Kategori: Fauna Yang Dilindungi

9 Fauna Indonesia Yang Dilindungi

Indonesia memiliki kekayaan yang terdiri dari kumpulan flora dan fauna terlengkap didunia. Berikut adalah beberapa jenis fauna yang menghuni dan tersebar di wilayah Indonesia.

Kasuari


Kasuari adalah salah satu genus burung di dalam suku Casuariidae. Burung kasuari terdiri dari tiga spesies yang memiliki ukuran sangat besar, namun burung ini tidak dapat terbang. Penyebaran spesies ini adalah daerah hutan tropis dan pegunungan di pulau Irian. Kasuari Gelambir Ganda merupakan satu-satunya jenis burung kasuari yang hanya terdapat di Australia.

Kasuari adalah burung pemangsa dihutan dalam, dan sangat pandai sekali untuk menghilang sebelum manusia bisa menemukan keberadaan mereka. Ukuran kasuari betina lebih besar dan mempunyai warna lebih cerah dibandingkan sang jantan. Burung ini bisa mencapai tinggi dari 1,5 hingga 1,8 meter, terkadang sang betina dapat mencapai tinggi hingga 2 meter dan memiliki berat hingga 58,5 kg.

 

Elang Jawa


Burung Elang Jawa atau dengan nama latin Nisaetus Bartelsi merupakan salah satu spesies elang yang memiliki ukuran tubuh sedang. Elang Jawa identik dengan lambang negara Republik Indonesia, yaitu Garuda. Dan sejak 1992, burung Elang Jawa ditetapkan sebagai maskot satwa langka Indonesia, serta hewan endemik di Pulau Jawa.

Keberadaan Elang jawa bisa dibilang sangat terbatas di Pulau Jawa, hanya ada dari ujung barat Taman Nasional Ujung Kulon hingga ujung timur di Semenanjung Blambangan Purwo. Penyebaran burung ini kini sangat terbatas di wilayah-wilayah dengan hutan primer dan di daerah perbukitan berhutan. Karena sebagian besar burung ini ditemukan dibelahan selatan Pulau Jawa, dan burung ini berspesialisasi pada wilayah berlereng.

 

Beruang Madu


Beruang madu atau Helarctos Malayanus adalah jenis beruang yang paling kecil dari delapan jenis beruang yang ada di dunia. Beruang madu merupakan fauna khas Bengkulu, dan beruang telah digunakan sebagai simbol dari Provinsi Bengkulu. Hewan ini juga menjadi maskot Kota Balikpapan, dan beruang madu di Balikpapan telah dilindungi disebuah hutan lindung yakni Hutan Lindung Sungai Wain.

Beruang adalah binatang omnivora yang bisa memakan apa saja yang ada dihutan. Mereka akan memakan aneka buah-buahan dan tanaman hutan hujan tropis, dan termasuk tunas tanaman jenis palem. Terkadang si beruang madu akan makan serangga, madu, burung, dan hewan kecil lainnya.

Beruang madu mempunyai peran yang sangat penting bagi penyebar tumbuhan buah berbiji. Pasalnya jika beruang makan buah, biji ditelan utuh sehingga tidak rusak. Dan setelah buang air besar, biji yang ada didalam kotoran tersebut akan keluar dengan bentuk yang sudah tumbuh.

 

Dugong


Dugong atau duyung adalah sejenis mamalia laut yang masih salah satu anggota Sirenia. Hewan mamalia ini mampu hidup dengan usia mencapai 22 sampai 25 tahun. Duyung bukan seokor ikan, karena hewan ini menyusui anaknya dan masih merupakan kerabat evplusi dari gajah. Dugong merupakan satu-satunya lembu laut yang dapat ditemukan dikawasan perairan sekitar 37 negara di wilayah Indo-Pasifik.

Habitat asli dugong meliputi daerah pesisir dangkal hingga dalam dengan suhu hangat minimum 15 sampai 17 derajad celcius. Duyung merupakan mamlia laut herbivora atau pemakan dedaunan. Dugong atau duyung sangat bergantung kepada rumput laut sebagai sumber pakannya, sehingga penyebaran hewan ini sangat terbatas pada kawasan pantai tempat hewan ini dilahirkan.

 

Gagak Banggai


Gagak Banggai adalah burung asli Indonesia yang berada di Sulawesi. Burung gagak banggai merupakan jenis burung dari keluarga burung gagak yang berada di Banggai. Pada tahun 2007, para ahli pernah menyatakan burung ini sudah punah karena keberadaannya yang sudah jarang ditemui.

