang lalu, Miacids hidup pada akhir zaman Cretaceous yaitu semasa Dinosaurus di Asia Barat dan berkembang hingga saat ini.

Harimau Sumatera merupakan jenis Harimau yang berukuran paling kecil. Warna dan corak Harimau Sumatera terlihat lebih gelap dibandingkan dengan Harimau lainnya, hanya corak hitam yang agak sedikit melebar dan rapat. Harimau Sumatera jantan memiliki panjang tubuh 92 inci atau sekitar 250cm dari kepala hingga ekor, dengan berat mencapai 300 pound (140 kg). Untuk tinggi Harimau jantan bisa mencapai 60 cm.

Jenis Harimau betina hanya memiliki panjang rata-rata sekitar 198 cm dengan berat 91 kg. Warna dominan untuk Harimau Sumatera sendiri adalah warna yang paling gelap diantara Harimau-Harimau yang lain. Hewan ini mampu berenang dengan baik, dan dia akan menyudutkan mangsanya ke tepian air agar mudah untuk memangsanya.

Saat musim melahirkan, warna kulit Harimau akan berubah menjadi hijau gelap ketika melahirkan. Masa kehamilan Harimau Sumatera ini sekitar 103 hari, dan biasanya akan melahirkan dua hingga tiga ekor anak Harimau sekaligus. Harimau Sumatera dapat hidup dialam liar delama 15 tahun, dan mampu bertahan hingga umur 20 tahun di dalam penangkaran.

Kura-kura Leher Ular Ternyata Belum Masuk Perlindungan Satwa

Kura-kura Leher Ular Ternyata Belum Masuk Perlindungan Satwa

 

Kura-kura yang satu ini merupakan satwa yang cukup unik karena memiliki bentuk yang sedikit berbeda dengan kura-kura lainnya. Kura-kura yang bernama latin Chelodina Mccordi ini disebut juga dengan kura-kura leher ular. Disebut dengan leher ular karena leher sang kura-kura ini kebih oanjang dibandingkan dengan kura-kura pada umumnya. Bentuk leher yang panjang serta fleksibel merupakan ciri khas dari kura-kura ini.

Satwa unik ini hanya dapat kita temui di lahan basah Pulau Rote. Sebuah pulau kecil yang memiliki luas sekitar 98.854 hektar di ujung Selatan Indonesia, tepatnya di sebelah Barat Daya Pulau Timor yang berjarak sekitar 20 km. Wilayah Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT) inilah yang memiliki hewan bernama kura-kura leher panjang.

Tidak seperti kura-kura pada umumnya, hewan ini memiliki ukuran kecil, kepala menyerupai ular, dan sisi karapas (tempurung) yang melengkung ke atas. Dan leher kura-kura ini tidak dapat masuk kedalam tempurungnya seperti halnya kura-kura yang lain. Ya, hal ini dikarenakan lehernya yang panjang sehingga spesies ini tidak dapat menarik masuk kepalanya kedalam tempurung, dan dia hanya bisa melipat kesamping dibawah sisi tempurungnya jika merasa terancam.

Panjang lehernya bisa lebih panjang dari panjang tempurungnya sendiri yang berukuran 18 hingga 24cm dengan warna coklat keabu-abuan dan kemerah-merahan. Habitat asli dari kura-kura leher panjang ini adalah rawa, danau, dan sawah di Selatan Pulau Rote. Berkurangnya spesies jenis ini dikarenakan beberapa kolektor hewan reptil endemik Internasional, sehingga kini lebih banyak dijumpai di tempat penangkaran dibandingkan di habitat aslinya.

 

Pada tahun 1980 sudah ditetapkan oleh pemerintah atas tercatatnya kura-kura leher ular sebagai satwa yang dilindungi. Selain banyaknya pemburu liar yang ingin menjual bahkan mengkonsumsi dagingnya, hambatan yang dihadapi perkembangbiakan yaitu lamanya reproduksi yang harus menunggu hingga umur 6 tahun untuk dapat bertelur.