Dalam beberapa waktu terakih di dalam sebuah ekspedisi ilmiah, pernah dijumpai burung gagak banggai untuk beberapa kali di Pulau Peleng. Kemudian untuk saat ini, IUCN telah mencatat burung Gagak Banggai sebagai satwa yang berstatus sangat terancam punah.

 

Rangkong Gading


Burung Enggang Gading atau Rangkong Gading adalah burung yang memiliki ukuran besar, dengan bentuk paruh yang berukuran besar. Burung ini termasuk burung purba yang masih hidup, dan memiliki nilai budaya yang sangat tinggi di Indonesia.

Di Indonesia, burung istimewa ini disebut sebagai petani hutan sejati. Hal ini disebabkan karena burung enggang merupakan burung pemakan buah yang tidak mencerna biji, dan menyebarkan biji tersebut melalui kotorannya. Burung-burung inilah yang menanam pohon secara alami di hutan lepas Indonesia.

Pulau Sumatera memiliki jumlah terbanyak dengan sembilan jenis burung rangkong, kemudian Kalimantan juga memiliki burung jenis ini dengan jumlah delapan jenis. Hutan Indonesia merupakan habitat nyaman bagi 13 jenis burung rangkong yang tersebar luas di hutan tropis, dan tiga diantaranya bersifat endemik.

 

Kanguru Pohon Mantel Emas


Kanguru pohon mantel emas adalah satwa marsupial atau mamalia yang memiliki kantung diperutnya seperti kanguru pada umumnya, dan kanguru tersebut merupakan kanguru pohon. Kanguru jenis ini merupakan hewan endemik Indonesia yang terdapat di Papua Nugini.

Mamalia bertubuh coklat muda ini biasanya akan memakan buah dan biji-bijian. Bulu halus berwarna coklat merupakan ciri khas dari kanguru ini. Hewan ini juga memiliki ekor yang panjang, serta terdapat motif lingkaran yang menyerupai cincin dengan warna bulu yang lebih cerah.

Hiu Gergaji Sentani


Ikan Hiu Gergaji merupakan ikan laut yang beradaptasi dengan perairan air tawar, yang terkenal dengan sebutan ikan hiu gergaji Sentani. Ciri khas ikan hiu jenis ini adalah memiliki moncong panjang seperti pedang, dengan deretan gergaji kecil yang tumbuh di sisi samping moncongnya.

Ikan endemik Danau Sentani Papua ini memakan udan kecil, dan ikan-ikan kecil yang ada disekitar habitatnya. Ikan hiu gergaji merupakan hewan ovovivipar, atau hewan yang berkembang biak dengan cara bertelur dan beranak. Hiu yang memiliki nama latin Pristis Microdon ini terkenal hingga ke mancanegara dengan sebutan Largetooth Sawfish, yang berarti ikan hiu bergigi besar.

 

Jalak Bali


Burung Jalak Bali adalah jenis burung pengicau berukuran sedang dengan panjang tubuh sekitar 25 cm. Jalak Bali hanya ada di hutan bagian barat Pulau Bali, dan merupakan Hewan Endemik Indonesia yang menghuni Pulau Bali. Burung ini sempat dinobatkan sebagai lambang fauna Provinsi Bali pada tahun 1991 silam.

Tidak semua para pecinta burung di Bali bisa memiliki burung yang unik ini. Hal ini karena burung Jalak Bali adalah burung istimewa, dan jenis satwa endemik yang memiliki keunikan yang tak akan ditemukain di tempat lain selain di Pulau Bali.

Tiga Satwa Langka Nyaris Punah

Satwa Endemik Indonesia yang kini sudah semakin berkurang

Indonesia sangat kaya dengan alamnya beserta isinya yang melimpah, dimana banyak terdapat aneka jenis fauna unik hingga endemik (hanya dimiliki Indonesia). Namun, akibat maraknya pemburuan hewan dan pembakaran hutan secara liar, banyak satwa Indonesia yang terus menurun jumlah populasinya dari tahun ke tahun.

Terlebih lagi ditambah faktor reproduksi satwa itu sendiri yang sangat rendah, membuat binatang tersebut menjadi langka bahkan hampir mendekati kepunahan. Hal ini akan menjadi masalah besar. Mengingat pentingnya satwa sebagai rantai makanan untuk keseimbangan alam, beberapa tahun kedepan Indonesia akan banyak kehilangan satwa endemiknya. Berikut ada 3 hewan langka Indonesia tersebut:

1. Harimau Sumatera


Indonesia mempunyai dua jenis harimau yang tidak dimiliki oleh negara lain. Binatang tersebut adalah Harimau Bali yang sudah dinyatakan punah sejak tahun 1937. Kemudian, Harimau Sumatera yang masih ada hingga sekarang dalam jumlah yang sudah sangat sedikit. Jumlah harimau Sumatra di Indonesia saat ini diperkirakan hanya berkisar 500 ekor dan menhuni pulau Sumatera saja.