Hal lain yang membuat berkurangnya jumlah kura-kura leher panjang ini disebabkan sulitnya pakan yang sehat serta segar, sehingga seing kali ditemukan beberapa yang mati. Dua pertiga populasi kura-kura leher ular di Pulau Rote, kini hanya tersisa di area sempit seluas 70 km persegi di Pulau Rote. Meski begitu, menurut PP no. 7 tahun 1999 tentang pengawetan jenis Tumbuhan dan Satwa, Kura-kura leher ular belum tercatat didalamnya.

Minimnya Populasi Trenggiling Di Indonesia

Minimnya Populasi Trenggiling Di Indonesia

 

Trenggiling merupakan salah satu hewan yang juga menyusui, yang berasal dari Ordo Pholidota. Hewan ini disebut dengan hewan mamalia pemakan serangga yang mempunyai tubuh bersisik. Trenggiling merupakan hewan yang hanya hidup di daerah tropis yang banyak dijumpai di seluruh Asia dan Afrika. Ukuran tubuh mamalia ini bervariasi, yaitu dari 30 hingga 100 cm atau sekitar 12 hingga 39 inci.

Hewan bersisik ini biasanya akan melahirkan hanya satu anak saja dan lama kehamilannya hanya sekitar dua sampai tiga bulan lamanya. Musim kawin trenggiling jatuh pada bulan April hingga bulan Juni. Setelah melahirkan, sang anak akan selalu dijaga induknya selama tiga sampai empat bulan lamanya, dan sering kali sang induk membawa anaknya di atas ekornya,

Bagi orang-orang mentawai, trenggiling sering dikonsumsi karena menurut mereka, hewan ini adalah salah satu makanan yang banyak sumber proteinnya. Di Indonesia, trenggiling merupakan hewan yang masuk daftar hewan yang dilindungi karena berkurangnya populasi dialam bebas. Rusaknya habitat trenggiling dikarenakan aktivitas para penebangan liar dan pemburuan untuk diperdagangkan. Hewan nocturnal ini sangat terancam punah karena dari satu juta ekor telah diambil dari habitat aslinya sepanjang sepuluh tahun terakhir. Hewan bersisik yang akan melingkar saat terancam dari musuh ini memiliki lidah yang panjang dan lengket untuk menangkap serangga yang akan dimakan.

Trenggiling merupakan hewan yang tidak mempunyai gigi seperti mamalia pada umumnya. Dan dua puluh persen dari berat tubuhnya adalah sisik yang dijadikan perisai bagi trenggiling saat dirinya terancam. Di Indonesia mempunyai UU nomor 5 tahun 1990, tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Masih dalam hal perlindungan, trenggiling juga dilindungi pemerintah nomer 7 tahun 1999 Tentang pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. yang berarti bahwa trenggiling hewan yang dilindungi penuh dari segala bentuk perdagangan.

Meski demikian, masih banyak orang yang memburu hewan pemalu ini untuk dijual daging serta sisiknya ke luar negeri. Yang kerap terjadi dan mendorong untuk pemburuan trenggiling adalah pesanan daging serta sisiknya yang ingin dikonsumsi dengan alasan sebagai obat dan makanan sumber protein. Jika dibuktikan secara Farmakologi, trenggiling tidak memiliki khasiat obat apapun didalam daging maupun sisiknya. Namun, didalam dunia pengobatan sering kali tidak cuma membutuhkan senyawa yang mempunyai nilai kesehatan, tapi nilai sugesti yang kuat yang terjadi selama ini. Hal ini sudah mengganggu susunan keseimbangan ekosistem alam karena pemburuannya yang sangat tinggi.

Berkurangnya trenggiling dialam bebas, akan membuat populasi serangga seperti rayap dan semut menjadi tak terkendali karena tak ada hewan lain lagi yang akan memangsa serangga sosial ini.

Komodo Adalah Kadal Purba Yang Masih Ada Di Indonesia

Komodo Adalah Kadal Purba Yang Masih Ada Di Indonesia

 

Komodo adalah jenis kadal terbesar di dunia yang kini hidup di pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Dasami di Busa Tenggara. Komodo termasuk anggota keluarga dari Biawak, namun Komodo jenis ini termasuk hewan karnivora yang memiliki panjang tubuh rata-rata 2-3 meter. Kadal besar ini adalah yang laju metabolisme tubuhnya sangat kecil, namun gerakannya cukup gesit untuk mencari mangsa. Predator ini hidup di pulau kecil yang mendominasi ekosistem tempat hidupnya karena hampir tidak ada hewan karnivora selain Komodo di tempatnya.

Biawak besar ini kini dilindungi dibawah peraturan pemerintah Indonesia dan sebuah Taman Nasional yang bernama Taman Nasional Komodo untuk melindungi populasi mereka. Dengan ukuran tubuhnya yang besar serta reputasinya yang mengerikan, membuat mereka paling populer di taman marga satwa. Pemerintah memasukkan Komodo ke dalam daftar hewan yang dilindungi karena kini jumlah populasinya yang sudah menurun di alam bebas. Menyusutnya jumlah komodo disebabkan aktifitas manusia didalam hutan, serta pemburuan liar untuk diperdagangkan.

Predator besar ini mempunyai gigi yang bergerigi tajam dengan panjang 2,5 cm dan berjumlah sekitar 60 buah gigi yang sering berganti. Air liur kadal besar ini juga sering bercampur sedikit darah karena giginya hampir semua berlapis gusi, dimana jaringan ini akan terluka saat komodo makan. Predator ini juga memiliki ekor yang kuat yang memiliki panjang yang hampir sama dengan panjang tubuhnya sendiri. Ukuran tubuh komodo betina biasanya lebih kecil dari sang jantan dan warna kulit yang berwarna kehijauan seperti buah zaitun, serta memiliki potongan kuning kecil yang ada pada kulit tenggorokannya. Sedangkan untuk sang jantan, biasanya memiliki warna kulit dari abu-abu gelap sampai merah batu bata.

Komodo memiliki lidah yang panjang serta bercabang yang berwarna kuning, dan pada air liurnya memiliki bakteri yang cukup berbisa. Pada umumnya, komodo muda memiliki warna kulit dengan warna kuning, hijau, dan putih pada latar belakang hitam. Disebelah samping kepala komodo terdapat lubang kecil, namun indra pendengar komodo tidak begitu bagus. Untuk pandangan biawak besar ini mampu melihat dengan baik dijarak 300 meter, dan dapat membedakan warna. Sisi kekurangan dari mata komodo adalah, tidak dapat melihat dengan jelas saat malam hari, serta tidak dapat memberdakan objek yang tidak bergerak.Hak ini dikarena retinanya yang hanya memiliki sel kerucut.

Saat berjalan, komodo sering menjulurkan lidahnya karena lidahnya merupakan alat untuk mendeteksi rasa, dan mencium seperti reptil lainnya. Dengan menjulurkan lidahnya, komodo mampu mendeteksi keberadaan daging bangkai sejauh 4 sampai 9,5 kilometer. Komodo memiliki lubang hidung, namun tidak dapat berfungsi dengan baik untuk indra penciumannya, karena komodo tidak memiliki sekat rongga badan.

Hewan Endemis yang termasuk hewan purba, secara alami hanya terdapat di Indonesia yaitu dipulau komodo, Flores, Rinca, dan beberapa pulau lainnya di Nusa Tenggara. Untuk bertahan hidup, hewan ini akan mencari mangsa dengan cara bergerombol dengan kawanannya. Reptil ini juga mampu berlari dengan kecepatan 20 kilometer perjam pada jarak pendek. Hewan ini juga mampu berdiri dengan menggunakan kaki dan bantuan ekornya untuk tumpuan badannya, dan komodo pandai berenang hingga menyelam dengan kedalaman 4,5 meter.