2.Badak


Badak Sumatera atau badak bercula dua dan badak bercula satu dari Jawa (Badak Jawa) tergolong satwa yang sudah hampir punah di Indonesia. Dari data yang ada, jumlah Badak bercula dua kini hanya tersisa sekitar 300 ekor saja. Sedang Badak bercula satu lebih cenderung sangat kritis, karena jumlahnya tercatat sisa puluhan ekor saja. Karenanya, telah dibuat penangkaran khusus di Ujung Kulon Banten untuk melindungi populasi Badak bercula satu.

3.Orang Utan


Orang Utan Kalimantan dan Sumatera juga masuk dalam daftar satwa langka dilindungi yang di Indonesia. Dari segi fisik Orang Utan Sumatera ini berukuran lebih kecil dari Orang utan Kalimantan. Selainitu, dibandingkan dengan orang Utan Kalimantan, Orang utan Sumatera memiliki jumlah populasi lebih sedikit.

Burung Hitam Penghuni Pulau Peleng

Gagak Banggai adalah burung asli Indonesia yang berada di Sulawesi. Burung gagak banggai merupakan jenis burung dari keluarga burung gagak yang berada di Banggai. Pada tahun 2007, para ahli pernah menyatakan burung ini sudah punah karena keberadaannya yang sudah jarang ditemui.

Dalam beberapa waktu terakih di dalam sebuah ekspedisi ilmiah, pernah dijumpai burung gagak banggai untuk beberapa kali di Pulau Peleng. Kemudian untuk saat ini, IUCN telah mencatat burung Gagak Banggai sebagai satwa yang berstatus sangat terancam punah.

Burung hitam ini diketahui ada dua spesimen yang ditemukan di salah satu Kepulauan Banggai Sulawesi Tengah antara tahun 1884 hingga 1885. Setelah itu, burung tersebut tidak pernah dijumpai lagi hingga pada tahun 2008. Burung ini lebih dikenal dengan sebutan Burung Kuyak, dan satu-satunya burung gagak yang ternyata hanay ada di alam Kepulauan Banggai.

Ukuran tubuh gagak banggai tak seperti gagak biasanya, karena tubuhnya lebih kecil dari gagak pada umumnya. Gagak Banggai memiliki panjang tubuh sekitar 39 cm ini merupakan burung yang habitat aslinya berada di hutan dengan ketinggian hingga 900 mpdl.

Burung ini diketahui keberadaanya kini sudah semakin menurun, dan diperkirakan populasinya kini tinggal 30 hingga 200 ekor. Anda dapat menemukan burung endemik Sulawesi Tengah di bagian barat dan tengah Pulau Peleng yang memiliki luas sekitar 2.340 km², yang merupakan salah satu di Kepulauan Banggai.

Terkait dengan semakin mengecilnya populasi karena rusaknya habitat aslinya, burung gagak banggai hanya terdapat di dalam satu lokasi saja yaitu di Sulawesi Tengah. Serta burung ini adalah burung yang dilindungi oleh Peraturan Pemerintah karena burung ini adalah burung endemik Sulteng yang hampir punah. Kemudian IUCN telah mengevakuasi burung hitam ini menjadi salah satu dari 18 burung paling langka di Indonesia dengan status burung yang kiris dari kepunahan.

Lambatnya Reproduksi Orang Utan

Orang utan merupakan sejenis kera besar dengan lengan panjang dan memiliki bulu kemerahan atau cokelat yang hidup wilayah hutan tropika Indonesia, dan Malaysia. Satwa yang memiliki nama lain mawas ini lebih banyak ditemui di Kalimantan, dan Sumatera. Mereka mempunyai tubuh gemuk besar, berleher besar, serta lengan yang panjang dan kuat. Orang utan tidak mempunyai ekor, dan memiliki kaki yang lebih pendek dari tangannya.

Biasanya orang utan memiliki tnggi sekitar 1,25 hingga 1,5 meter, serta memiliki ukuran kepala yang besar dan mulut yang tinggi. Saat sudah menginjak dewasa, pelipis orang utan akan membesar pada kedua sisi, ubun-ubun tambah besar, serta sekitar wajah mereka akan tumbuh rambut halus dan rapat. Satwa ini memiliki indra yang sama seperti manusia, dari mulai pendengaran, peraba, pengecap, penciuman, dan penglihatan. Selain memiliki 5 indra yang sama dengan manusia, tangan orang utan juga memiliki struktur yang sama seperti manusia dengan lima jari yang terdiri dari empat jari panjang serta 1 ibu jari. Orang utan jantan bisa memiliki berat badan sekitar 50 sampai 90 kg, lalu betina akan lebih kecil dari sang jantan dan hanya memiliki berat tubuh sekitar 30 hingga 50 kg.