Pada musim kawin, komodo bertarung dengan jantan yang lain untuk merebutkan sang betina. Musim kawin komodo biasanya terjadi antara bulan mei dan agustus, lalu mereka akan meletakkan telurnya pada bulan September. Sang betina akan meletakkan telurnya didalam lubang tanah, tebing, atau bekas sarang burung yang berjumlah 20 telur yang akan menetas setelah 7 sampai 8 bulan. Komodo yang baru lahir membutuhkan waktu tiga hingga lima tahun untuk menjadi komodo dewasa, dan komodo dapat hidup hingga umur lebih dari 50 tahun. Komodo adalah hewan yang pernah dijadikan logo pada uang 50 rupiah Indonesia, karena Komodo adalah hewan Endemis Indonesia bagian timur.

Kuskus Hewan Imut Yang Dilindungi

Kuskus Hewan Imut Yang Dilindungi

Kuskus adalah hewan mamalia berkantung yang aktif dimalam hari untuk mencari mangsa, yang masuk dalam keluarga Phalangeridae yang kini sudah sangat terbatas di Indonesia. Hewan nocturnal ini banyak ditemukan di Indonesia bagian timur seperti Sulawesi, Maluku, dan Papua Nugini.

Hewan mamalia ini memiliki ukuran tubuh yang tergolong mungil. Besar kuskus diketahui hanya berukuran 15cm sampai 60cm. Hewan dengan kuku yang panjang untuk tetap melakukan aktifitasnya diatas pohon, memiliki ukuran rata-rata sekitar 45cm. Kuskus memiliki bulu yang cukup tebal dan mempunyai warna yang bermcam-macam seperti coklat, hitam, dan putih kusam. Hewan omnivora ini lebih banyak menghabiskan waktunya untuk beraktifitas dipohon, dan juga memiliki ekor yang panjang serta kuat guna alat berpegangan saat berpindah dahan.

Sesekali kuskus makan anak burung, namun untuk seringnya hewan ini hanya memakan serangga dan buah-buahan. Hewan ini biasanya akan tidur disiang hari diatas pohon yang memiliki dedaunan lebat, dan akan bangun dimalam hari untuk berpindah pohon dan mencari makanan. Persebaran kuskus di Indonesia kini sangat sedikit, karen menjadi korban pemburuan untuk diperdagangkan.

Kuskus diperkirakan melakukan reproduksi sepnjang tahun. Masa kehamilan kuskus juga berlangsung sangat singkat, yaitu hanya beberapa minggu saja. Dan setelah melahirkan, Pada jenis betina akan melahirkan antara 2 sampai 4 anak kuskus. Meskipun kuskus dapat berkembang biak dengan sangat cepat, hewan yang tergolong hewan marsupilami (memiliki ekor panjang) kini sangat marak diburu para manusia-manusia yang tidak memikirkan populasi hewan yang langka dan hampir punah ini.

Sama halnya dengan hewan mamalia yang memiliki kantong diperutnya, anak kuskus akan masuk dan bertahan didalam kantong perut induknya hingga benar-benar sudah bisa mencari makanan sendiri. Biasanya anak kuskus akan keluar dari kantong induknya dan hanya satu anak yang akan masuk kedalam kantung induknya dan akan keluar setelah 6 samapai 7 bulan.

Dengan alasan yang termsuk hewan langka, kuskus dimasukkan kedalam daftar hewan yang dilindungi pemerintah melalui SK.Menteri Pertanian No. 247/KPTS/UM4/1979. Hewan yang terlihat imut, menggemaskan ini sepintas terlihat sama dengan hewan yang bernama kukang. Namun kedua hewan ini tidak sama, dan sangat berbesa. Kukang memang terlihat sama dengan kuskus, namun kukang sangat lamban untuk beraktifitas, setar hewan ini hewan pemalu.

Kuskus menggunakan ekornya sebagai senjata dan untuk alat bantu berpindahnya dari dahan satu ke dahan yang lain. Hewan yang termasuk dalam daftar hewan yang dilindungi ini adalah hewan endimik Sulawesi yang banyak sekali jenis dan bentuk yang berbeda, namun tetap masih tergolong hewan marsupilami kuskus.

Keindahan Burung Cendrawasih Asal Papua Nugini

Keindahan Burung Cendrawasih Asal Papua Nugini

 

Burungn Cendrawasih adalah jenis burung yang masih famili dengan Paradisaeidae yang berasal dari ordo Passeriformes, yang banyak djumpai di Indonesia Timur, Pulau-pulau selat Tores, Papua Nugini, dan Australia Timur. Burung Cendrawasih yang sering kita jumpai adalah jenis Cendrawasih kuning yang terdapat di Papua Nugini. Ukuran Burung ini sangat bervariasi mulai dari Cendrawasih Raja yang memiliki berat 50 gram, bisa panjng hingga 15cm, lalu Cendrawasih Paruh sabit hitam bisa mencapai panjang 110cm. Untuk Cendrawasih Manukod Jmbul bergulung, dapat memiliki berat hingga 430 gram.

Dahulu, masyarakat Papua sering memakai bulu Cendrawasih untuk menghias pakaian adat mereka, dan beberapa abad yang lalu, bulu Cendrawasih juga dipakai untuk hiasan topi wanita di Eropa. Untuk mendapatkan bulu Cendrawasih ini membuat para pemburu Cendrawasih untuk diambil bulunya, menyebabkan rusaknya habitat Burung Cendrawasih. Pemburuan liar tersebut membuat populasi Cendrawasih saat ini semakin berkurang, bahkan terancam punah.

Salah satu faktor utama perusaknya habitat Cendrawasih adalah penebangan liar yang terjadi di sekitar Papua. Hal ini yang menjadikan Cendrawasih berkurang untuk melakukan reproduksi. Pada abad 19 hingga awal abad 20 sekitar tahun 1997, pemburuan Burung Cendrawasih untuk dijadikan penghias topi di Eropa. Namun kini Burung-burung tersebut sudah dilindungi, dan hanya untuk keperluan perayaan suku setempat saja yang diperbolehkan untuk menangkap Burung Cendrawasih.

Burung Cendrawasih menjadi maskot Papua Nugini karena burung ini sangat sering kita jumpai di kota fak-fak Papua Nugini. Burung ini disebut juga dengan Burung Dari Surga (Bird Of Paradise), karena burung ini jarang sekali turun ke tanah karena sering hinggap di dahan atau ranting pohon. Selain itu, burung ini juga memiliki warna yang indah serta mencolok. Warna bulu dari Burung Cendrawasih kombinasi beberapa warma, antara warna hitam, cokelat, oranye, kuning, putih, biru, merah, hijau, dan ungu. Kemolekkan burung ini juga makin bertambah dengan bulunya yang memanjang.

Keindahan bulu yang dimiliki Burung Cendrawasih ini berjenis kelamin jantan, tidak dimiliki oleh sang betina yang mempunyai bulu tak seindah pejantan. Ukuran Cendrawasih betina pun cenderung lebih kecil dibanding sang jantan. Pada musim kawin, biasanya Cendrawasih jantan akan memperlihatkan gerakan-gerakan semacam tarian dan atraksi untuk memikat sang betina. Cendrawasih memiliki geraka-geraka-gerakan seperti tarian dengan memamerkan keindahan bulunya untuk memikat Cendrawasih betina dengan cara yang berbeda-beda.