Dalam klasfikasi mamalia, kera besar ini memiliki ukuran otak yang sangat besar, mata yang mengarah kedepan, serta fungsi tangan yang dapat melakukan genggaman. Orang utan juga termasuk dalam spesies kera besar seperti Gorila, dan simpanse. Orang utan termasuk hewan vertebrata, yang artinya mereka memiliki tulang belakang. Selain itu, orang utan juga termasuk mamalia dan primata.

Ada dua jenis orang utan di Indonesia yang berbeda bentuknya. Kedua jenis tersebut berada di dua Provinsi yang berbeda yaitu Kalimantan dan Sumatera. Orang utan Kalimantan disebut dengan Borneo Pongo pygmaeus (nama latin), dan meruakan subspesies terbesar. Sedangkan orang utan Sumatera bernama Pongo abeii (nama latin) merupakan subspesies terkecil. Perbedaan spesies antara orang utan Kalimantan dan orang utan Sumatera sejak 1,1 hingga 2,3 juta tahun yang lalu.

Meskipun orang utan termasuk omnivora, sebagian dari mereka hanya memakan tumbuhan, persentasi menunjukkan sekitar 90% dari makanannya adalah terdiri dari buah-buahan. Lalu sisanya mereka akan makan kulit pohon, bunga, nektar, dan serangga. Orang utan dapat bergerak cepat dari satu pohon ke pohon yang lain dengan cara bergelantungan serta berayun untuk berpindah tempat. Habitat asli orang utan adalah hutan hujan tropis Asia Tenggara seperti Pulau Borneo, dan Sumatera di wilayah bagan negara Indonesia dan Malaysia. Seebenarnya orang utan dapat bertahan hidup di beberapa tipe hutan mulai dari kerung, perbukitan, dan dataran rendah di daerah aliran sungai sekalipun. Karena mereka akan tinggal dengan membuat sarang yang terdiri dari dedaunan.

Hampir seperti manusia, orang utan betina biasanya akan melahirakan di usia 7 hingga 10 tahun. Masa kandungan mereka juga mirip seperti manusia antara 8,5 hingga 9 bulan, dan biasanya akan melahirkan satu anak. Reproduksi orang utan sangatlah lambat karena mereka akan melahirkan seekor anak setiap 7 sampai 8 bulan sekali. Di alam liar, orang utan yang hidup hingga 45 tahun dan sepanjang hidupnya hanya akan memiliki tiga keturunan.

Mengingat reproduksi orang utan yang sangat lambat, populasi orang utan di Borneo saat ini diperkirakan sekitar 55.000 individu. Sedangkan di Sumatera jumlah orang utan diperkirakan sekitar 200 individu. Hal ini berarti orang utan sudah semakin menurun populasinya. Faktor serius yang mengancam populasi orang utan adalah manusia. Banyaknya pemburuan liar karena derasnya perdagangan membuat populasi orang utan semakin menurun. Mamalia ini merupakan satwa yang dilindungi Undang-undang no. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. IUCN juga sudah mengategorikan orang utan sebagai Critically Endangered, dan orang utan adalah hewan endemik Indonesia.

Duyung Yang Masih Tersisa Di Penangkaran

Duyung Yang Masih Tersisa Di Penangkaran

Dugong atau duyung adalah sejenis mamalia laut yang masih salah satu anggota Sirenia. Hewan mamalia ini mampu hidup dengan usia mencapai 22 sampai 25 tahun. Duyung bukan seokor ikan, karena hewan ini menyusui anaknya dan masih merupakan kerabat evplusi dari gajah. Dugong merupakan satu-satunya lembu laut yang dapat ditemukan dikawasan perairan sekitar 37 negara di wilayah Indo-Pasifik.

Habitat asli dugong meliputi daerah pesisir dangkal hingga dalam dengan suhu hangat minimum 15 sampai 17 derajad celcius. Duyung merupakan mamlia laut herbivora atau pemakan dedaunan. Dugong atau duyung sangat bergantung kepada rumput laut sebagai sumber pakannya, sehingga penyebaran hewan ini sangat terbatas pada kawasan pantai tempat hewan ini dilahirkan.

Satwa ini membutuhkan kawasan jelajah yang luas, perairan dangkal serta tenang seperti di kawasan teluk dan hutan bakau. Moncong hewan ini menghadap ke bawah, supaya mudah untuk menjamah rumput laut yang tumbuh di dasar perairan. Mamalia ini sangat sedikit di alam bebas karena dugong menjadi buruan manusia dari beribu-ribu tahun yang lalu karena daging dan minyaknya.

CITES melarang untuk perdagangan hewan ini, dan sudah mencatat ke daftar hewan yang dilindungi. Meskipun satwa ini sudah dilindungi dibeberapa negara, namun penurunan populasinya masih sangat cepat karena pembukaan lahan baru, kehilangan habitat serta kematian yang secara tidak langsung disebabkan oleh aktivitas nelayan dalam penangkapan ikan.

Di alam bebas, duyung bisa bertahan hidup hingga usia 70 tahun lebih. Salah satu faktor menurunnya populasi duyung adalah angka kelahiran yang rendah, sehingga mengancam turunnya populasi duyung. Terkait itu, duyung juga terancam punah akibatbadai, hewan pemangsa seperti hiu, parasit, paus pembunuh, dan buaya. Hingga kini masih sangat banyak pemburuan dugong dengan menggunakan alat-alat penangkap ikan, seperti jaring ingsang yang akan membuat duyung tidak dapat bergerak. Meskipun mamalia air ini sudah dilindungi, namun minimnya reproduksi dari hewan ini sendiri.

Ancaman Serius Sang Beruang Madu

Ancaman Serius Sang Beruang Madu

Beruang madu atau Helarctos Malayanus adalah jenis beruang yang paling kecil dari delapan jenis beruang yang ada di dunia. Beruang madu merupakan fauna khas Bengkulu, dan beruang telah digunakan sebagai simbol dari Provinsi Bengkulu. Hewan ini juga menjadi maskot Kota Balikpapan, dan beruang madu di Balikpapan telah dilindungi disebuah hutan lindung yakni Hutan Lindung Sungai Wain.

Beruang adalah binatang omnivora yang bisa memakan apa saja yang ada dihutan. Mereka akan memakan aneka buah-buahan dan tanaman hutan hujan tropis, dan termasuk tunas tanaman jenis palem. Terkadang si beruang madu akan makan serangga, madu, burung, dan hewan kecil lainnya. Beruang madu mempunyai peran yang sangat penting bagi penyebar tumbuhan buah berbiji. Pasalnya jika beruang makan buah, biji ditelan utuh sehingga tidak rusak. Dan setelah buang air besar, biji yang ada didalam kotoran tersebut akan keluar dengan bentuk yang sudah tumbuh.

Buah berbiji yang sering dimakan oleh beruang adalah buah cempedak, durian, dan lahung dan banyak buah berbiji yang ia makan. Beruang sering merusak lahan pertanian, menghancurkan pisang, dan tanaman dikebun jika wilayah beruang diganggu oleh manusia. Hal ini yang sering terjadi karena akibat aktivitas manusia, beruang sering kali merasa terganggu dengan itu.

Beruang madu merupakan hewan nokturnal, atau hewan yang aktif dimalam hari. Beruang jantan akan menghabiskan waktunya ditanah, dan memanjat dipohon untuk mencari makan. Sedangkan san betina dan beruang kecil, lebih banyak menghabiskan waktunya ditanah. Hewan ini umumnya adalah hewan yang bersifat soliter, mereka juga tidak hibernasi seperti beruang lainnya dikarenakan sumber pakan beruang madu tersedia sepanjang tahun.

Dalam satu hari, beruang madu mampu berjalan sejauh 8 km hanya untuk mencari makan. Panjang tubuhnya bisa mencapai 1,40 m dengan tinggi punggungnya 70 cm. Beruang madu memiliki berat tubuh sekitar 50 hingga 65 kg, warna bulu beruang hitam dan pendek. Matanya berwarna coklat atau biru. Hidung beruang madu juga tidak terlalu moncong seperti beruang lainnya, namun reltif lebar.

Beruang madu memiliki penciuman yang sangat tajam yang sangat membantu untuk mencari makanannya. Hewan ini tidak memiliki musim kawin, akan tetapi perkawinan akan dilakukan sewaktu-waktu terutama bila beruang madu betina telah siap kawin. Proses mengandung betina sekitar 95 hingga 96 hari. Dan akan yang dilahirkan biasanya hanya berjumlah dua ekor saja serta disusui selama 18 bulan.

Kini Beruang madu sudah dikategorikan sebagai binatang yang teranjam kelangsungan hidupnya. Ancaman serius dari beruang madu adalah pemburuan liar yang ingin mengambil empedu sang beruang demi memenuhi kebutuhan pasar pengobatan tradisional. Hewan ini sudah terdaftar sebagai satwa yang telah dilindungi, karena habitat aslinya kini semakin berkurang.