Burung dari surga ini memiliki jenis dan warna bulu yang bermacam-macam. Burung Cendrawasih terdiri dari 13 genus dan ada sekitar 43 jenis, habitat aslinya yaitu dihutan lebat yang umumnya terletak didaerah dataran rendah. Burung yang indah ini hanya banyak ditemukan di Indonesia bagian timur, teruama Pulau-pulau selat Tore, Papua Nugini, dan Australia.

Indonesia adalah negara dengan jumlah jenis Cendrawasih terbanyak, dan terdapat sekitar 30 jenis Cendrawasih. 28 jenis terdapat di Papua Nugini, salah satunya yang mencaji maskot Papua Nugini yaitu Burung Cendrawasih mati kawat. Selain itu, seperti Burung Cendrawasih kuning kecil, Cendrawasih botak, Cendrawasih raja, Cendrawasih merah, dan Toowa sudah masuk dalam daftar jenis satwa atau fauna yang dilindungi berdasarkan UU no 5 tahun 1990 dan PP no 7 tahun 1999.

Bekantan Adalah Fauna Maskot Profinsi Kalimantan Selatan

Bekantan atau dalam nama ilmiahnya Nasalis larvatus adalah sejenis monyet berhidung besar serta panjang dengan bulu berwarna coklat kemerahan, dan merupakan satu dari dua spesies dalam genus tunggal monyet Nasalis.

Yang memberdakan antara bekantan dengan monuet adalah hidung bekantan lebih besar dan panjang yang hanya ditemukan di spesies jantan. Karena dari bentuk hidungnya yang seperti itu, monyet ini dikenal sebagai monyet Belanda yang berarti bakantan (dalam bahasa Brunei).

Tidak diketahui apa fungsi dari hidung bekantan yang besar dan panjang, Namun sang bekantan betina akan memilih bekantan jantan yang hidungnya besar untuk menjadi pasangannya. Bekantan jantan berukuran lebih besar dibandingkan dari betinanya, dan ukuran dari sang jantan bisa mencapai 75 cm dengan berat hingga 24 kg.

Untuk ukuran monyet biasa hanya 60 cm dengan berat 12 kg saja, berikut juga salah satu perbedaan antara bekantan dengan monyet. Bekantan juga memiliki perut yang buntcil karena kebiasaannya mengkonsumsi makanan seperti biji-bijian, dan buah-buahan.

Terkadang, bekantan juga memakan aneka dedaunan yang menghasilkan gas waktu dicerna. Sehingga hal ini yang mengakibatkan perut bekantan menjadi buncit.

Bekantan sering menghabiskan sebagian waktunya diatas pohon, dan hidup secara berkelompok antara 10 hingga 32 bekantan. Sistem sosial bekantan pada dasarnya adalah satu kelompok terdiri dari satu jantan dewasa (one-male group), dengan beberapa betina dan anak-anaknya.

Bekantan jantan yang sudah remaja akan keluar dari kelompok one-male, dan bergabung dengan kumpulan pejantan dewasa. Hal ini sebagai upaya untuk menghindari terjadinya inbreeding.

Populasi bekantan tersebar dan merupakan spesies endemik di hutan bakau, rawa, dam hutan pantai di Borneo (Kalimantan, sabang, Serawak dan Brunei). Spesies ini memiliki selaput yang ada di sela-sela jari, sehingga bekantan juga dapat berenang dengan baik serta dapat menyekam untuk beberapa detik.

Akibat menghilangnya habitat hutan dan penangkapan liar yang terus berlanjut serta terbatasnya daerah dan populasinya, bekantan dievaluasikan sebagai hewan fauna yang terancam punah di International Union for the Conservation of Nature (IUCN).

Lalu berdasarkan the Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), bekantan masuk dalam appendix I atau spesies yang terancam punah. Sangat menyayangkan jika Fauna Maskot Kalimantan Selatan ini harus punah.