Burung Elang Jawa Merupakan Maskot Pulau Jawa Yang Akan Hilang

Burung Elang Jawa atau dengan nama latin Nisaetus Bartelsi merupakan salah satu spesies elang yang memiliki ukuran tubuh sedang. Elang Jawa identik dengan lambang negara Republik Indonesia, yaitu Garuda. Dan sejak 1992, burung Elang Jawa ditetapkan sebagai maskot satwa langka Indonesia, serta hewan endemik di Pulau Jawa.

Ketika terbang, elang jawa akan terlihat seperti elang brontok dengan bentuk terang, namun cenderung akan tampak lebih kecoklatan dengan bulu perut yang terlihat lebih gelap, dan berukuran lebih kecil dari elang brontok. Elang Jawa memiliki iris mata kuning atau kecoklatan dengan paruh kehitaman dan kekuningan, sedikit daging dipangkal paruh. Elang dilengkapi kaki yang kuat dengan warna kekuningan, kepala berwarna coklat kemerahan, dan terdapat jambul yang menonjol hingga 12 cm dikepala. Warna tenguk elang jawa yaitu coklat kekuningan, namun akan terlihat keemasan jika terkena sinar matahari. Elang memiliki tubuh sedang, langsing, dengan panjang tubuh antara 60 sampai 70 cm (daru ujung paruh hingga ekor).

Burung elang jawa muda memiliki kepala dan leher berwarna coklat kayu manis terang tanpa coretan atau garis-garis. Disisi bawah tubuh juga serupa dengan warna kepala serta leher, berwarna coklat terang tanpa corak. Burung ini akan mencari mangsa dari jarak yang cukup tinggi, dan mata burung elang ini tidak bisa diragukan lagi.

Memiliki suara yang nyaring tinggi, serta akan berulang dengan satu hingga tiga suara dengan suku kata yang berbeda. Suara burung elang jawa hampir mirip dengan suara elang brontok, namun akan terdengar berbeda dari nada yang dikeluarkan. Elang jawa banyak memiliki kemiripan dengan elang brontok, namun jika kita amati dengan seksama maka akan terlihat sangat jelas dari bentuk, warna, suara, dan masih banyak perbedaan meski terlihat mirip.

Keberadaan Elang jawa bisa dibilang sangat terbatas di Pulau Jawa, hanya ada dari ujung barat Taman Nasional Ujung Kulon hingga ujung timur di Semenanjung Blambangan Purwo. Penyebaran burung ini kini sangat terbatas di wilayah-wilayah dengan hutan primer dan di daerah perbukitan berhutan. Karena sebagian besar burung ini ditemukan dibelahan selatan Pulau Jawa, dan burung ini berspesialisasi pada wilayah berlereng.

Pada umumnya habitat burung elang jawa sukar untuk dicapai, karena elang jawa menyukai daratan tinggi yang bisa mencapai hingga 2.200 m, bahkan hingga mencapai 3.000 mdpl. Elang jawa menyukai ekosistem hutan tropika yang selalu hijau, dari dataran rendah hingga dataran tinggi seperti pegunungan dan hutan yang sangat luas.

Burung karnivora ini akan bertelur mulai dari bulan Januari hingga Juni, dan akan bertelur di sarang yang terbuat dari tumpukan ranting berdaun yang disusun tinggi sekitar 20 hingga 30 diatas tanah. Burung ini akan bertelur sebanyak satu butir, dan akan dierami selama 47 hari. Sarang dari elang jawa merupakan pohon-pohon yang tinggi seperti pohon rasmala, pohon pasang, dan sejenisnya pohon tinggi didalam hutan. Mengingat kecilnya populasi elang jawa, Konservasi Dunia IUCN memasukkan elang jawa ke dalam daftar satwa yang terancam punah. Pemerintah Indonesia juga menetapkan sebagai hewan yang dilindungi oleh Undang-Undang yang berlaku.

Burng Nuri Bayan Menjadi Sasaran Terlaris Pemburu Liar

Burung nuri bayan masuk dalam perlindungan UU RI no.5 tahun 1990 tentang konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya

Burung Nuri atau Bayan yang memiliki nama latin Eclectus Roratus adalah burung yang memiliki ukuran tubuh sedang, dengan panjang sekitar 43 cm. Burung ini merupakan salah satu genus burung paruh bengkok (Eclectus), namun sangat berbeda dengan burung paruh bengkok lainnya. Pada awal para ahli burung di Eropa mengira bahwa Nuri Bayan jantan dan betina adalah dua spesies yang berbeda. Hal ini disebabkan karena perbedaan warna bulu yang sangat mencolok diantara sang jatan dan betinanya.

Burung Nuri Bayan jantan memiliki warna bulu hijau serta pada bagian bawah sayap dan sisi dadanya berwarna merah dan biru. Lalu di bagian punggung berwana biru keungu-unguan, dengan warna paruh hitam. Sementara pada betina juga memiliki warna yang sama, hanya saja perbedaan pada ukuran tubuh yang lebih kecil dibandingkan sang jantan.

Burung ini sering ditemukan besarang di dalam lubang pohon, dan makanan burung Nuri Bayan adalah aneka buah-buahan, kacang, biji-bijian, dan kacang. Untuk masa reproduksi, burung Nuri Bayan tidak dapat memproduksi telur dengan jumlah banyak. Saat musim bertelur, biasanya sang betina hanya akan menetaskan dua butir telur berwarna putih.

Jenis burung Nuri Bayan banyak tersebar di Indonesia, dan habitat aslinya berada di dataran rendah seperti savana, hutan bakau, dan perkebunan kelapa yang ada di Maluku, Kepulauan Sunda Kecil, Irian, Australia, dan Papua Nugini. Diperkirakan ada sekitar sembilan spesies burung nuri yang masih ada di alam liar yang tersebar di pulau-pulau tersebut.

Saat ini tercatat masih banyak ditemukan burung nuri bayan di beberapa hutan bebas. Namun kabarnya kini sudah semakin berkurang, karena pemburuan liar untuk diperdagangkan. Hal ini menjadi salah satu ancaman serius pada burung nuri bayan, sehingga burung tersebut sudah dievaluasikan dalam IUCN Red List

Hewan ini sudah masuk dalam perlindungan UU RI no.5 tahun 1990 tentang konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Serta burung ini sudah dimasukkan sebagai daftar lampiran pada Peraturan Pemerintah no 7 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa liar.

Burung Irian Yang Pandai Berenang

Burung Kasuari Merupakan Burung Yang Memiliki Cakar Besar Yang Pandai Berenang

Casuarius atau sering desebut dengan kasuari adalah salah satu genus burung di dalam suku Casuariidae. Burung kasuari terdiri dari tiga spesies yang memiliki ukuran sangat besar, namun burung ini tidak dapat terbang. Penyebaran spesies ini adalah daerah hutan tropis dan pegunungan di pulau Irian. Kasuari Gelambir Ganda merupakan satu-satunya jenis burung kasuari yang hanya terdapat di Australia.

Kasuari memiliki tanduk yang bentuknya seperti jengger ayam, yang berfungsi sewaktu berjalan di habitat aslinya Hutan yang lebat. Lain dari pada tanduk, Kasuari juga memiliki kaki yang sangat kuat serta berkuku tajam. Burung kasuari betina biasanya memiliki ukuran kaki yang lebih besar dibanding sang jantan dan memiliki warna kaki yang lebih terang dari pada jantan.

Semua jenis kasuari adalah burung pemangsa dihutan dalam, dan sangat pandai sekali untuk menghilang sebelum manusia bisa menemukan keberadaan mereka. Ukuran kasuari betina lebih besar dan mempunyai warna lebih cerah dibandingkan sang jantan. Burung ini bisa mencapai tinggi dari 1,5 hingga 1,8 meter, terkadang sang betina dapat mencapai tinggi hingga 2 meter dan memiliki berat hingga 58,5 kg.

Semua burung kasuaru memiliki bulu yang terdiri dari poros dan barbules yang longgar, dan burung ini tidak memiliki bulu ekor. Bulu yang menyerupai rambut ini berfungsi saat si burung berlari diantar semak-semak yang banyak terdapat duri yang dapat melukai tubuhnya. Ini adalah salah satu cara untuk beradaptasi dengan wilayah serta menangkal tanaman merambat dan daun bergerigi.

Burung besar ini menggunakan kakainya sebagai senjata, yang dilengkapi dengan cakar yang sangat tajam di setiap jarinya. Cakar yang dimiliki sangat berbahaya, karena burung kasuari akan menendang hewan atau manusia jika merasa dirinya terancam. Burung ini dapat berjalan hingga 50 km/jam atau sekitar 31 mph melalui hutan lebat, dan dapat meloncat setinggi 1,5 meter. Burung kasuari juga hewan yang pandai berenang dengan menyebrangi sungai luas.

Spesies ini diduga menurun secara cepat secara keseluruhan, dan mengalami penurunan yang cepat di Australia selama tiga generasi terakhir. Kini sudah dibulatkan berjumlah sekitar 6.000 hingga 15.000 individu dewasa.  Dan kini burung kasuari telah masuk sebagai hewan yang dilindungi oleh pemerintah.

Aligator Sang Raja Sungai

Aligator Sang Raja Sungai Yang Kini Telah Dilindungi

Buaya merupakan reptil bertubuh besar yang hidup di di air. Secara ilmiah, buaya meliputi seluruh jenis anggota suku Crocodylidae. Walau demikian, buaya dapat dikenalkan secara global untuk menyebut aligator, kaiman, dan gavial adalah kerabat dari buaya yang berlainan suku. Pada umumnya, buaya menghuni habitat perairan tawar seperti sungai, danau, rawa dan lahan basah lainnya. Buaya Di Indonesia kini sudah masuk didalam Taman Satwa karena populasi buaya di alam bebas sudah sangat sedikit.

Namun ada juga yang hidup di air payau (campuran air laut dan air tawar) seperti buaya muara. Mangsa utama dari buaya adalah hewan yang bertulang belakang seperti ikan, reptil, dan mamalia lainnya, karena buaya sejatinya adalah hewan karnivora. Buaya adalah hewan purba yang hanya sedikit berubah dikarenakan evolusi semenjak zaman dinosaurus.

Didalam bahasa Inggris, buaya dikenal dengan sebutan Crocodile. Hal ini berasal dari seorang Yunani yang meperhatikan buaya yang mereka saksikan di Sungai Nill. Selain dari bentuknya yang purba, sesungguhnya buaya adalah hewan melata yang kompleks. Tak sama layaknya seekor reptil, buaya memiliki empat ruang pada jantungnya, dan sekat rongga badang (diafragma) dan Serebral cortex.

Selain itu, bentuk dan struktur luar dari buaya memperlihatkan dengan jelas cara hidup pemangsa yang sangat enerjik. Tubuh yang sejajar lurus dengan ekor yang kuat, memungkinkannya untuk berenang dengan cepat. Terdapat selaput pada jari-jari belakangnya yang sangat membantu ketika buaya ingin melakukan pergerakaan tiba-tiba didalam air.

Buaya merupakan hewan yang dapat hidup didua alam, yaitu di darat dan air. Namun sering kali buaya akan menghabiskan waktunya di dalam air, dan ia akan ke darat saat ingin berjemur. Pergerakan buaya sangat cepat sekali untuk menangkap mangsanya di air maupun didarat. Aligator ini juga memiliki rahang yang sangat kuat yang dapat menggigit dengan kekuatan yang sangat luar biasa, menjadikannya hewan dengan kekuatan gigitan yang paling besar.

Hewan pemangsa ini dilengkapi dengan gigi-gigi yang sangat runcing yang berfungsi untuk menerkam erat mangsanya dan menariknya untuk dibawa kedalam air sebelum memangsanya. Otot-otot pada rahang buaya berkembang dengan sangat baik, sehingga gigitan buaya amat cepat dan kuat. Mulut buaya yang sudah menggigit mangsanya, akan sulit untuk dibuka kembali. Hal ini karena kinerja otot pada rahang buaya yang berfungsi dengan sangat baik.

Kuku yang ada pada jari-jari buaya juga berfungsi sangat kuat, namun buaya tidak akan bisa menerkam mangsanya dari sisi samping buaya dan dari belakang. Hal itu akan menyulitkan buaya karena leher buaya sangat kaku sehingga tidak memungkinkan untuk menyerang dari samping dan belakang.

Buaya akan memangsa burung, ikan, mamalia. Tak jarang buaya akan memangsa buaya kecil atau bangkai buaya. Namun ia tak akan memangsa burung cerek mesir yang dikenal memiliki hubungan simbiotik dengan buaya. Saat buaya berjemur didarat, ia akan membuka mulutnya dengan waktu yang cukup lama.

Pada saat itulah para burung-burung cerek mesir ini yang akan membersihkan sisa daging yang ada di dalam mulut buaya yang penuh dengan gigi. Terkain dengan burung cerek mesir, buaya tidak akan memangsa burung tersebut karena jasanya sang burung sudah membersihkan gigi sang raja sungai.

Pada musim kawin dan bertelur, sang raja sungai bisa menjadi sangat agresif dan akan mudah menyerang hewan, bahkan manusia yang mendekatinya. Telur-telur buaya biasanya akan dikubur bibawah gundukan pasir atau tanah yang bercampur dengan serasah dedaunan, dan sang induk akan menjaga telurnya dari jarak sekitar 2 meter dengan masa pengeraman 80 hari.